Kera Ekor Panjang Penyerang 17 Warga Inhil Berhasil Ditangkap

TEMBILAHAN — Seekor kera ekor panjang yang diduga menjadi pelaku penyerangan terhadap 17 warga di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau, berhasil diamankan pada Kamis (7/8/2026). Satwa li...

Kera Ekor Panjang Penyerang 17 Warga Inhil Berhasil Ditangkap

TEMBILAHAN — Seekor kera ekor panjang yang diduga menjadi pelaku penyerangan terhadap 17 warga di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau, berhasil diamankan pada Kamis (7/8/2026). Satwa liar tersebut tertangkap setelah masuk ke dalam jebakan yang dipasang petugas di kawasan permukiman Kecamatan Tembilahan, menyusul rangkaian laporan serangan yang meresahkan masyarakat dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Inhil menyatakan, penangkapan satwa tersebut merupakan buah kerja sama antara jajaran kepolisian, pemerintah kecamatan, serta warga setempat yang secara aktif melaporkan pergerakan hewan itu. Menurutnya, keberhasilan ini mengakhiri kekhawatiran masyarakat yang selama berhari-hari merasa terancam saat beraktivitas di luar rumah.

"Satwa yang meresahkan warga sudah berhasil diamankan. Meski demikian, kami mengimbau masyarakat tetap waspada dan segera melapor kepada petugas apabila kembali menjumpai satwa liar yang berkeliaran di permukiman," ujar Kapolres Inhil dalam keterangannya di Tembilahan, Kamis.

Kronologi Penangkapan

Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lapangan, upaya penangkapan dilakukan dengan memasang perangkap di lokasi yang kerap menjadi tempat kemunculan kera tersebut. Strategi itu dipilih karena satwa berjenis kera ekor panjang atau Macaca fascicularis ini dikenal lincah dan agresif, sehingga penangkapan secara langsung dinilai berisiko bagi keselamatan petugas maupun warga.

Perangkap yang dilengkapi umpan akhirnya membuahkan hasil. Kera yang oleh warga setempat dijuluki "codet" lantaran kondisi fisiknya yang tidak sempurna itu masuk ke dalam jebakan dan langsung diamankan petugas. Hewan tersebut diketahui memiliki taring yang tajam dan menunjukkan perilaku ganas ketika berhadapan dengan manusia, sebagaimana dilaporkan sejumlah korban.

Usai tertangkap, satwa itu dievakuasi ke tempat yang aman untuk menjalani pemeriksaan. Petugas memastikan proses evakuasi berjalan tanpa perlawanan berarti dan tidak menimbulkan korban tambahan di kalangan masyarakat.

Belasan Warga Menjadi Korban Serangan

Sebelum tertangkap, kera tersebut tercatat menyerang 17 warga di wilayah Tembilahan dan sekitarnya. Para korban mengalami luka gigitan dan cakaran dengan tingkat keparahan yang bervariasi, mulai dari luka ringan hingga luka yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut di fasilitas kesehatan setempat.

Sejumlah korban menuturkan, serangan kerap terjadi secara tiba-tiba ketika mereka sedang beraktivitas di sekitar rumah, seperti menjemur pakaian, berkebun, maupun melintas di jalan lingkungan. Perilaku agresif satwa itu membuat warga membatasi kegiatan di luar rumah, terutama pada pagi dan sore hari ketika kera tersebut paling sering terlihat berkeliaran.

Petugas kesehatan setempat telah memberikan penanganan awal kepada para korban, termasuk pembersihan luka serta langkah antisipasi terhadap risiko infeksi yang dapat ditimbulkan dari gigitan dan cakaran satwa liar. Warga yang mengalami luka diimbau menjalani pemeriksaan menyeluruh sebagai langkah pencegahan lanjutan.

Imbauan Kepolisian Pascapenangkapan

Meski kera yang diduga sebagai pelaku utama penyerangan telah diamankan, Kapolres Inhil menegaskan bahwa kewaspadaan masyarakat tidak boleh kendor. Ia menyatakan masih terbuka kemungkinan adanya satwa liar lain yang berkeliaran di sekitar permukiman, mengingat kawasan Inhil berdekatan dengan habitat alami kera ekor panjang.

"Penangkapan ini bukan berarti ancaman sepenuhnya hilang. Kami meminta warga tetap berhati-hati, tidak memprovokasi atau memberi makan satwa liar, serta menjaga anak-anak agar tidak bermain di lokasi yang rawan," tegas Kapolres.

Kepolisian juga meminta masyarakat tidak bertindak sendiri apabila menjumpai satwa liar yang berperilaku agresif. Laporan dapat disampaikan kepada petugas kepolisian terdekat, perangkat desa, maupun instansi yang berwenang menangani satwa liar agar penanganan dilakukan secara aman dan sesuai prosedur.

Koordinasi Penanganan Satwa Liar

Terkait penanganan lanjutan, kepolisian menyatakan akan berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau, untuk menentukan langkah terbaik terhadap satwa yang telah diamankan. Pilihan penanganan mencakup pemeriksaan kesehatan satwa, rehabilitasi, hingga kemungkinan pelepasan ke habitat yang jauh dari permukiman penduduk.

Pemerintah daerah setempat juga diminta mengevaluasi faktor penyebab masuknya satwa liar ke kawasan permukiman. Sejumlah kalangan menilai, menyusutnya habitat akibat alih fungsi lahan serta ketersediaan sumber makanan di sekitar pemukiman menjadi pemicu meningkatnya interaksi antara satwa liar dan manusia di wilayah pesisir Riau tersebut.

Hingga berita ini disusun, situasi di kawasan Tembilahan dilaporkan berangsur kondusif. Warga berharap langkah penanganan yang diambil pemerintah dan aparat keamanan dapat mencegah terulangnya peristiwa serupa di masa mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User