Formas dan Untar Gelar Diskusi Ketahanan Ekonomi Nasional
Forum Masyarakat Indonesia Emas (Formas) bersama Universitas Tarumanagara (Untar) menggelar diskusi bertajuk "Menguji Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Turbulensi Global: Tahan Banting atau Rentan...
Forum Masyarakat Indonesia Emas (Formas) bersama Universitas Tarumanagara (Untar) menggelar diskusi bertajuk "Menguji Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Turbulensi Global: Tahan Banting atau Rentan?" pada Jumat, 17 Juli 2026. Diskusi yang berlangsung di Aula Rektorat Untar, Jakarta Barat, ini dihadiri oleh akademisi, ekonom, dan perwakilan pemerintah untuk mengkaji fundamental ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Latar Belakang Diskusi
Ketua Umum Formas, Prof. Dr. Bambang Sulistyo, dalam sambutannya menegaskan bahwa diskusi ini digelar sebagai respons atas gejolak ekonomi dunia yang semakin tidak menentu. "Kami melihat perlunya evaluasi komprehensif terhadap ketahanan ekonomi Indonesia. Apakah fondasi kita cukup kuat atau justru rentan terhadap guncangan eksternal," ujar Prof. Bambang. Berdasarkan data yang dipaparkan, inflasi global diperkirakan masih tinggi pada semester kedua 2026, sementara suku bunga acuan di negara maju belum menunjukkan tren penurunan signifikan.
Paparan Narasumber Utama
Diskusi menghadirkan tiga narasumber utama. Pertama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dr. Ir. Airlangga Hartarto, yang menyampaikan kebijakan fiskal dan moneter pemerintah dalam menghadapi turbulensi. Airlangga menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan sejumlah instrumen stabilisasi, termasuk penguatan cadangan devisa dan diversifikasi pasar ekspor. "Kami telah menindaklanjuti arahan Presiden dengan menggelar Rapat Koordinasi Tingkat Menteri untuk mengantisipasi dampak perlambatan ekonomi global pada triwulan III 2026," tegasnya.
Narasumber kedua, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Dr. Febrio Kacaribu, memaparkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan tetap di kisaran 5,1-5,3 persen pada tahun 2026. "Berdasarkan UU APBN 2026, kita masih memiliki ruang fiskal yang memadai. Rasio utang terhadap PDB terjaga di level 38,5 persen, jauh di bawah batas aman 60 persen," jelas Febrio. Ia juga menyoroti pentingnya reformasi struktural untuk meningkatkan daya saing nasional.
Narasumber ketiga, ekonom senior dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rizal Ramli, memberikan perspektif kritis. Dalam paparannya, Rizal mengingatkan bahwa sektor manufaktur dan industri pengolahan masih menghadapi tekanan dari perlambatan permintaan global. "Indeks PMI Manufaktur Indonesia pada Juni 2026 tercatat 50,2, hanya sedikit di atas ambang ekspansi. Kita perlu memperkuat hilirisasi dan substitusi impor agar tidak bergantung pada fluktuasi komoditas," ujarnya.
Sesi Diskusi dan Tanya Jawab
Setelah pemaparan, diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untar, Dr. Ir. Andi Widjaja. Salah satu peserta, aktivis mahasiswa dari Formas, menanyakan langkah konkret pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga pangan. Menanggapi hal itu, Menteri Airlangga menegaskan bahwa pemerintah telah menindaklanjuti Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi yang digelar pada awal Juli 2026. "Kita sudah menggelar operasi pasar di 34 provinsi dan menyalurkan bantuan pangan kepada 21,3 juta keluarga penerima manfaat. Keputusan ini sudah disahkan dalam Pleno Tim Pengendali Inflasi Daerah," papar Airlangga.
Pertanyaan lain datang dari dosen Untar yang menyoroti ketimpangan pemulihan ekonomi antarwilayah. Dr. Febrio Kacaribu menjawab bahwa pemerintah telah menetapkan kebijakan fiskal asimetris, di mana daerah dengan pertumbuhan rendah mendapat alokasi transfer ke daerah lebih besar. "Berdasarkan data realisasi APBD triwulan II 2026, belanja modal di daerah tertinggal naik 12,7 persen year-on-year. Ini menunjukkan komitmen kita untuk pemerataan," jelasnya.
Kesimpulan Diskusi
Prof. Bambang Sulistyo selaku moderator merangkum bahwa diskusi ini menghasilkan tiga rekomendasi utama. Pertama, perlunya menjaga stabilitas makroekonomi melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang ketat. Kedua, mempercepat transformasi ekonomi digital dan hilirisasi sumber daya alam untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas primer. Ketiga, memperkuat jaring pengaman sosial bagi kelompok rentan agar daya beli tetap terjaga. "Rekomendasi ini akan kami teruskan kepada pemerintah dan DPR sebagai masukan untuk kebijakan ke depan," tegas Prof. Bambang.
Rektor Untar, Prof. Dr. Ir. Ari Kuncoro, memberikan penutup dengan menyatakan bahwa Universitas Tarumanagara berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam mengkaji isu-isu kebangsaan. "Kami akan terus menggelar forum-forum ilmiah seperti ini sebagai kontribusi nyata bagi ketahanan ekonomi Indonesia," pungkasnya. Diskusi berlangsung selama tiga jam dan dihadiri oleh 250 peserta, termasuk perwakilan Fraksi Partai Politik di DPR, pengusaha, dan mahasiswa. Formas berencana menggelar diskusi serupa secara berkala setiap triwulan.
Comments (0)