DEPOK — Sebuah peristiwa tak biasa terjadi di Toko Perabot Berkah yang berlokasi di Jalan H. Dimun, RT 03/24, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Kota Depok. Seorang ibu-ibu nekat menggasak tujuh unit setrika dari toko tersebut pada Selasa, 22 September 2026, sesaat setelah waktu Maghrib. Aksi itu diduga dilakukan dengan modus sengaja membuat para pegawai toko sibuk terlebih dahulu, sebelum pelaku leluasa membawa kabur barang dagangan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi, peristiwa bermula ketika pelaku masuk ke toko dengan penampilan layaknya pembeli biasa. Ia kemudian meminta sejumlah pegawai untuk melayani berbagai permintaan, mulai dari mengecek stok barang hingga menunjukkan beberapa jenis perabot. Kondisi itu membuat perhatian pegawai terpecah. Tujuh unit setrika dilaporkan raib dari rak pajangan dalam kurun waktu yang relatif singkat.
Kronologi Kejadian di Toko Perabot Berkah
- Pukul 18.15 WIB — Pelaku tiba di Toko Perabot Berkah dengan mengenakan pakaian sederhana dan membawa tas berukuran sedang.
- Pukul 18.20 WIB — Pelaku meminta pegawai menunjukkan aneka perabot rumah tangga di beberapa rak berbeda, memecah konsentrasi petugas.
- Pukul 18.35 WIB — Sejumlah pegawai sibuk melayani permintaan pelaku, sementara rak setrika relatif tanpa pengawasan.
- Pukul 18.45 WIB — Pelaku meninggalkan toko dengan tas yang tampak lebih padat dari sebelumnya.
- Pukul 19.00 WIB — Pegawai menyadari tujuh setrika hilang saat melakukan pengecekan stok rutin usai Maghrib.
Pihak toko langsung melakukan penelusuran internal, termasuk memeriksa ulang catatan penjualan dan rekaman pengawasan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari kepolisian mengenai status penyelidikan. Namun, sejumlah saksi menyebut pelaku beraksi seorang diri dan bergerak cepat begitu situasi toko mulai lengang.
Modus "Bikin Sibuk" yang Perlu Diwaspadai
Modus membuat pegawai sibuk bukan hal baru dalam kasus pencurian ritel. Pelaku biasanya memanfaatkan keterbatasan jumlah petugas pada jam sibuk, terutama menjelang waktu ibadah Maghrib. "Pelaku sering membaca situasi toko terlebih dahulu. Jika pegawai sedikit, mereka akan menciptakan permintaan yang menyita perhatian," ujar seorang pengamat keamanan ritel yang enggan disebut namanya.
Menurut catatan sederhana di lapangan, pola serupa memiliki kemiripan dengan kejadian di sejumlah toko perabot lain di kawasan Depok dan sekitarnya. Berikut perbandingan indikatif berdasarkan informasi yang dihimpun:
| Aspek | Kejadian di Cilodong | Pola Umum Ritel |
|---|---|---|
| Waktu aksi | Usai Maghrib | Jam lengang/sore |
| Jumlah pelaku | 1 orang | 1–3 orang |
| Barang sasaran | 7 setrika | Barang ringan & cepat dijual |
| Modus | Bikin pegawai sibuk | Distraksi petugas |
Dari sisi kerugian, tujuh setrika dengan harga rata-rata ratusan ribu rupiah per unit berpotensi menimbulkan kerugian hingga jutaan rupiah. Nilai itu tentu signifikan bagi usaha ritel perabot skala kecil dan menengah yang mengandalkan margin tipis.
Antisipasi bagi Pedagang dan Konsumen
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pengawasan di toko tetap harus berjalan optimal, termasuk pada jam-jam rawan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain menambah petugas jaga pada jam sibuk, memasang kamera pengawas di titik strategis, serta menempatkan barang bernilai relatif tinggi di area yang mudah terpantau.
Sementara itu, warga diimbau tetap waspada dan tidak segan melaporkan aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar. Sampai kini, belum ada informasi mengenai identitas pelaku maupun kemungkinan penangkapan. Polisi diharapkan dapat mengungkap kasus ini agar tidak memicu aksi serupa di kemudian hari.
Comments (0)