Terik matahari Jakarta tidak meluruhkan semangat para pemangku kepentingan yang memadati Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (11/9/2026). Dalam perhelatan megah Indonesia Sport Summit (ISS), Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memaparkan gagasan strategis mengenai masa depan industri olahraga yang dipadukan secara harmonis dengan sektor pariwisata. Bagi pria yang memimpin provinsi berpopulasi terbesar di Indonesia tersebut, aktivitas olahraga tidak boleh lagi sekadar dipandang sebagai agenda kompetisi tahunan, melainkan sebuah mesin penggerak ekonomi baru melalui optimalisasi konsep sport tourism.
Dedi menegaskan bahwa keberhasilan memajukan industri *sport tourism* sangat bergantung pada kesiapan konektivitas infrastruktur secara menyeluruh. Tanpa aksesibilitas yang memadai, potensi alam yang memukau dan arena olahraga yang megah akan sulit dijangkau oleh wisatawan maupun atlet internasional. Oleh sebab itu, integrasi jalur transportasi menjadi fondasi utama yang harus dibangun tanpa kompromi.
"Sport tourism kan bisa tumbuh dalam sebuah daerah manakala kita mampu membangun konektivitas infrastruktur. Mulai dari bandara, jalan tol, jalan nasional, jalan provinsi, hingga jalan kabupaten dan kota yang terhubung langsung dengan fasilitas olahraga serta akomodasi perhotelan," ujar Dedi Mulyadi saat berbicara di mimbar Indonesia Sport Summit.
Integrasi Infrastruktur Penopang Olahraga dan Wisata
Konektivitas yang dimaksud tidak sekadar membangun jalan beraspal, melainkan menciptakan rantai pasok pariwisata yang efisien dan nyaman. Ketika seorang wisatawan atau atlet tiba di bandara udara, sistem moda transportasi harus secara mulus menghubungkan mereka ke jalan tol dan arteri lokal hingga tiba di destinasi akhir. Jawa Barat memiliki aset geografis yang sangat berlimpah, mulai dari pegunungan yang adem hingga garis pantai yang membentang luas, namun tantangan utamanya selalu bermuara pada pemerataan akses jalan.
| Segmen Kawasan | Potensi Sport Tourism | Fokus Peningkatan Infrastruktur |
|---|---|---|
| Kawasan Perkotaan | Maraton jalan raya, kejuaraan indoor, stadion internasional | Jalan arteri, integrasi transportasi publik massal, aksesibilitas hotel |
| Kawasan Perkebunan/Desa | Trail running, sepeda gunung (MTB), motocross, arung jeram | Perbaikan jalan kabupaten/provinsi, pembukaan akses jalur perkebunan |
Mengoptimalkan Lahan Perkebunan yang Terbengkalai
Berbeda dengan pemikiran umum yang kerap memusatkan pembangunan sarana olahraga di perkotaan, Dedi Mulyadi justru menoleh pada potensi tersembunyi di kawasan pedesaan dan perkebunan. Banyak tanah di areal perkebunan di Jawa Barat yang saat ini belum terkelola secara optimal atau bahkan dibiarkan kosong. Lahan-lahan ini memiliki kontur alam yang dramatis dan sangat potensial dikembangkan menjadi sirkuit balap sepeda gunung, rute lari lintas alam (*trail run*), hingga arena olahraga luar ruang berbasis alam.
"Di Jawa Barat banyak sekali areal-areal perkebunan yang tanahnya kosong tidak terkelola. Potensi besar ini harus kita konversi menjadi ruang ekspresi olahraga outdoor yang mampu mendatangkan nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat lokal," tutur Dedi menekankan pentingnya pemerataan ekonomi.
Menurut analisisnya, pemanfaatan lahan perkebunan kosong ini tidak hanya menghemat anggaran pembangunan fasilitas olahraga berbiaya mahal, tetapi juga sekaligus merawat kelestarian lingkungan. Dengan membiarkan lanskap alam tetap asri dan menyempurnakannya dengan jalan akses yang memadai, masyarakat desa dapat langsung merasakan dampak ekonomi dari kedatangan para penghobi olahraga. Pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas perkebunan ini diyakini sanggup mengikis kesenjangan pembangunan antara desa dan kota di Jawa Barat.
Dampak Ekonomi Bagi Masyarakat Daerah
Akselerasi kawasan *sport tourism* hingga ke pelosok desa ini diperkirakan bakal menyerap banyak tenaga kerja lokal. Kehadiran event-event olahraga secara rutin akan menghidupkan ekosistem jasa pemandu wisata, penginapan berbasis rumah warga (*homestay*), hingga pelaku UMKM di bidang kuliner dan suvenir. Sektor olahraga kini bertransformasi dari sekadar alokasi belanja daerah menjadi sebuah investasi jangka panjang yang menghasilkan multiplier effect positif bagi pendapatan asli daerah.
Dengan konektivitas yang kian solid serta pemanfaatan area perkebunan secara kreatif, Jawa Barat optimistis mampu memimpin tren *sport tourism* di Indonesia sekaligus menempatkan diri dalam peta destinasi wisata olahraga dunia pada masa mendatang.
Comments (0)