Makna Pro Mega di Balik Peringatan 30 Tahun Kudatuli
Jajaran pengurus dan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) kompak mengenakan atribut bertuliskan "Pro Mega" dalam peringatan 30 tahun Tragedi Kudatuli di Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP)...
Jajaran pengurus dan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) kompak mengenakan atribut bertuliskan "Pro Mega" dalam peringatan 30 tahun Tragedi Kudatuli di Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (27/7). Ketua DPP PDIP Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital, Muhammad Prananda Prabowo, tampil mencolok dengan kemeja berlogo Pro Mega, sementara sejumlah fungsionaris dan kader lainnya melingkarkan ikat kepala serupa.
Peristiwa bersejarah yang dikenal dengan sebutan Kudatuli—akronim dari Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli—terjadi pada 27 Juli 1996 ketika kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro 58 diserbu oleh massa pendukung kongres tandingan yang didukung rezim Orde Baru. Penyerbuan itu menyasar pendukung Megawati Soekarnoputri yang berseberangan dengan Soerjadi, ketua umum hasil Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya tahun 1993. Mega, sapaan akrab Megawati, kala itu menjadi simbol perlawanan terhadap intervensi pemerintah terhadap partai.
Penghormatan kepada Akar Rumput PDI Pro Mega
Ketua DPP PDIP Bidang Keanggotaan dan Organisasi, Andreas Hugo Pareira, memberikan penjelasan mendetail terkait penggunaan atribut tersebut. Ia menyebut bahwa pemakaian slogan Pro Mega bukanlah simbol pergerakan baru di internal partai, melainkan bentuk penghormatan terhadap perjuangan kelompok akar rumput yang setia mendampingi Megawati Soekarnoputri di masa paling represif Orde Baru.
"Pro Mega adalah sebutan bagi gerombolan massa militan pendukung Megawati yang mengkristal dari bawah sejak pertengahan dekade 1990-an, tepatnya pasca Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya. Mereka adalah basis riil yang bertahan dalam tekanan, dan merekalah yang menghadapi serangan pada 27 Juli 1996 dengan keberanian luar biasa,"
ujar Andreas.
Data yang dihimpun menyebutkan bahwa kelompok Pro Mega terdiri dari simpatisan, aktivis mahasiswa, buruh, dan rakyat kecil yang sehari-hari mengawal kantor DPP PDI pimpinan Megawati. Mereka menjadi sasaran utama operasi aparat dan preman yang mengepung kantor DPP pada pagi buta 27 Juli. Puluhan orang terluka, dan lima orang dilaporkan tewas dalam insiden yang kemudian menjadi katalis gerakan reformasi nasional.
Kudatuli sebagai Titik Balik Sejarah
Andreas menyatakan bahwa tragedi Kudatuli adalah puncak kezaliman rezim Orde Baru yang memaksa PDI tunduk dalam kendali pemerintah. Namun, alih-alih memadamkan semangat, serangan itu justru membuktikan ketangguhan basis massa pendukung Megawati.
"Kekejaman 27 Juli 1996 tidak menghancurkan PDI Pro Mega. Sebaliknya, soliditas mereka menjadi fondasi yang kokoh bagi lahirnya PDI Perjuangan dan kemenangan di Pemilu 1999, yang merupakan pemilu pertama setelah Soeharto lengser pada 1998,"
tegasnya.
Pemilu 1999 mencatat sejarah sebagai pemilu paling demokratis pertama setelah 32 tahun kekuasaan Orde Baru. Dalam kontestasi tersebut, PDIP yang baru terbentuk langsung memenangi suara terbanyak dengan perolehan 33,74 persen, mengungguli partai-partai besar lainnya. Basis pemilih yang loyal itu tidak bisa dilepaskan dari jaringan Pro Mega yang tersebar di berbagai pelosok nusantara.
Simbolisasi Tanpa Agenda Baru
Prananda Prabowo, yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Analisa dan Pengendali Situasi PDIP, dengan tenang memamerkan kemeja Pro Mega saat berbaur dengan kader lain. Dari pantauan di lokasi, atribut tersebut dikenakan tanpa atribut partai tambahan, menegaskan fokus pada memori historis daripada kampanye politik praktis.
Beberapa kader yang hadir menyatakan bahwa penggunaan simbol Pro Mega adalah salah satu cara untuk mendidik generasi muda partai tentang akar perjuangan PDIP. "Ini semacam pembelajaran politik agar kader milenial paham bahwa partai ini dibangun dengan darah dan air mata," ucap seorang fungsionaris yang enggan disebut namanya.
Peringatan 30 tahun Kudatuli di DPP PDIP juga diisi dengan peresmian monumen yang menggambarkan para aktivis Pro Mega. Monumen itu dimaksudkan sebagai pengingat abadi akan pengorbanan orang-orang kecil yang keberaniannya dipandang menjadi sumbu pendek bagi gerakan demokratisasi di Indonesia. Meski simbol Pro Mega kembali mencuat, Andreas memastikan bahwa tidak ada agenda reorganisasi kelompok tersebut. Ia menegaskan, seluruh elemen partai kini telah terintegrasi dalam struktur dan visi partai modern.
Peringatan tersebut diwarnai pula dengan diskusi dan cerita testimoni dari korban tragedi 1996. Mereka menyampaikan narasi yang selama ini tak banyak terekam dalam sejarah resmi. Salah satu saksi hidup, mantan anggota Pro Mega yang hadir dengan mengenakan ikat kepala putih bertuliskan Pro Mega, menceritakan bagaimana ia bersembunyi di atap kantor untuk menghindari kejaran massa. Pembacaan puisi dan penyalaan lilin 30 titik dilakukan sebagai simbol penghormatan bagi korban. Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP, terlihat duduk di barisan depan dan sesekali menyeka air mata saat nama para korban dibacakan.
Dengan cara sederhana namun sarat makna, PDIP mengukuhkan narasi bahwa Pro Mega adalah urat nadi sejarah partai. Kini, tiga dekade kemudian, atribut yang sama muncul kembali bukan sebagai panggilan mobilisasi, melainkan sebagai penanda identitas perjuangan yang telah menempuh jalan panjang dari penindasan menuju kemenangan elektoral.
Comments (0)