KARACHI — Sidang Komisi Yudisial terkait kasus pembunuhan pengusaha terkemuka Mir Raza Ali kembali bergulir di Pengadilan Tinggi Sindh, Selasa waktu setempat. Dalam persidangan tersebut, seorang saksi kunci yang merupakan karyawan korban membeberkan adanya dugaan intimidasi dan perlakuan kasar dari oknum penyidik kepolisian saat proses pemeriksaan berlangsung.
Saksi bernama Shahryar, yang menjabat sebagai manajer di gerai kuliner Wafflix milik korban di kawasan Bahadurabad, mengungkapkan bahwa para penyidik meluapkan amarah setelah dirinya menegaskan bahwa mendiang Mir Raza Ali sama sekali bukan pengguna narkoba. Ia juga menyebutkan sebagian poin dalam berita acara pemeriksaan (BAP) kepolisian telah dimanipulasi dan tidak sesuai dengan keterangan aslinya.
Kronologi Tekanan Terhadap Saksi dan Manipulasi BAP
Di hadapan komisi tunggal yang dipimpin oleh Hakim Pengadilan Tinggi Sindh, Justice Omar Sial, Shahryar memaparkan runtutan pemeriksaan yang dijalaninya. Ia menjelaskan bahwa dirinya telah bekerja selama dua tahun dan menganggap almarhum seperti sosok kakak yang selalu memperlakukannya dengan sangat baik.
- 2 Agustus: Penyidik kepolisian memeriksa Shahryar untuk pertama kalinya secara tertulis. Dalam sesi ini, tim penyidik pertama dilaporkan bersikap kasar dan memarahinya ketika ia menyangkal keterlibatan korban dengan obat-obatan terlarang.
- 17 Agustus: Tim investigasi kedua mengambil keterangan saksi melalui rekaman video sekaligus menyita telepon genggam miliknya untuk kepentingan penyelidikan.
- Sidang Komisi: Shahryar memberikan kesaksian resmi di bawah sumpah dan membantah isi dokumen kepolisian yang mengklaim pernyataan palsu atas namanya.
"Penyidik melontarkan berbagai pertanyaan seputar bisnis dan masalah keluarga korban. Tim pertama memperlakukan saya dengan buruk saat saya mengatakan almarhum tidak mengonsumsi narkoba," ujar Shahryar di hadapan majelis komisi.
Kondisi Finansial Restoran Sebelum Kematian Korban
Selain perlakuan penyidik, komisi yudisial turut mendalami stabilitas operasional serta keuangan bisnis kuliner milik Mir Raza. Shahryar mengakui adanya tren penurunan omzet dalam beberapa bulan terakhir sebelum insiden terjadi, yang sempat berdampak pada keterlambatan pembayaran gaji staf.
Berdasarkan data pembukuan yang disampaikan saksi, penjualan harian restoran sempat mencapai Rs100.000 (sekitar Rp5,6 juta) per hari, namun merosot ke kisaran Rs70.000 hingga Rs75.000 per hari dalam dua bulan terakhir. Kendati demikian, saksi menegaskan bahwa korban tidak menunjukkan tanda-tanda depresi atau kekhawatiran berlebih saat interaksi terakhir mereka.
Komisi Yudisial Beri Teguran Keras ke Kepolisian
Dalam persidangan yang sama, Hakim Omar Sial menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap perwakilan pemerintah provinsi dan institusi kepolisian. Pasalnya, pihak berwenang dinilai sengaja mengulur waktu dan belum menyerahkan rekam jejak berkas perkara secara lengkap kepada komisi independen, meski perintah resmi telah dilayangkan berulang kali.
Sidang komisi yudisial ini dijadwalkan terus berlanjut guna memeriksa saksi-saksi lain, termasuk dua investor bisnis dan petugas kepolisian yang menangani perkara, guna mengusut tuntas motif sebenarnya di balik kematian tragis Mir Raza Ali.
Comments (0)