Grogol Selatan Latih Warga Ubah Sampah Dapur Jadi Pupuk Kompos
Jakarta – Puluhan warga Kelurahan Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengikuti pelatihan pembuatan komposter pada Sabtu (5/4). Pelatihan yang berlangsung di aula kantor kelurahan ini b...
Jakarta – Puluhan warga Kelurahan Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengikuti pelatihan pembuatan komposter pada Sabtu (5/4). Pelatihan yang berlangsung di aula kantor kelurahan ini bertujuan mengajarkan teknik mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos bernilai guna.
Inisiatif ini digagas oleh Pemerintah Kelurahan Grogol Selatan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta sebagai bagian dari program pengelolaan sampah berbasis masyarakat. “Kami ingin warga mampu memilah dan mengolah sampahnya sendiri, khususnya sampah sisa makanan dan dedaunan,” ujar Lurah Grogol Selatan, Ahmad Fauzi, saat membuka acara.
Kegiatan ini menindaklanjuti Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga yang mewajibkan setiap RW memiliki fasilitas pengolahan sampah mandiri. Gubernur DKI Jakarta sebelumnya menargetkan pengurangan sampah ke TPA Bantargebang sebesar 30 persen pada akhir 2025, dan pengomposan menjadi salah satu pilar utama strategi tersebut.
Mengurangi Beban Tempat Pembuangan Akhir
Data DLH DKI Jakarta mencatat, sekitar 60 persen dari 7.500 ton sampah harian Ibu Kota merupakan sampah organik. Selama ini, sampah tersebut langsung diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang tanpa pengolahan, sehingga memperpendek usia operasional TPA yang sudah mendekati kapasitas maksimal. Pelatihan komposter skala rumah tangga dinilai sebagai solusi strategis dari hulu.
Setiap rumah tangga rata-rata menghasilkan 1,5 kilogram sampah organik per hari. Jika diolah dengan komposter, sampah itu bisa disulap menjadi kompos dalam waktu empat pekan, dan dimanfaatkan untuk tanaman di pekarangan atau dijual sebagai sumber pendapatan tambahan.
Praktik Membuat Komposter dari Drum Bekas
Dalam sesi pelatihan, peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok menerima satu drum plastik bekas berkapasitas 80 liter, pipa PVC berdiameter 3 inci, keran plastik, kasa nyamuk, dan seperangkat alat potong. Di bawah bimbingan fasilitator dari DLH, warga belajar melubangi drum, memasang pipa aerasi, dan merangkai kran di bagian dasar untuk mengeluarkan lindi—cairan hasil dekomposisi yang juga berfungsi sebagai pupuk cair.
“Pembuatannya sebenarnya sederhana, kuncinya ada pada sirkulasi udara dan kelembapan bahan. Kalau oksigen lancar, proses pengomposan tidak akan menimbulkan bau,” jelas Nurhasanah, penyuluh lingkungan dari DLH DKI Jakarta, yang memandu teknis pelatihan.
Salah satu peserta, Marwiyah (43), mengaku baru pertama kali belajar membuat komposter. “Saya kira rumit, ternyata cukup pakai drum bekas dan alat sederhana yang mudah didapat. Ini murah dan sangat bermanfaat,” katanya sambil merapikan komposter yang setengah jadi. Ia berencana menempatkan komposter di dapur agar langsung mengolah sisa sayur setiap hari.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH DKI Jakarta, Rahmat Hidayat, yang hadir memantau pelatihan, menjelaskan bahwa program ini menyasar kawasan padat penduduk yang minim lahan terbuka. “Komposter sederhana adalah jawaban atas keterbatasan lahan. Tidak perlu halaman luas, cukup sudut dapur atau balkon,” jelasnya.
Dari Sampah Menjadi Panen
Setelah komposter selesai dirakit, peserta diajari tata cara pengisian bahan dan perawatan rutin. Bahan organik seperti sisa sayur, kulit buah, daun kering, dan ampas teh dimasukkan bergantian dengan lapisan tanah atau aktivator berupa mikroorganisme lokal (MOL) dari air cucian beras. Setiap dua hari sekali, komposter perlu diaduk menggunakan tuas pengaduk agar proses dekomposisi merata.
Dalam kondisi optimal, kompos siap dipanen pada hari ke-30, ditandai dengan tekstur yang gembur, warna cokelat kehitaman, dan aroma khas tanah. Warga didorong untuk memanfaatkan kompos tersebut di lahan pekarangan sendiri atau dibagikan ke tetangga yang membutuhkan. Bagi yang tidak memiliki lahan, hasil kompos dapat disetor ke bank sampah kelurahan untuk ditukar dengan sembako.
Target Perluasan dan Keberlanjutan Program
Pelatihan ini merupakan gelombang pertama dari total tiga gelombang yang direncanakan sepanjang tahun 2025. Kepala Seksi Kebersihan Kelurahan Grogol Selatan, Haryono, menyebutkan target 150 rumah tangga telah mengikuti pelatihan serupa pada akhir tahun. “Kami berharap setiap RT nanti punya setidaknya lima rumah yang aktif mengompos sehingga volume sampah yang dibuang ke TPS bisa turun 30 persen,” tuturnya.
Untuk menjaga keberlanjutan, kelurahan akan membentuk pos pemantau di tiap RW yang bertugas mendampingi warga pascapelatihan. Selain itu, bahan baku pembuatan komposter akan disuplai secara gratis melalui kerja sama dengan pengepul barang bekas setempat.
“Ini bukan sekadar pelatihan satu kali. Kami ingin menciptakan budaya baru bahwa sampah organik adalah sumber daya, bukan masalah,” pungkas Lurah Ahmad Fauzi menutup acara. Sorak-sorai peserta yang membawa pulang komposter jadi mengiringi penutupan, menandai langkah kecil yang diharapkan berdampak besar bagi lingkungan Grogol Selatan.
Ketua RW 05, Slamet Riyadi, yang turut hadir menyatakan dukungannya. “Kami akan mengajak karang taruna untuk mendata setiap rumah yang mulai memisahkan sampah organik. Kalau perlu, kami lombakan antar-RT siapa yang paling banyak menghasilkan kompos,” kata Slamet dengan semangat.
Selain komposter individu, pelatihan juga memperkenalkan komposter komunal untuk area rumah susun atau gang sempit. Komposter komunal berkapasitas 200 liter dapat menampung sampah dari 10 hingga 15 kepala keluarga dan dioperasikan secara bergilir.
Dari sisi ekonomi, setiap kilogram kompos dihargai sekitar Rp5.000 di pasaran. Dengan produksi rata-rata 5 kilogram per bulan per rumah, potensi pendapatan tambahan bisa mencapai Rp300.000 per tahun, meskipun kecil namun berarti bagi warga.
Comments (0)