London — Rabi Israel Serukan Geruduk Gereja Diskusi Genosida Gaza
London, Inggris — Seorang rabi Israel terkemuka telah mengeluarkan seruan kontroversial yang meminta para pendukungnya untuk menggeruduk sebuah gereja di I
London, Inggris — Seorang rabi Israel terkemuka telah mengeluarkan seruan kontroversial yang meminta para pendukungnya untuk menggeruduk sebuah gereja di Inggris yang berencana menggelar diskusi publik tentang dugaan genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.
Seruan yang disampaikan melalui platform media sosial dan jaringan komunitas pada akhir pekan lalu itu langsung memicu kecaman dari berbagai kalangan, termasuk aktivis hak asasi manusia dan sejumlah tokoh lintas agama. Diskusi yang direncanakan oleh St. Ethelburga’s Centre for Reconciliation and Peace—sebuah gereja Anglikan di London yang kerap menjadi ruang dialog perdamaian—bertajuk "Gaza: Memahami Realitas Genosida".
Respons Keras dari Rabi Israel
Dalam sebuah unggahan video, rabi yang tidak ingin disebutkan namanya itu mengatakan bahwa acara tersebut merupakan "hasutan terhadap negara Yahudi" dan menyerukan "tindakan pencegahan".
Kita tidak boleh diam saja ketika rumah ibadah berubah menjadi panggung fitnah. Datanglah ke sana, tunjukkan bahwa kami tidak akan membiarkan kebohongan ini disebarkan,
tegasnya, merujuk pada klaim genosida yang banyak dikritik oleh pemerintah Israel dan sekutunya.
Seruan ini dengan cepat menyebar di kalangan pendukung garis keras, dengan sejumlah akun anonim mengancam akan melakukan "aksi massa" tepat pada hari pelaksanaan diskusi, yang dijadwalkan pada 17 Juli 2026.
Gereja dan Pemicu Kontroversi
St. Ethelburga’s Centre dikenal sebagai gereja Anglikan yang berfokus pada misi rekonsiliasi dan dialog antaragama. Acara bertajuk Gaza ini menghadirkan panelis internasional—termasuk mantan pelapor khusus PBB, akademisi, dan aktivis kemanusiaan—yang akan membahas laporan Mahkamah Internasional (ICJ) dan Komisi Penyelidikan PBB yang menyelidiki kemungkinan terjadinya genosida di Gaza selama perang 2023-2025.
Pihak gereja dalam keterangan tertulisnya menyatakan bahwa diskusi ini "bukanlah untuk menyebarkan kebencian, melainkan memberikan ruang bagi fakta dan refleksi moral." Mereka menegaskan komitmen pada kebebasan berekspresi dan menolak segala bentuk intimidasi.
Kami percaya bahwa bahkan topik yang paling sulit sekalipun harus bisa dibicarakan dalam semangat kasih dan keadilan. Acara ini terbuka untuk umum dan kami harap semua pihak bisa hadir dengan kepala dingin,
tulis pihak gereja.
Konteks Ketegangan Global
Seruan rabi ini muncul di tengah meningkatnya polarisasi global terkait perang Gaza yang berkepanjangan. Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan respons militer Israel yang menghancurkan sebagian besar Jalur Gaza, tudingan genosida semakin mengemuka. Pada awal 2026, Mahkamah Internasional mengeluarkan putusan sementara yang memerintahkan Israel mencegah tindakan genosida dan menghukum hasutan untuk melakukan genosida—meskipun belum ada putusan final.
Di Inggris, sejumlah aksi solidaritas Palestina sering memicu kontroversi, termasuk tuduhan antisemitisme. Namun, dalam kasus ini, pengamat menilai bahwa seruan menggeruduk gereja justru melewati batas demokrasi dan mengancam kebebasan beribadah.
Reaksi Pemerintah dan Komunitas
Juru bicara Kepolisian Metropolitan London menyatakan bahwa mereka "menyadari adanya potensi gangguan ketertiban" dan akan menempatkan personel untuk mengamankan lokasi. Sementara itu, Dewan Deputi Yahudi Inggris (Board of Deputies of British Jews) belum mengeluarkan pernyataan resmi, tetapi sejumlah tokoh Yahudi liberal mengecam seruan tersebut sebagai "tindakan yang merusak kohesi sosial."
Organisasi advokasi Palestine Solidarity Campaign menyambut baik diskusi gereja dan mengecam upaya pembungkaman. "Ini adalah bentuk intimidasi yang tak bisa ditoleransi di negara demokratis seperti Inggris," kata juru bicara mereka.
Dampak pada Dialog Antaragama
Para pemerhati hubungan antaragama menyayangkan bahwa gereja—yang seharusnya menjadi jembatan damai—kini justru menjadi sasaran ancaman. Pendeta Keith Magee, teolog publik di University College London, mengatakan insiden ini menunjukkan betapa isu Israel-Palestina mampu memecah belah bahkan di ruang-ruang keagamaan paling moderat sekalipun.
Ini adalah ujian bagi pluralisme Inggris. Jika diskusi akademis di gereja saja diancam, apa yang tersisa dari kebebasan sipil kita?
ujarnya.
Poin Kunci
- Rabi Israel menyerukan pengikutnya untuk menggeruduk dan mencegah diskusi gereja di London yang membahas dugaan genosida di Gaza.
- Acara bertajuk "Gaza: Memahami Realitas Genosida" dijadwalkan pada 17 Juli 2026 di St. Ethelburga’s Centre.
- Pihak gereja menegaskan komitmen pada kebebasan berekspresi dan menolak intimidasi.
- Kepolisian London akan meningkatkan keamanan menyusul potensi gangguan.
- Tudingan genosida terkait perang Gaza sedang diselidiki oleh Mahkamah Internasional.
Comments (0)