Mendiktisaintek Tekankan Hilirisasi Riset dan Inovasi Perguruan Tinggi
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan komitmen kementeriannya untuk mendorong hilirisasi hasil riset di lingkungan perguruan tinggi. Penegasan itu...
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan komitmen kementeriannya untuk mendorong hilirisasi hasil riset di lingkungan perguruan tinggi. Penegasan itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pendidikan Tinggi dan Sains yang berlangsung di Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Jakarta, pada Kamis, 20 Maret 2025. Rapat yang dihadiri oleh para rektor dari 126 perguruan tinggi negeri dan swasta itu membahas langkah strategis penerjemahan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai kedaulatan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam paparannya, Brian Yuliarto menyatakan bahwa seluruh unit kerja di bawah kementerian harus menindaklanjuti kebijakan pemerintah dengan memperkuat sinergi antara kampus, dunia industri, dan lembaga penelitian. “Saya minta setiap perguruan tinggi segera memetakan riset unggulannya. Kita tidak bisa lagi bekerja secara parsial. Harus ada kolaborasi yang menghasilkan produk nyata, bukan sekadar publikasi,” ujar Brian Yuliarto yang meraih gelar doktor dari University of Tokyo itu. Rapat koordinasi tersebut juga menetapkan sejumlah program prioritas yang akan dijalankan sepanjang tahun 2025, termasuk percepatan pembentukan 10 pusat riset bersama antara perguruan tinggi dan industri strategis nasional.
Prioritas pada Sektor Pangan dan Energi
Mendiktisaintek memfokuskan tahap awal hilirisasi pada dua sektor utama, yakni ketahanan pangan dan energi terbarukan. Keputusan ini tertuang dalam Nota Dinas Nomor 017/M/KPT/III/2025 yang diterbitkan pada 19 Maret 2025, satu hari sebelum rapat digelar. Dokumen tersebut menginstruksikan kepada seluruh direktur jenderal untuk menyusun peta jalan implementasi yang terukur, dengan indikator kinerja yang meliputi jumlah produk riset yang dikomersialkan, jumlah paten yang didaftarkan, serta nilai investasi yang masuk ke kawasan sains dan teknologi di setiap provinsi.
“Sektor pangan dan energi adalah fondasi kedaulatan bangsa. Jika perguruan tinggi mampu menghasilkan inovasi di dua sektor ini, maka kemandirian nasional akan semakin kokoh,” kata Brian Yuliarto. Ia mencontohkan keberhasilan Universitas Gadjah Mada dalam mengembangkan varietas padi unggul tahan iklim ekstrem yang kini telah diadopsi petani di 12 kabupaten. Ke depan, model serupa akan direplikasi di wilayah Indonesia timur dengan melibatkan Universitas Hasanuddin dan Universitas Pattimura sebagai motor penggerak riset berbasis kawasan.
Penguatan Ekosistem Pendanaan dan Regulasi
Salah satu hambatan yang diidentifikasi dalam rapat adalah lemahnya ekosistem pendanaan riset jangka panjang. Menanggapi hal itu, Brian Yuliarto mengumumkan bahwa kementerian telah menandatangani nota kesepahaman dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk membuka akses pembiayaan bagi usaha rintisan berbasis riset kampus. “Kami sudah meneken kerja sama dengan Danantara. Skema pendanaan baru ini akan diluncurkan pada triwulan ketiga 2025, dengan target awal membiayai 50 perusahaan spin-off dari kampus,” ungkapnya. Program ini, menurut Brian, merupakan jawaban atas keresahan para peneliti yang kerap kesulitan mendapatkan modal untuk membawa temuan mereka ke pasar.
Di sisi regulasi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tengah menyiapkan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi. Revisi tersebut akan memberikan keleluasaan lebih besar bagi dosen untuk mendirikan badan usaha berbasis riset tanpa kehilangan status kepegawaiannya. Brian Yuliarto menyebut bahwa draf revisi telah memasuki tahap harmonisasi di Kementerian Hukum dan akan disahkan sebelum akhir tahun. “Ini adalah langkah berani. Kita ingin menciptakan budaya wirausaha di kampus, bukan hanya budaya birokrasi,” tegasnya.
Respons dan Komitmen Pimpinan Kampus
Sejumlah rektor yang hadir menyambut positif arahan Mendiktisaintek. Rektor Institut Teknologi Bandung, yang hadir secara langsung, menyampaikan komitmennya untuk mengintegrasikan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka dengan skema magang riset di industri mitra. Sementara itu, Rektor Universitas Indonesia menekankan perlunya percepatan pembentukan lembaga pengelola kekayaan intelektual yang profesional di setiap kampus. “Kami sudah memiliki 347 paten yang siap dikomersialkan. Dengan dukungan kementerian, kami optimistis dapat melipatgandakan angka itu dalam dua tahun,” ujar Rektor UI.
Rapat koordinasi yang berlangsung selama lebih dari empat jam itu juga menyepakati pembentukan gugus tugas bersama yang terdiri atas perwakilan kementerian, perguruan tinggi, dan asosiasi industri. Gugus tugas tersebut diberi mandat untuk melaporkan perkembangan hilirisasi setiap tiga bulan kepada Mendiktisaintek. Brian Yuliarto menutup rapat dengan pesan singkat namun tegas: “Eksekusi, eksekusi, eksekusi. Saya tidak ingin lagi mendengar rencana tanpa aksi. Waktu kita tidak banyak, dan bangsa ini menunggu hasil kerja kita semua.”
Comments (0)