Kemenkes Imbau Waspada ISPA Jelang Puncak Musim Kemarau

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan peringatan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) m

Jul 12, 2026 - 01:28
0 1

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan peringatan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjelang puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus–September. Imbauan ini disampaikan menyusul tren peningkatan kunjungan pasien dengan gejala batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan sesak napas di sejumlah fasilitas kesehatan primer. Berdasarkan data surveilans epidemiologi Kemenkes, selama Juli tercatat lonjakan 18% kasus ISPA non-COVID-19 dibandingkan bulan sebelumnya, dengan mayoritas penderita berasal dari wilayah perkotaan yang terpapar polusi dan debu jalanan.

Mengapa Musim Kemarau Picu Lonjakan ISPA?

Musim kemarau menciptakan kondisi udara yang lebih kering dan berdebu. Minimnya curah hujan membuat partikel debu, asap kendaraan, dan polutan lain melayang di udara dalam konsentrasi tinggi. “Saluran pernapasan kita memiliki mekanisme pertahanan alami berupa lendir dan silia, tapi ketika udara terlalu kering, sistem ini melemah sehingga virus dan bakteri lebih mudah masuk,” jelas dr. Dewi Nur Aisyah, epidemiolog lapangan dari Universitas Indonesia, dalam wawancara daring. Debu yang terhirup juga bisa mengiritasi langsung selaput lendir saluran napas, memicu peradangan akut yang berujung pada ISPA.

Selain faktor debu, rendahnya kelembapan udara juga memperpanjang daya tahan virus influenza dan rhinovirus di permukaan benda. Studi yang dimuat di Journal of Infectious Diseases menunjukkan virus flu mampu bertahan hingga 48 jam pada permukaan non-porous dalam kelembapan di bawah 40%. Kemenkes mencatat, lima provinsi dengan kenaikan kasus ISPA tertinggi sepanjang Juli adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Sumatera Utara, dan Kalimantan Timur — seluruhnya mengalami indeks kualitas udara “tidak sehat” selama lebih dari 60% hari dalam sebulan.

Kronologi Langkah Kemenkes Menghadapi Ancaman ISPA

  1. Minggu Pertama Juli: Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes mengirimkan surat edaran ke seluruh dinas kesehatan provinsi agar memperkuat deteksi dini ISPA di puskesmas dan rumah sakit.
  2. Minggu Kedua Juli: Kemenkes menggencarkan kampanye Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui media sosial dan radio, menekankan pentingnya cuci tangan, penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan, dan memperbanyak minum air putih.
  3. Minggu Ketiga Juli: Kemenkes menginstruksikan peningkatan stok obat esensial seperti paracetamol, antihistamin, dan multivitamin di gudang farmasi daerah rawan ISPA.
  4. Minggu Keempat Juli: Menteri Kesehatan mengadakan rapat koordinasi dengan BMKG dan Kementerian Lingkungan Hidup untuk menyelaraskan peringatan dini cuaca dan kualitas udara dengan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan.

Kemenkes juga mendorong masyarakat untuk rutin membersihkan lingkungan sekitar, terutama mengendalikan debu dengan menyiram halaman dan menyapu basah. “Pencegahan ISPA tidak bisa dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Kami butuh kolaborasi lintas sektor, termasuk pengelolaan polusi udara dari sumbernya,” tegas Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, dr. Widyawati, dalam konferensi pers virtual.

Siapa yang Paling Rentan dan Kapan Harus ke Dokter?

Anak-anak di bawah usia 5 tahun, lansia di atas 60 tahun, serta individu dengan penyakit kronis seperti asma, diabetes, atau penyakit jantung adalah kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi ISPA seperti pneumonia. Kemenkes mengingatkan agar orang tua segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala tarikan dinding dada, napas cepat (>50 kali/menit pada bayi, >40 kali/menit pada anak 1-5 tahun), atau kebiruan di bibir dan kuku. Sementara itu, orang dewasa disarankan berkonsultasi jika demam tinggi menetap lebih dari tiga hari, sesak napas memburuk, atau dahak berwarna kuning kehijauan menandakan infeksi bakteri sekunder.

“Musim kemarau tahun ini berpotensi lebih ekstrem karena pengaruh fenomena El Niño. Masyarakat harus meningkatkan daya tahan tubuh melalui istirahat cukup, konsumsi gizi seimbang, dan vaksinasi influenza bagi yang memiliki akses,” tambah dr. Dewi. Kemenkes memastikan vaksin influenza tetap tersedia di puskesmas dan rumah sakit umum daerah dengan subsidi bagi kelompok prioritas.

[SOCIAL_TWEET]: Kemenkes peringatkan lonjakan ISPA 18% jelang puncak kemarau. Udara kering dan debu jadi pemicu utama. Lindungi keluarga dengan masker, cuci tangan, dan perbanyak minum air putih. #ISPA #MusimKemarau #SehatBersama[SOCIAL_TG]: ☀️ Udara kering bikin napas sesak? Kemenkes catat kenaikan ISPA 18% di Juli. Simak imbauan resmi & cara lindungi si kecil ⤵️

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User