Megawati: Semangat Asia Afrika Masih Relevan di Tengah Geopolitik Global
Jakarta, 27 Oktober 2023 – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri membuka langsung seminar nasional bertajuk “Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” di Sekolah...
Jakarta, 27 Oktober 2023 – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri membuka langsung seminar nasional bertajuk “Relevansi Gerakan Asia Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini” di Sekolah Partai DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat pagi. Dalam pemaparannya, Presiden ke-5 Republik Indonesia itu menegaskan bahwa prinsip Dasasila Bandung yang lahir dari Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 tetap menjadi fondasi penting dalam merespons berbagai konflik dan persaingan kekuatan besar dunia.
Mengenakan kebaya merah, Megawati berbicara selama kurang lebih 45 menit di hadapan ratusan peserta yang terdiri atas kader partai, akademisi, peneliti, serta perwakilan komunitas internasional. “Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina, ketegangan di Laut China Selatan, krisis pangan dan energi, serta rivalitas ekonomi antara Amerika dan China, semuanya menunjukkan bahwa tatanan global sedang diguncang,” ujarnya membuka paparan.
Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan penguatan ideologi partai yang digelar rutin di Sekolah Partai. Hadir pula jajaran pengurus DPP PDIP, di antaranya Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto, Ketua DPP Djarot Saiful Hidayat, serta sejumlah menteri dan kepala daerah dari PDIP yang sengaja diundang sebagai pembicara dan peserta diskusi.
Menggugah Kembali Semangat Bandung
Dalam pidatonya, Megawati berkali-kali menekankan bahwa Indonesia sebagai salah satu negara penggagas KAA memiliki tanggung jawab moral untuk terus menghidupkan semangat non-blok dan anti-kolonialime. “Saat itu, para pemimpin dari 29 negara Asia dan Afrika berkumpul di Bandung untuk menyatakan bahwa kami tidak ingin menjadi objek dalam permainan negara-negara besar. Hari ini, situasinya mungkin berbeda, tetapi esensi ancaman serupa: kedaulatan negara-negara berkembang kembali dipertaruhkan,” tegasnya.
Megawati menyoroti bagaimana negara berkembang kerap terperangkap dalam pusaran geopolitik yang memaksa mereka memihak. Padahal menurutnya, spirit Bandung justru menolak politik kubu. “Gerakan Non-Blok bukan berarti pasif. Kami aktif memperjuangkan perdamaian, keadilan ekonomi internasional, dan penghormatan terhadap kedaulatan setiap bangsa. Prinsip itu tidak lekang oleh zaman,” kata Megawati yang disambut tepuk tangan hadirin.
Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Indonesia Evi Fitriani yang menjadi narasumber utama seminar menguatkan pernyataan Megawati dengan paparan akademis mengenai potensi revitalisasi Gerakan Asia Afrika. Menurut data yang dipresentasikannya, pada tahun 2023 terdapat lebih dari 30 konflik bersenjata aktif di dunia dan puluhan negara berkembang mengalami tekanan ekonomi akibat perang dagang dan kenaikan suku bunga global.
Tantangan Geopolitik Kontemporer
Seminar ini juga membahas kerangka geopolitik kontemporer yang dinilai semakin kompleks. Megawati menguraikan bahwa rivalitas Amerika Serikat dan China telah bergeser dari sekadar perang dagang menjadi kontestasi teknologi, kontrol atas rantai pasok mineral kritis, hingga dominasi di kawasan Indo-Pasifik. “Ironisnya, di tengah kompetisi itu, konflik seperti di Ukraina justru menjadi ajang proxy yang mematikan. Kita harus berani mengatakan bahwa semua pihak harus kembali ke meja perundingan dan menghormati Piagam PBB,” cetusnya.
Megawati secara khusus menyinggung pentingnya solidaritas negara-negara Asia Afrika dalam menghadapi krisis pangan global. Dikutipnya data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang menyebut lebih dari 820 juta orang di dunia mengalami kelaparan kronis pada 2023, dengan mayoritas berada di negara-negara berkembang. “Bayangkan, di tengah kemajuan iptek, lebih dari 800 juta saudara-saudara kita masih tidur dalam lapar. Bukankah ini kegagalan tatanan ekonomi global yang tidak adil?” kritiknya.
Ketua Umum PDIP itu juga menyinggung soal perubahan iklim sebagai ancaman eksistensial yang memukul negara-negara selatan secara tidak proporsional. Ia menyebut tenggelamnya sebagian wilayah pesisir, gagal panen, dan bencana hidrometeorologi ekstrem adalah realitas yang harus dijawab oleh solidaritas global model Bandung. “Kita tidak bisa hanya berharap pada negara-negara maju yang justru paling besar menyumbang emisi. Gerakan Asia Afrika harus menjadi motor penggerak keadilan iklim,” tandasnya.
Peran Indonesia sebagai Jembatan Perdamaian
Pada bagian akhir seminar, Megawati mengajak seluruh peserta, khususnya para kader partai, untuk mengambil pelajaran dari sejarah diplomasi Indonesia yang dipelopori Bung Karno. “Presiden Soekarno pada tahun 1955 berani memanggungkan solidaritas lintas bangsa yang berbeda ideologi, sistem politik, dan tingkat ekonomi. Indonesia hari ini harus kembali memainkan peran itu: menjadi jembatan, bukan tembok pemisah,” ujarnya penuh semangat.
Ia mencontohkan peran Indonesia dalam G20 pada 2022 yang berhasil menjembatani perbedaan tajam antara kelompok negara G7, Rusia, dan China. “Tahun lalu, kita menjadi tuan rumah di tengah perang. Itu bukti bahwa Indonesia dipercaya. Kepercayaan ini harus kita jaga dan perluas melalui platform Gerakan Asia Afrika yang lebih inklusif,” papar Megawati.
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto yang turut memberikan pengantar seminar menyebut bahwa partainya akan mendorong pemerintah untuk lebih aktif dalam forum internasional, khususnya di lingkup Asia Afrika. “Ibu Mega sudah menugaskan kami untuk merumuskan proposal konkret tentang penguatan diplomasi multipihak. Kami siap menjadi bagian dari solusi global,” katanya.
Seminar yang berlangsung hingga sore hari itu ditutup dengan deklarasi singkat yang dibacakan oleh Megawati. Intinya, menyerukan kepada seluruh komponen bangsa untuk tidak pernah lelah memperjuangkan perdamaian dunia, menolak segala bentuk penjajahan baru, serta menjadikan semangat Asia Afrika 1955 sebagai kompas politik luar negeri Indonesia.
Comments (0)