Komisaris Utama KAI Wisata Awali Pelestarian Stasiun Jakarta Kota
Jakarta – Komisaris Utama PT KAI Wisata, Suria Ati Kusumah, melakukan kunjungan kerja ke Stasiun Jakarta Kota, yang juga dikenal sebagai Stasiun Beos Lama.
Jakarta – Komisaris Utama PT KAI Wisata, Suria Ati Kusumah, melakukan kunjungan kerja ke Stasiun Jakarta Kota, yang juga dikenal sebagai Stasiun Beos Lama. Langkah ini menjadi titik awal inisiatif pelestarian, pembangkitan kembali, dan pengenalan nilai sejarah stasiun-stasiun tua di Jakarta. Stasiun Jakarta Kota, sebagai salah satu ikon perkeretaapian tertua di Indonesia, menyimpan jejak panjang peradaban kota yang dinilai layak dijaga secara berkelanjutan.
Kunjungan yang berlangsung pada awal pekan ini disambut oleh jajaran manajemen perkeretaapian setempat, antara lain Adly Hakim Nasution selaku VP Pelayanan KCI, Kuscayono selaku Manajer Fasilitas Pelayanan Penumpang Daop 1 Jakarta, Kurniawan Bellani Adhinata selaku Kepala Stasiun Jakarta Kota, dan Dwi Irpal selaku Wakil Kepala Stasiun Jakarta Kota.
Fokus utama kunjungan diarahkan pada potensi Stasiun Jakarta Kota dengan mengusung tema “Awal Perjalanan Batavia Modern”. Stasiun ini merupakan gerbang utama Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda dan menjadi saksi lahirnya sistem transportasi massal modern di Indonesia. Keberadaannya tidak sekadar berfungsi sebagai simpul pergerakan penumpang, tetapi juga sebagai penanda historis yang merekam peralihan kota dari era kolonial menuju kemandirian pascakemerdekaan.
Dari segi kronologi, stasiun ini memiliki sejarah panjang. Sebelum bangunan saat ini berdiri, terdapat stasiun lama bernama Batavia Zuid. Bangunan ikonik yang dikenal publik sekarang diresmikan pada tahun 1929 dan tercatat sebagai salah satu stasiun termegah di Asia Tenggara pada masanya. Dirancang oleh arsitek Belanda dengan gaya Art Deco yang masih terjaga keasliannya, stasiun ini menghadirkan inovasi teknik berupa atap bentang lebar yang ditopang oleh sedikit tiang penyangga, menciptakan ruang tunggu yang lapang dan terkesan megah.
Pada masa kolonial, hampir seluruh pejabat, pedagang, dan wisatawan yang tiba dengan kereta memasuki Batavia melalui stasiun ini. BEOS menjadi “wajah pertama” ibu kota sekaligus simpul utama yang menghubungkan Batavia dengan kota-kota penting lain seperti Bandung, Semarang, Surabaya, hingga Pelabuhan Merak. Nama BEOS sendiri merupakan akronim dari Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda yang mengelola jalur kereta api jalur timur Batavia.
Peran historis stasiun ini berlanjut setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945. Stasiun Jakarta Kota menjadi bagian penting dalam proses pengambilalihan aset perkeretaapian dari tangan pendudukan Jepang oleh para pegawai kereta api Indonesia. Peristiwa ini menegaskan posisi BEOS sebagai saksi perjuangan kemerdekaan bangsa. Kini, keindahan arsitekturnya menjadikan stasiun ini kerap dipilih sebagai lokasi syuting film, video musik, dan pemotretan, memperkuat perannya sebagai ikon visual kota Jakarta. Lokasinya yang berhadapan langsung dengan kawasan Kota Tua juga menempatkan BEOS sebagai pintu gerbang wisata sejarah yang menghubungkan elemen perkeretaapian dengan kawasan cagar budaya di sekitarnya.
Inisiatif pelestarian yang digagas oleh Komisaris Utama KAI Wisata ini diharapkan tidak hanya menjaga fisik bangunan bersejarah, tetapi juga mengangkat narasi-narasi penting yang terkandung di dalamnya sebagai bagian dari program heritage KAI Wisata. Program ini diharapkan mampu mengedukasi masyarakat sekaligus memperkuat daya tarik wisata berbasis sejarah di Jakarta.
Comments (0)