Aroma air sungai dan kayuhan dayung yang membelah ombak dulu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Leni. Mantan atlet dayung kebanggaan daerah ini kini mendayung di lintasan yang berbeda. Bukan lagi mengejar medali di gelanggang olahraga, melainkan mengarungi tantangan pengelolaan limbah demi menyelamatkan lingkungan sekaligus menggerakkan roda ekonomi warga di sekitarnya.
Melalui usaha yang didirikannya, Bank Sampah Dayung Habibah, Leni berhasil mengubah tumpukan sampah rumah tangga yang semula tak bernilai menjadi sumber penghidupan yang memberdayakan. Keberhasilan transformasi ini tidak lepas dari dorongan kuat ekosistem Holding Ultra Mikro (UMi) yang diintegrasikan oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Pegadaian.
Dari Arena Olahraga Menuju Aksi Lingkungan
Perjalanan Leni mendirikan Bank Sampah Dayung Habibah bermula dari keprihatinannya terhadap penumpukan sampah liar di sekitar pemukimannya. Berbekal kedisiplinan dan semangat pantang menyerah yang ia tempa saat menjadi atlet dayung, Leni mulai merangkul para ibu rumah tangga untuk memilah sampah dari dapur mereka sendiri.
Namun, niat mulia tersebut sempat membentur tembok tebal keterbatasan modal dan infrastruktur pengelolaan. Mengelola sampah dalam skala komunitas membutuhkan alat pres, timbangan, hingga sarana transportasi pengangkut yang memadai. Di titik krusial inilah sinergi pembiayaan dan pendampingan Holding UMi masuk memberikan angin segar.
"Sebagai mantan atlet, saya terbiasa bertarung hingga garis akhir. Ketika melihat lingkungan tercemar, saya merasa harus bertindak. Beruntung, PNM melalui Holding Ultra Mikro hadir memberikan kepercayaan dan pendampingan yang kami butuhkan," ujar Leni dengan nada penuh optimisme.
Pemberdayaan Holding Ultra Mikro dan Dampak Ekonomi
Dukungan Holding UMi tidak sekadar berwujud pinjaman modal finansial, melainkan juga literasi keuangan, pelatihan manajemen usaha, serta perluasan jejaring nasabah melalui program Membina Ekonomi Sejahtera (Mekaar) dari PNM. Pendampingan berkelanjutan ini membuat tata kelola Bank Sampah Dayung Habibah menjadi jauh lebih profesional dan terukur.
Berikut adalah gambaran transformasi perkembangan Bank Sampah Dayung Habibah sebelum dan sesudah mendapatkan pendampingan dari Holding Ultra Mikro:
| Indikator Perkembangan | Sebelum Pendampingan UMi | Setelah Pendampingan UMi |
|---|---|---|
| Jumlah Nasabah/Anggota | 15 Ibu Rumah Tangga | 120+ Ibu Rumah Tangga |
| Volume Sampah Terolah | 200 kg / bulan | 3,5 Ton / bulan |
| Dukungan Pelatihan | Swadaya Terbatas | Integrasi Holding UMi (PNM/BRI) |
Melalui pendampingan ini, para nasabah yang didominasi oleh kaum perempuan tidak hanya berhasil menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mampu mengumpulkan tabungan dari hasil pemilahan sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam.
Komitmen Berkelanjutan untuk Kemandirian Perempuan
Penguatan kapasitas usaha yang dialami Leni membuktikan bahwa pendekatan pembiayaan ultra mikro yang inklusif mampu menjadi katalis perubahan sosial. Langkah ini selaras dengan pilar Environmental, Social, and Governance (ESG) yang terus didorong oleh pemerintah melalui sinergi BUMN.
Leni menekankan pentingnya menjaga konsistensi dan memberikan motivasi kepada para anggotanya agar tidak mudah menyerah di tengah jalan. Keberhasilan Bank Sampah Dayung Habibah kini menjadi percontohan bagi daerah sekitar dalam memberdayakan masyarakat berbasis kepedulian lingkungan.
- Literasi Keuangan: Anggota diajarkan mengelola hasil penjualan sampah menjadi tabungan masa depan keluarga.
- Pengurangan Emisi Karbon: Tonan sampah anorganik berhasil didaur ulang tanpa mencemari tempat pembuangan akhir (TPA).
- Kemandirian Wanita: Membuka peluang lapangan kerja baru dan meningkatkan taraf hidup masyarakat pra-sejahtera.
"Kami ingin membuktikan bahwa perempuan dan limbah rumah tangga bisa menjadi kekuatan ekonomi baru jika dikelola dengan hati dan ketekunan," tutur Leni menegaskan arah perjuangannya di masa depan.
Comments (0)