Prabowo Resmikan Groundbreaking Proyek LNG Abadi Masela Secara Daring

Jakarta — Presiden Prabowo Subianto secara resmi melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Masela mela

Jul 17, 2026 - 15:17
0 0
Prabowo Resmikan Groundbreaking Proyek LNG Abadi Masela Secara Daring

Jakarta — Presiden Prabowo Subianto secara resmi melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Masela melalui sambungan daring dari Istana Kepresidenan, menandai dimulainya babak baru dalam perjalanan panjang megaproyek gas paling ambisius di kawasan timur Indonesia. Proyek yang berlokasi di Laut Arafura, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku ini telah melalui perjalanan lebih dari dua dekade sejak penemuan cadangan gas raksasa pada tahun 2000 silam.

Simbol Kebangkitan Energi Nasional

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa proyek LNG Abadi Masela bukan sekadar proyek infrastruktur energi biasa, melainkan representasi kedaulatan energi bangsa. Proyek ini diproyeksikan mampu memproduksi hingga 9,5 juta ton LNG per tahun, dengan perkiraan investasi mencapai USD 19,8 miliar atau setara dengan lebih dari Rp 300 triliun—menjadikannya salah satu investasi terbesar dalam sejarah migas Indonesia.

“Ini bukan hanya tentang gas, ini tentang masa depan energi Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkelanjutan,” tegas Presiden Prabowo dalam sambutannya yang disiarkan langsung. Beliau menekankan bahwa pemerintah berkomitmen penuh untuk memastikan proyek ini berjalan sesuai jadwal, dengan target first gas pada tahun 2031.

“Proyek Masela adalah game-changer. Letak geografisnya yang strategis di Indonesia timur akan menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru yang selama ini kita impikan. Ini adalah hadiah bagi generasi mendatang,” — Presiden Prabowo Subianto.

Kontribusi Strategis bagi Ekonomi Nasional

LNG Abadi Masela dirancang sebagai proyek onshore—keputusan historis yang diambil pada tahun 2016 ketika Presiden Joko Widodo mengalihkan konsep awal dari kilang terapung (floating LNG) menjadi kilang darat. Keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan dampak ekonomi berganda (multiplier effect) yang jauh lebih besar bagi masyarakat lokal dan nasional.

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), proyek ini diperkirakan akan menyerap hingga 73.000 tenaga kerja pada puncak masa konstruksi, dengan prioritas utama bagi masyarakat Maluku dan sekitarnya. Pemerintah daerah pun menyambut baik dimulainya konstruksi ini. Gubernur Maluku menyatakan bahwa proyek Masela akan menjadi katalisator yang mentransformasi perekonomian provinsi kepulauan tersebut.

Tantangan dan Dukungan Multinasional

Di balik megahnya angka investasi, proyek Masela menyimpan kompleksitas teknis dan geopolitik yang tidak ringan. Operator proyek, INPEX Masela Ltd.—anak perusahaan raksasa energi Jepang INPEX Corporation—memegang saham mayoritas sebesar 65 persen, sementara PT Pertamina Hulu Energi Masela menggenggam 35 persen sisanya setelah mengakuisisi seluruh hak partisipasi Shell pada tahun 2023.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang turut hadir secara virtual menyampaikan bahwa proses negosiasi antarpihak telah mencapai kata sepakat setelah melewati dinamika yang cukup intens. “Ini adalah hasil kerja keras semua pihak. Kami optimistis target operasional dapat tercapai,” ujarnya singkat.

Dampak pada Ketahanan Energi dan Hilirisasi

Selain untuk ekspor, sebagian produksi gas dari Blok Masela juga akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan domestik, mendukung program hilirisasi industri, serta memperkuat ketahanan energi nasional. Pemerintah telah merancang skema pemanfaatan gas pipa dan LNG untuk kawasan industri di Maluku dan sekitarnya, yang diharapkan dapat memicu pertumbuhan sektor petrokimia dan manufaktur di timur Indonesia.

Dengan dimulainya fase konstruksi ini, Indonesia menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam peta energi global. Blok Masela memiliki estimasi cadangan gas alam mencapai 18,5 triliun kaki kubik (Tcf), sebuah angka yang cukup untuk memasok kebutuhan energi berskala besar selama puluhan tahun ke depan.

Pengamat energi dari Universitas Indonesia, Dr. Rangga Wisesa, menilai bahwa momen groundbreaking ini memiliki bobot psikologis dan strategis yang tinggi. “Proyek ini sudah terlalu lama tertunda. Dengan dimulainya konstruksi, sinyal yang dikirim ke investor global sangat jelas—Indonesia serius dalam tata kelola energi jangka panjangnya,” ujarnya.

Upacara groundbreaking yang digelar secara hibrida ini turut dihadiri oleh jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju, Duta Besar Jepang untuk Indonesia, perwakilan INPEX, serta para pemangku kepentingan daerah. Meskipun dilakukan secara daring oleh Presiden, kemeriahan tetap terasa di lokasi proyek di Tanimbar, tempat di mana sejarah baru energi Indonesia kini mulai ditulis.

[SOCIAL_TWEET]: Presiden @prabowo resmi groundbreaking Proyek LNG Abadi Masela — investasi Rp300 triliun, 73.000 lapangan kerja, target operasi 2031. Energi Indonesia timur kini bergerak! 🇮🇩⚡ #LNGMasela #EnergiNasional #PrabowoSubianto #IndonesiaMaju[SOCIAL_TG]: 🇮🇩⚡ BREAKING: Presiden Prabowo resmikan groundbreaking Proyek LNG Abadi Masela! 💰 Investasi Rp300 triliun 👷 73.000 lapangan kerja 🎯 Target operasi 2031 Proyek gas raksasa di Laut Arafura ini akhirnya bergerak setelah dua dekade. Energi Indonesia timur siap melesat!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User