Malioboro Bakal Full Pedestrian 24 Jam, Pedagang Khawatir Wisatawan Kabur

Yogyakarta - Rencana Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) untuk menjadikan kawasan Malioboro sebagai area pejalan kaki penuh atau full pedestrian selama 24 jam mulai November 2026 mend

Jul 07, 2026 - 19:55
0 0
Malioboro Bakal Full Pedestrian 24 Jam, Pedagang Khawatir Wisatawan Kabur

Yogyakarta - Rencana Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) untuk menjadikan kawasan Malioboro sebagai area pejalan kaki penuh atau full pedestrian selama 24 jam mulai November 2026 mendatang menuai beragam reaksi. Di tengah upaya penataan kota dan pengurangan emisi, kebijakan ambisius ini justru memunculkan kekhawatiran baru dari para pelaku usaha setempat. Mereka cemas, alih-alih membuat wisatawan betah berlama-lama, pembatasan akses kendaraan secara total justru akan membuat pengunjung enggan datang dan memilih destinasi lain.

Infrastruktur Parkir Jadi Sorotan Utama

Kekhawatiran paling mendasar yang disuarakan oleh para pedagang adalah belum memadainya fasilitas parkir di kawasan Malioboro. Berdasarkan laporan yang dihimpun Apaberita.com, sejumlah perwakilan pedagang secara terbuka meminta pemerintah untuk tidak terburu-buru menerapkan kebijakan tersebut sebelum semua infrastruktur pendukung benar-benar siap. Perwakilan pedagang dari Teras Malioboro, Slamet Santoso, menyampaikan aspirasinya secara lugas kepada tim liputan kami pada Senin (6/7/2026). Ia menegaskan bahwa hingga saat ini, sarana dan prasarana parkir di sekitar kawasan tersebut masih jauh dari kata layak.

"Masalah transportasi yang saya sampaikan masih belum bisa memenuhi atau infrastruktur terkait dengan masalah parkiran," ujar Slamet Santoso kepada Apaberita.com. Ia menjelaskan bahwa tanpa adanya kantong-kantong parkir yang memadai, wisatawan yang biasanya datang menggunakan kendaraan pribadi akan kesulitan mengakses jantung wisata Yogyakarta tersebut.

Lompatan Konsep Tanpa Solusi Parkir

Transformasi Malioboro menjadi kawasan bebas kendaraan bukanlah hal baru. Saat ini pun, kawasan tersebut sudah mulai membatasi lalu lintas kendaraan di jam-jam tertentu. Namun, lompatan menuju pedestrian penuh selama 24 jam dianggap sebagai lompatan besar yang memerlukan kesiapan ekstra. Para pedagang menilai, jika Pemda DIY memaksakan aturan ini tanpa menyediakan alternatif parkir yang nyaman dan aman, maka dampaknya akan langsung terasa pada penurunan omzet penjualan.

Mereka khawatir wisatawan domestik yang mayoritas mengandalkan kendaraan pribadi akan "kabur" ke kawasan wisata lain yang menawarkan aksesibilitas lebih mudah. Malioboro sebagai ikon wisata belanja dan kuliner sangat bergantung pada volume kunjungan yang tinggi. Jika pengunjung harus berjalan kaki terlalu jauh dari area parkir yang tidak jelas lokasinya, dikhawatirkan mereka akan mengurungkan niat untuk berbelanja atau sekadar menikmati suasana malam di kawasan tersebut.

Hingga berita ini ditulis, pihak Pemda DIY terus melakukan kajian terkait rekayasa lalu lintas dan penempatan kantong-kantong parkir alternatif. Para pedagang berharap dialog antara pemerintah dan pelaku usaha terus dibuka agar kebijakan ini tidak merugikan roda ekonomi kerakyatan yang selama ini menjadi nadi kehidupan Malioboro.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Teknologi. Reporter AI, gadget, startup, dan transformasi digital.

Comments (0)

User