Kejagung Ungkap Alasan Febrie Mundur dari Jampidsus

Di tengah penanganan sejumlah mega skandal korupsi, Kejaksaan Agung (Kejagung) akhirnya memecah keheningan tentang mundurnya Jaksa Agung Muda Tindak Pidana

Jul 11, 2026 - 07:17
0 1
Kejagung Ungkap Alasan Febrie Mundur dari Jampidsus

Di tengah penanganan sejumlah mega skandal korupsi, Kejaksaan Agung (Kejagung) akhirnya memecah keheningan tentang mundurnya Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM PIDSUS), Febrie Adriansyah. Pria yang selama ini menjadi momok bagi para koruptor kelas kakap itu resmi meletakkan jabatan pada awal Juli 2026. Spekulasi liar sempat merebak: mulai dari tekanan politik, friksi internal, hingga upaya pelemahan institusi. Namun, Kejagung memberikan pernyataan resmi yang elegan namun penuh makna: Febrie mundur untuk menjaga keharmonisan dan marwah korps.

Dalam jumpa pers yang digelar singkat, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Harli Siregar, mengungkapkan bahwa keputusan Febrie adalah hasil dari diskusi internal yang matang. “Beliau ingin fokus pada hal-hal personal yang tertunda, sekaligus memberi ruang bagi penyegaran di tubuh Adhyaksa,” kata Harli. Meskipun begitu, banyak pihak menilai pernyataan itu sebagai kemasan diplomatis dari sebuah realitas yang lebih getir.

Sosok Penakluk Koruptor

Febrie Adriansyah bukan nama asing di ranah hukum Indonesia. Selama menjabat Jampidsus, ia mengomandoi penanganan kasus-kasus besar yang selama ini dianggap tabu. Di bawah kendalinya, Kejaksaan berhasil mengusut skandal timah senilai Rp271 triliun yang menyeret bos-bos pertambangan; menetapkan tersangka baru dalam kasus korupsi LPEI yang merugikan negara puluhan triliun rupiah; serta membongkar mafia tanah yang melibatkan pejabat publik. Gaya kerjanya yang lugas dan tanpa kompromi menjadikannya figur yang disegani sekaligus ditakuti.

“Pak Febrie adalah ikon penegakan hukum yang tak pandang bulu. Di era beliau, Kejaksaan tidak ragu menyentuh pihak yang sebelumnya dianggap ‘untouchable’. Kepergiannya pasti menyisakan pertanyaan,” ujar Prof. Bambang Widodo Umar, kriminolog Universitas Indonesia.

Namun di balik ketegasannya, Febrie kerap bersinggungan dengan sejumlah pihak berkepentingan. Konflik dengan elite politik hingga rekan-rekan internal Kejaksaan mencuat beberapa kali, terutama ketika ia memutuskan untuk meneruskan perkara yang menyerempet nama-nama besar. Beberapa sumber anonim menyebut bahwa ia merasa terkekang oleh restrukturisasi yang digulirkan Jaksa Agung baru-baru ini.

Struktur Baru, Arah Berubah?

Mundurnya Febrie terjadi bersamaan dengan rencana restrukturisasi besar-besaran di tubuh Kejagung. Dalam beberapa bulan terakhir, Jaksa Agung melakukan pergeseran sejumlah posisi kunci, termasuk mengangkat figur baru untuk memimpin bidang intelijen dan pengawasan. Alih-alih memperkuat Jampidsus, sejumlah kewenangan justru didispersikan ke satuan tugas lain. Observasi sejumlah pegiat antikorupsi menyebutkan bahwa langkah ini bisa jadi bagian dari manuver untuk meredam dominasi Jampidsus yang dianggap terlalu independen.

“Kami khawatir penanganan kasus besar akan kehilangan arah sepeninggal Febrie. Energi pemberantasan korupsi sangat bergantung pada figur pimpinan. Jika penggantinya tidak sekuat beliau, maka reformasi di tubuh Kejaksaan bisa mundur,” tutur Maulana Yusuf, peneliti Indonesian Corruption Watch.

Daftar Kasus Ikonik di Era Febrie

KasusNilai Kerugian NegaraStatus
Skandal TimahRp271 triliunPenuntutan
Korupsi LPEIRp22,5 triliunPenyidikan
Mafia Tanah JakartaRp1,3 triliunTersangka
Suap Proyek InfrastrukturRp2,1 triliunPenyelidikan

Pasca-pengunduran diri, kursi Jampidsus untuk sementara diisi oleh pelaksana harian dari unsur jaksa utama madya. Kejagung berjanji akan menunjuk pengganti definitif paling lambat akhir bulan. Sejumlah nama mencuat, di antaranya mantan kepala kejaksaan tinggi yang dianggap loyal dan minim kontroversi—pilihan yang justru menimbulkan kekhawatiran baru.

Warisan yang Dipertaruhkan

Febrie Adriansyah meninggalkan warisan kompleks: kepercayaan publik terhadap Kejaksaan sempat melonjak di bawah komandonya, tetapi resistensi terhadap terobosannya juga tak kalah besar. Kasus-kasus besar yang kini bergulir berada di titik krusial. Jika estafet kepemimpinan Jampidsus tidak mulus, mega skandal berpotensi macet atau malah digerogoti dari dalam.

Pilihan Febrie untuk mundur mengirimkan sinyal ambigu: apakah ini bentuk tanggung jawab moral seorang jaksa profesional, atau jalan terhormat menghindari kekalahan dalam konflik internal? Apapun jawabannya, publik kini menanti apakah penerusnya mampu meneruskan langkah tegas yang telah dirintis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User