Oct 08, 2026
Politik

Korea Selatan Selidiki Peretasan AI Terhadap Tujuh Bank

Seoul, 6 Oktober 2026 — Pemerintah Korea Selatan membuka penyelidikan menyeluruh atas gelombang serangan siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan telah menembus sedikitnya tujuh institusi ...

Korea Selatan Selidiki Peretasan AI Terhadap Tujuh Bank

Seoul, 6 Oktober 2026 — Pemerintah Korea Selatan membuka penyelidikan menyeluruh atas gelombang serangan siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan telah menembus sedikitnya tujuh institusi keuangan terkemuka di negara itu. Komisi Layanan Keuangan (FSC) mencatat lebih dari 68.000 data pribadi nasabah perbankan bocor dalam insiden yang terdeteksi sejak akhir September 2026.

Bank-bank raksasa termasuk Shinhan Bank, KB Kookmin Bank, dan Hana Bank telah mengonfirmasi adanya kebocoran pada sistem mereka. Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, memerintahkan kepolisian dan lembaga regulasi menggelar investigasi penuh untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap keamanan sektor perbankan nasional.

Dalam rapat kabinet pada Selasa (6/10), Lee menyatakan bahwa peningkatan kapabilitas AI telah membuka celah baru bagi aktivitas kriminal jaringan dunia maya. Ia menegaskan urgensi penanganan negara mengingat dampak luas yang ditimbulkan terhadap keamanan finansial masyarakat.

Modus Penyusupan Lewat Sistem Pendukung

Tim investigasi gabungan antara regulator keuangan dan pakar keamanan siber mengungkap modus operandi yang digunakan pelaku. Analisis awal menunjukkan penggunaan Artex AI, perangkat uji penetrasi keamanan siber bersumber terbuka yang berbasis kecerdasan buatan, sebagai senjata utama dalam rangkaian pembobolan tersebut.

Alat tersebut dikonfigurasi untuk memindai sistem perbankan secara otomatis dan berkelanjutan. Kemampuan adaptifnya memungkinkan perangkat lunak memilih teknik intrusi lanjutan berdasarkan pola respons yang diterima dari sistem target sebelumnya, sehingga proses eksfiltrasi berjalan tanpa intervensi manusia secara terus-menerus.

Untuk menembus pertahanan, pelaku sengaja menghindari sistem inti perbankan yang dilindungi lapisan keamanan berlapis. Sebagai gantinya, mereka menyasar kanal pendukung yang memiliki pengawasan相对 lebih longgar, yakni platform penjualan produk serta layanan digital pengajuan pinjaman nasabah. Titik masuk inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk mengakses basis data informasi pelanggan.

Pada kasus Shinhan Bank, para peretas dilaporkan memanfaatkan celah pada salah satu layanan daring untuk menarik data pengguna. Sementara itu, KB Kookmin Bank dan Hana Bank mengonfirmasi bahwa sistem pendukung mereka turut menjadi sasaran pada periode yang sama. FSC memastikan penyelidikan akan mencakup seluruh institusi keuangan yang teridentifikasi dalam gelombang serangan ini.

Tanggapan Kepemimpinan Nasional

Presiden Lee Jae Myung menyoroti tingkat kekhawatiran yang meluas di tengah masyarakat akibat insiden ini. Ia menyatakan bahwa perkembangan teknologi kini telah mencapai titik di mana kemampuan meretas dapat diakses oleh pihak yang tidak memiliki keahlian teknis khusus.

Ada indikasi bahwa kecerdasan buatan digunakan dalam sejumlah serangan peretasan, yang menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan cukup besar di kalangan masyarakat.

Kepala negara juga menambahkan bahwa AI telah mempermudah aksi peretasan bahkan bagi individu tanpa kompetensi khusus di bidang keamanan siber. Pernyataan tersebut menegaskan pergeseran risiko keamanan siber yang kini tidak lagi terbatas pada pelaku terorganisasi semata.

Pemerintah Korea Selatan menindaklanjuti instruksi presiden dengan memperkuat koordinasi antarlembaga. Kepolisian nasional diminta mengidentifikasi jaringan di balik serangan, sementara FSC diberi mandat mengevaluasi standar perlindungan data di seluruh sektor keuangan negara.

Sebagai langkah mitigasi, regulator berencana menerapkan ketentuan pengawasan tambahan bagi kanal digital yang menjadi titik lemah dalam insiden ini. Bank-bank terdampak juga diminta memperkuat sistem deteksi anomali serta mempercepat pemberitahuan kepada nasabah yang datanya berpotensi terekspos.

Skala kebocoran yang mencapai puluhan ribu rekaman data menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu insiden keamanan siber terbesar yang menimpa sektor perbankan Korea Selatan dalam periode terkini. Otoritas menegaskan bahwa transparansi publik akan dijaga selama proses penyelidikan berlangsung.

Keputusan untuk menggelar penyelidikan penuh juga diambil sebagai respons atas tuntutan masyarakat agar pemerintah menunjukkan keseriusan menghadapi ancaman kejahatan siber berbasis otomatisasi. Regulator menegaskan bahwa seluruh temuan akan ditindaklanjuti dengan langkah hukum dan kebijakan pencegahan yang menyeluruh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User