Gempa Nagekeo Picu Tsunami di Bulukumba hingga Baubau
Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) pagi, telah memicu peringatan dini tsunami dan terdeteksinya gelombang pasang di s...
Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) pagi, telah memicu peringatan dini tsunami dan terdeteksinya gelombang pasang di sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan serta NTT. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan tsunami setinggi 0,54 meter tercatat di Kabupaten Bulukumba, sementara Kota Baubau mencatat kenaikan permukaan air laut sebesar 0,30 meter. Kejadian ini berlangsung pada dini hari waktu setempat dan menimbulkan respons penanganan darurat dari pemerintah daerah setempat.
Data Tsunami di Berbagai Wilayah Pesisir
Staf Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Wilayah IV, Muh. Karnaen, menegaskan bahwa gelombang tsunami akibat gempa Nagekeo mulai terdeteksi pada Sabtu pagi. Menurutnya, di Kota Baubau tercatat kenaikan air laut sekitar pukul 06.47 WITA dengan ketinggian 0,30 meter, sedangkan di Kabupaten Bulukumba terekam pada sekitar pukul 06.58 WITA setinggi 0,54 meter. Karnaen menyatakan bahwa data tersebut diperoleh dari jaringan monitoring pasang surut yang tersebar di sepanjang wilayah pesisir Indonesia bagian timur.
Selain Bulukumba dan Baubau, BMKG juga mencatat adanya deteksi tsunami di sejumlah lokasi lain. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Alor, Dompu, Kabupaten Flores Timur, Kolaka, Labuan Bajo, Ende, serta Pelabuhan Sikka. Dari seluruh data yang dikumpulkan, ketinggian tsunami tertinggi terjadi di Ende yang mencapai 0,94 meter. Karnaen menegaskan bahwa seluruh pengamatan tersebut ditetapkan berdasarkan pengukuran instrumen pasut dan telah divalidasi melalui keputusan operasional pusat pengendali bencana kehidupan.
Status Siaga di Tiga Daerah Sulawesi Selatan
Dampak potensi tsunami tidak hanya terbatas di wilayah NTT, melainkan juga menjangkau sebagian pesisir Sulawesi Selatan. Karnaen menyatakan bahwa tiga daerah pesisir di provinsi tersebut ditetapkan dalam status Siaga, yakni Kabupaten Kepulauan Selayar, Kabupaten Bantaeng, dan Kabupaten Jeneponto. Status tersebut diberlakukan sebagai langkah mitigasi dini menyusul adanya potensi gelombang pasang susulan yang mungkin terjadi pascagempa besar.
"Iya, tiga daerah masuk status siaga. Yaitu, Selayar Bantaeng dan Jeneponto," jelas Staf PGR BMKG IV Muh. Karnaen.
Penetapan status Siaga tersebut menindaklanjuti hasil analisis spasial BMKG terkait pergerakan lempeng dan potensi deformasi dasar laut di sekitar episentrum gempa Nagekeo. Pihak berwenang di ketiga kabupaten kemudian menyatakan kesiapannya untuk mengantisipasi berbagai skenario bencana, termasuk evakuasi warga pesisir jika terjadi peningkatan aktivitas gelombang laut yang membahayakan.
Respons Pemerintah Daerah dan Kondisi Lapangan
Di tengah peringatan dini yang diterbitkan, Pemerintah Kabupaten Bulukumba menyatakan kondisi di wilayah pesisirnya tetap aman dan kondusif. Humas Kabupaten Bulukumba, Andi Ayatullah Ahmad, menegaskan bahwa pihaknya telah mengambil keputusan untuk mengimbau masyarakat, khususnya yang bermukim di kawasan pesisir, agar tetap waspada dan untuk sementara tidak melakukan aktivitas di laut.
"Kalau untuk kondisi saat ini masih aman. Kami telah memberikan imbauan kepada masyarakat khususnya pesisir agar tetap waspada dan untuk sementara tidak berkegiatan di laut," kata Humas Kabupaten Bulukumba Andi Ayatullah Ahmad.
Berbeda dengan Bulukumba, situasi di Kabupaten Kepulauan Selayar sempat mengalami kepanikan. Warga yang bermukim di wilayah kepulauan, termasuk di Desa Lembang dan Desa Kalaotoa, berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri ke daerah ketinggian. Kapolres Selayar, AKBP Didid Imawan, menyatakan bahwa sejumlah warga secara mandiri telah mengungsi ke lokasi-lokasi yang dianggap aman dari ancaman gelombang tsunami.
"Banyak warga sudah pergi ke tempat yang tinggi," ujar Kapolres Selayar AKBP Didid Imawan.
Keputusan warga untuk mengungsi ke dataran tinggi tersebut diambil secara spontan sebagai respons terhadap getaran gempa yang terasa kuat di wilayah kepulauan. Meskipun kondisi di beberapa titik sempat tegang, pihak kepolisian setempat menyatakan bahwa situasi berangsur terkendali dan tidak ada laporan kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa akibat tsunami. BMKG terus memantau perkembangan kondisi laut dan menegaskan bahwa masyarakat harus mengikukan informasi resmi dari instansi berwenang terkait status bencana di wilayahnya masing-masing.
Comments (0)