Jakarta — Pabrik-pabrik di Indonesia mulai menjajaki kecerdasan buatan (AI) untuk mengubah cara mereka memproduksi barang. Dari lini perakitan hingga kontrol mutu, teknologi yang dulunya dianggap milik korporasi raksasa kini perlahan masuk ke ruang kendali manufaktur domestik. Pertanyaan yang mengemuka di tengah pelaku usaha: seberapa besar AI mampu mendongkrak daya saing produk Made in Indonesia di pasar yang makin ketat?
Data terbaru menunjukkan jawabannya belum seragam. Tingkat adopsi AI pada bisnis Indonesia masih berada di kisaran 28 persen, dan baru 9 persen perusahaan yang benar-benar memasukkan teknologi itu ke dalam proses bisnis inti. Sekitar 45 persen entitas justru berhenti di tahap uji coba, sementara 27 persen lainnya belum menyentuh teknologi sama sekali. Angka itu menempatkan Indonesia di peringkat keempat Asia Tenggara, di bawah Singapura (45 persen), Malaysia (35 persen), dan Thailand (30 persen).
Investasi Awal Jadi Tarikan Utama
Bagi industri, hambatan pertama bukanlah teknologinya, melainkan kocek yang harus digelontorkan di muka. Kebutuhan investasi adopsi AI sangat bergantung pada skala pabrik, dan angkanya tidak main-main.
"Untuk manufaktur kecil-menengah bisa jadi ratusan juta, sedangkan manufaktur skala besar sampai miliaran rupiah," kata Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmad Basuki.
Rachmad menilai penerapan AI tak hanya berpotensi menaikkan produktivitas dan efisiensi proses produksi, tetapi juga memperbaiki kualitas serta akurasi hasil produksi. Manfaat efisiensi itu akan semakin terasa dalam jangka panjang, sebagaimana terlihat dari industri manufaktur China yang makin agresif memakai AI untuk mengerek posisinya di pasar global.
Namun ia mengakui, besarnya biaya awal membuat AI dinilai masih mahal dibanding tenaga kerja manusia di Indonesia. Kondisi itu sejalan dengan karakteristik negara berupah relatif murah, berbeda dengan negara yang menghadapi biaya tenaga kerja tinggi dan populasi menua.
Keunggulan yang Bisa Dibukukan
Perusahaan yang berhasil mengeksekusi integrasi AI secara terarah mencatat lonjakan efisiensi operasional hingga 40 persen, berdasarkan kompilasi riset McKinsey dan IDC. Berikut ringkasan dampaknya:
| Area Operasional | Dampak Capaian |
|---|---|
| Efisiensi operasional umum | Hingga 40 persen |
| Biaya kontrol mutu & inspeksi | Penurunan signifikan lewat deteksi cacat otomatis |
| Kecepatan perencanaan produksi | Pemangkasan waktu hingga 70 persen |
| Proyek AI yang mandek sebelum skala produksi | Lebih dari 55 persen (riset Gartner) |
Potensi pasar ikut mendukung. Nilai ekonomi digital nasional telah melampaui USD 110 miliar, sementara pasar AI Indonesia diproyeksikan menembus USD 4 miliar. Pertumbuhan belanja AI di Asia Pasifik sendiri berjalan di atas 24 persen per tahun.
Isu Sosial dan Kelangkaan Talenta
Di balik optimisme itu, tersimpan persoalan yang lebih rumit. Penggunaan AI dalam skala besar berpotensi menimbulkan gesekan sosial, terutama terkait kebutuhan tenaga kerja. Rachmad bahkan menyinggung kemungkinan pemerintah kelak mempertimbangkan kebijakan perpajakan terhadap penggunaan AI, sehingga adopsi perlu mempertimbangkan aspek efisiensi sekaligus dampak sosial.
Sementara itu, hambatan teknis juga nyata: kelangkaan talenta data science melibat 67 persen perusahaan, ketidaksesuaian proyek teknologi dengan tujuan bisnis 58 persen, dan data operasional yang masih tercecer 54 persen.
Daya saing produk Made in Indonesia tidak akan datang dari otomatisasi semata, melainkan dari kecepatan perusahaan memilih use case yang tepat, membenahi kualitas data, dan menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bekerja bersama mesin. AI menawarkan jalan pendek menuju produktivitas tinggi, tetapi keputusan soal investasi dan dampak sosial tetap berada di tangan manusia.
Comments (0)