Sep 16, 2026
Hukum

MANILA — Nelayan Filipina Protes Kenaikan BBM Usai Diterjang Badai Monsun

Kelompok nelayan skala kecil di Filipina menggelar aksi unjuk rasa di ibu kota Manila pada Selasa pagi. Mereka memprotes gelombang kenaikan harga bahan bak

MANILA — Nelayan Filipina Protes Kenaikan BBM Usai Diterjang Badai Monsun

Kelompok nelayan skala kecil di Filipina menggelar aksi unjuk rasa di ibu kota Manila pada Selasa pagi. Mereka memprotes gelombang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terbaru yang dinilai kian mencekik mata pencaharian, tepat ketika para nelayan baru saja mulai melaut kembali setelah lebih dari tiga bulan terhenti akibat cuaca buruk.

Aksi massa ini diprakarsai oleh federasi nelayan tradisional Pambansang Lakas ng Kilusang Mamamalakaya ng Pilipinas (PAMALAKAYA). Mereka menyuarakan keprihatinan mendalam atas kebijakan kenaikan harga minyak yang dinilai tidak berpihak kepada kelompok rentan, terutama masyarakat pesisir yang baru pulih dari dampak hantaman monsun barat daya atau yang dikenal secara lokal sebagai musim habagat.

Kronologi dan Rangkaian Krisis Nelayan Tradisional

Kondisi ekonomi nelayan kecil di Filipina mengalami tekanan beruntun dalam beberapa bulan terakhir. Berikut rentetan peristiwa yang memicu aksi protes nelayan di Manila:

  1. Juni – Agustus: Lumpuhnya Aktivitas Melaut
    Hantaman monsun barat daya (habagat) dan rangkaian siklon tropis selama lebih dari 90 hari memaksa ribuan nelayan bersandar di darat karena ombak ekstrem, yang menyebabkan hilangnya sumber penghasilan utama keluarga nelayan.
  2. Awal September: Upaya Kembali Berlayar
    Memasuki masa pemulihan cuaca, nelayan mulai mempersiapkan armada perahu dan jaring mereka untuk kembali melaut demi menutup utang logistik yang menumpuk selama masa paceklik.
  3. Selasa Pagi: Aksi Turun ke Jalan
    Perusahaan minyak nasional kembali mengumumkan lonjakan harga solar dan bensin. Menanggapi lonjakan tersebut, PAMALAKAYA menggelar demonstrasi serentak menuntut pembatalan kenaikan tarif BBM dan pencairan subsidi bahan bakar.

Beban Biaya Operasional BBM Kian Tak Rasional

Bagi nelayan perahu motor berukuran kecil, bahan bakar merupakan komponen pengeluaran terbesar dalam setiap kali melaut. Kenaikan harga solar secara otomatis memotong potensi keuntungan hasil tangkapan mereka secara drastis.

"Kenaikan harga bahan bakar ini bagaikan pukulan bertubi-tubi bagi kami. Kami baru saja hendak menarik jaring kembali setelah tiga bulan terjebak di darat akibat cuaca buruk, namun kini kami dihadapkan pada harga solar yang meroket," tegas perwakilan PAMALAKAYA di sela aksi protes.

Dalam kalkulasi asosiasi nelayan, biaya BBM mencakup hingga 80 persen dari total modal operasional harian. Jika harga bahan bakar melonjak tanpa diimbangi kenaikan harga jual ikan di tingkat dermaga, nelayan terancam melaut dengan kerugian bersih.

Tuntutan Perlindungan dan Subsidi Nyata dari Pemerintah

Dalam pernyataan sikapnya, massa menuntut pemerintah pusat segera mengambil langkah darurat guna melindungi ketahanan pangan laut dan kelangsungan hidup komunitas pesisir. Poin-poin tuntutan utama mereka meliputi:

  • Penghentian Kenaikan Harga Energi: Mengkaji ulang mekanisme penetapan harga bahan bakar domestik yang dinilai terlalu membebani rakyat kecil.
  • Pemberian Subsidi BBM Langsung: Mempercepat pencairan bantuan sosial dan subsidi bahan bakar tanpa birokrasi yang rumit bagi pemilik kapal di bawah tiga gross tonnage (GT).
  • Penghapusan Pajak Eksais BBM: Mendesak penghapusan skema pungutan pajak pertambahan nilai dan eksais atas produk minyak bumi di sektor perikanan tangkap skala rakyat.

Hingga aksi berakhir dengan damai, para nelayan mengancam akan melancarkan aksi mogok melaut yang lebih luas jika pemerintah gagal memberikan solusi konkret atas krisis biaya operasional perikanan rakyat ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User