Oct 14, 2026
Politik

Kedai Nawasena di Tangsel Dikelola Penyandang Disabilitas

Yayasan Sayap Ibu Cabang Banten resmi meluncurkan Kedai Nawasena di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Kedai ini dioperasikan oleh para penyandang disabilitas binaan yayasan tersebut...

Kedai Nawasena di Tangsel Dikelola Penyandang Disabilitas

Yayasan Sayap Ibu Cabang Banten resmi meluncurkan Kedai Nawasena di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Kedai ini dioperasikan oleh para penyandang disabilitas binaan yayasan tersebut. Peluncuran berlangsung melalui kerja sama dengan Dimitri Herlambang, remaja berusia 16 tahun yang meraih hibah internasional IB Global Youth Action Fund (GYAF).

Peluncuran Kedai Nawasena menegaskan komitmen Yayasan Sayap Ibu Cabang Banten dalam menyediakan ruang kerja inklusif bagi penyandang disabilitas. Dimitri Herlambang menyatakan bahwa gagasan pendirian kedai ini berangkat dari keprihatinan atas terbatasnya akses kerja bagi kelompok disabilitas. "Kami ingin menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan yang setara jika diberikan kesempatan dan dukungan yang tepat," ujar Dimitri dalam acara peresmian di Bintaro, Tangerang Selatan.

Kolaborasi Yayasan dan Peraih Hibah Internasional

Kolaborasi antara Yayasan Sayap Ibu Cabang Banten dan Dimitri Herlambang terbentuk setelah remaja tersebut menerima hibah dari IB Global Youth Action Fund. Hibah itu digunakan sebagai modal awal pendirian Kedai Nawasena. Pihak yayasan menyediakan pendampingan, pelatihan, dan fasilitas operasional bagi para pekerja disabilitas yang bertugas di kedai tersebut.

Pengurus Yayasan Sayap Ibu Cabang Banten menyatakan bahwa Kedai Nawasena bukan sekadar unit usaha. "Kedai ini kami tetapkan sebagai wadah pemberdayaan ekonomi dan pengembangan keterampilan bagi penyandang disabilitas binaan yayasan," ujar perwakilan yayasan. Menurutnya, para pekerja telah melalui proses pelatihan sebelum kedai dibuka untuk umum.

Dalam Rapat Koordinasi internal yayasan, sejumlah aspek teknis dibahas, mulai dari pembagian tugas, standar pelayanan, hingga pengelolaan keuangan. Berdasarkan keputusan rapat tersebut, operasional Kedai Nawasena dijalankan dengan pola pendampingan berjenjang agar para pekerja dapat mengembangkan kapasitas secara bertahap.

Model Kafe Inklusif yang Dikelola Disabilitas

Kedai Nawasena mengusung konsep kafe inklusif. Seluruh proses pelayanan, mulai dari penyajian menu hingga interaksi dengan pelanggan, ditangani langsung oleh penyandang disabilitas. Model ini menempatkan pekerja disabilitas bukan sebagai objek program sosial, melainkan sebagai pengelola utama usaha.

Dimitri Herlambang menjelaskan bahwa pendekatan tersebut penting untuk membangun kemandirian. "Kami ingin kedai ini berjalan sebagai usaha yang sehat, bukan sekadar proyek amal," tegasnya. Ia menambahkan bahwa keberlanjutan Kedai Nawasena bergantung pada kualitas produk dan pelayanan yang diberikan kepada pelanggan.

Pihak yayasan menindaklanjuti peluncuran ini dengan penyusunan program pelatihan lanjutan. Program itu mencakup manajemen kafe, pelayanan pelanggan, keuangan dasar, dan pemasaran digital. Tujuannya agar para pekerja memiliki keterampilan yang dapat diterapkan di Kedai Nawasena maupun di tempat kerja lain pada masa mendatang.

Dukungan bagi Kemandirian Ekonomi Disabilitas

Kehadiran Kedai Nawasena di Bintaro disebut sebagai langkah nyata dalam mendorong kemandirian ekonomi penyandang disabilitas. Selama ini, akses penyandang disabilitas terhadap dunia kerja masih menghadapi berbagai hambatan, baik berupa stigma maupun keterbatasan fasilitas.

Yayasan Sayap Ibu Cabang Banten menyatakan bahwa pihaknya akan terus membuka kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperluas dampak program. "Kami mengundang dunia usaha, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk mendukung inisiatif semacam ini," ujar perwakilan yayasan. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor diperlukan agar model kafe inklusif dapat direplikasi di wilayah lain.

Dimitri Herlambang berharap Kedai Nawasena menjadi contoh bagi generasi muda. "Anak muda bisa mengambil peran dalam menciptakan solusi sosial yang berdampak langsung," tuturnya. Ia menegaskan bahwa hibah yang ia terima digunakan sepenuhnya untuk kepentingan pemberdayaan penyandang disabilitas.

Dengan dioperasikannya Kedai Nawasena, Yayasan Sayap Ibu Cabang Banten dan Dimitri Herlambang menegaskan bahwa inklusi ketenagakerjaan bagi penyandang disabilitas dapat diwujudkan melalui usaha nyata yang berkelanjutan. Kedai ini diharapkan menjadi rujukan bagi pengembangan program serupa di Tangerang Selatan maupun daerah lain di Provinsi Banten.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User