Jakarta, Apaberita.com - Tata kelola sumber daya alam melalui skema ekspor strategis dinilai mampu memperkuat fondasi ek
Lembaga Riset dan Analisis Media Digital, PoliEco Digital Insight Institute (PEDAS), mencatat bahwa ketiga komoditas tersebut memiliki kontribusi besar terhadap total ekspor nasional. Dengan nilai ga
Lembaga Riset dan Analisis Media Digital, PoliEco Digital Insight Institute (PEDAS), mencatat bahwa ketiga komoditas tersebut memiliki kontribusi besar terhadap total ekspor nasional. Dengan nilai gabungan mencapai lebih dari US$66 miliar per tahun, atau setara dengan sekitar seperempat dari keseluruhan ekspor Indonesia, pengelolaan yang terstruktur menjadi sangat penting.
Penguatan Posisi Indonesia di Pasar Global
Direktur PEDAS, Anthony Leong, mengungkapkan bahwa besarnya nilai ekonomi ketiga komoditas itu menegaskan urgensi implementasi kebijakan yang sedang dijalankan pemerintah. "Nilai ekonomi yang sangat besar ini menunjukkan betapa strategisnya kebijakan yang sedang dijalankan pemerintah dalam memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global," ujarnya dalam keterangan yang diterima Apaberita.com, Kamis (27/5/2025).
"Nilai ekonomi yang sangat besar ini menunjukkan betapa strategisnya kebijakan yang sedang dijalankan pemerintah dalam memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global." – Anthony Leong, Direktur PEDAS
Menurut analisis PEDAS, skema tata kelola ekspor melalui Departemen Statistik Industri (DSI) bukan hanya soal pencatatan, melainkan juga sarana untuk menutup celah kebocoran devisa. Dengan mekanisme yang transparan dan akuntabel, setiap dolar hasil ekspor diyakini dapat lebih cepat masuk ke sistem keuangan nasional dan digunakan untuk mendanai berbagai program strategis.
Lebih jauh, Leong menekankan bahwa dampak positif dari tata kelola yang baik akan merembet ke penciptaan ekosistem bisnis yang lebih adil. "Bukan hanya soal penerimaan negara, tetapi juga bagaimana kita bisa memastikan bahwa rantai pasok domestik mendapat manfaat maksimal dari setiap rupiah devisa yang masuk," jelasnya.
Sejalan dengan Agenda Hilirisasi
Skema ekspor strategis ini selaras dengan agenda besar pemerintah untuk menghentikan ekspor bahan mentah dan beralih ke produk bernilai tambah. Dengan pengelolaan yang terarah, investasi di sektor pengolahan batu bara menjadi briket berkualitas tinggi, CPO menjadi biodiesel dan oleokimia, serta ferroalloy untuk kebutuhan industri baja dan otomotif, diproyeksi meningkat signifikan. Hal ini sekaligus membuka lapangan kerja baru dan memperkuat kapasitas industri nasional.
PEDAS menyoroti bahwa selama ini posisi Indonesia terlalu lama terjebak sebagai pengekspor bahan mentah. Dengan tata kelola ekspor yang lebih ketat dan terintegrasi melalui DSI, pemerintah memiliki alat untuk mendorong perusahaan tambang dan perkebunan agar berinvestasi di fasilitas pengolahan dalam negeri. Hasilnya, Indonesia tidak lagi sekadar menjadi penonton dalam rantai nilai global, melainkan pemain utama yang menentukan harga dan standar produk.
Secara keseluruhan, langkah ini dipandang sebagai "pengubah permainan" yang akan memperkokoh kemandirian ekonomi Indonesia. Sinergi antara kementerian teknis, lembaga pengawas, pelaku usaha, dan mitra riset seperti PEDAS diharapkan mampu mengeksekusi kebijakan ini secara konsisten. Jika berhasil, Indonesia akan mencatatkan babak baru dalam sejarah pengelolaan kekayaan alam yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Comments (0)