Sep 16, 2026
Hukum

Filipina — Senator Zubiri Soroti Pusat Pelatihan TESDA Jadi Kandang Kambing

MANILA — Pemimpin Mayoritas Senat Filipina, Juan Miguel “Migz” Zubiri, melontarkan kritik pedas terhadap manajemen Technical Education and Skills Developme

Filipina — Senator Zubiri Soroti Pusat Pelatihan TESDA Jadi Kandang Kambing

MANILA — Pemimpin Mayoritas Senat Filipina, Juan Miguel “Migz” Zubiri, melontarkan kritik pedas terhadap manajemen Technical Education and Skills Development Authority (TESDA). Dalam keterangannya di hadapan sidang Senat di Manila, Zubiri mengungkapkan temuan mengejutkan terkait sejumlah pusat pelatihan vokasi TESDA di Provinsi Bukidnon, Mindanao, yang ia bantu dirikan melalui dana alokasi pemerintah. Bukannya digunakan untuk mengasah keterampilan warga, gedung-gedung tersebut justru terbengkalai dan beralih fungsi menjadi tempat penampungan ternak atau kandang kambing.

Pernyataan tegas ini disampaikan Zubiri saat menyoroti efektivitas penggunaan anggaran negara untuk program pendidikan vokasi dan kejuruan. Ia menyatakan rasa prihatin dan kekecewaannya karena infrastruktur yang dirancang untuk memberdayakan tenaga kerja lokal serta mengurangi angka pengangguran justru diabaikan oleh pengelola di tingkat daerah.

Kronologi dan Temuan Lapangan Pusat Pelatihan Terbengkalai

Pembangunan pusat-pusat pelatihan TESDA di Bukidnon sebenarnya digagas dengan iktikad baik untuk mendekatkan akses pendidikan keterampilan bagi masyarakat perdesaan. Namun, pengawasan yang lemah setelah proses konstruksi selesai menyebabkan fasilitas tersebut kehilangan fungsi utamanya. Berikut adalah alur perkembangan dan temuan yang disampaikan dalam sidang Senat:

  1. Inisiasi dan Pengalokasian Anggaran: Senator Zubiri mengawal penganggaran dan pembangunan beberapa pusat pelatihan TESDA di wilayah Bukidnon guna menunjang program vokasi daerah.
  2. Selesainya Konstruksi Bangunan: Gedung-gedung selesai dibangun lengkap dengan ekspektasi menjadi pusat pelatihan mekanik, pertukangan, pertanian, dan keterampilan teknis lainnya.
  3. Minimnya Operasional dan Pengawasan: Setelah diserahterimakan, kegiatan pelatihan tidak berjalan secara konsisten akibat kurangnya instruktur, peralatan pendukung, dan koordinasi manajemen TESDA lokal.
  4. Alih Fungsi Fasilitas: Warga setempat dan pengelola lokal akhirnya memanfaatkan gedung kosong tersebut sebagai aula serbaguna yang tak terawat, hingga berujung digunakan sebagai "tambakan ng kambing" (kandang penampungan kambing).

Zubiri menegaskan bahwa pemandangan tersebut sangat ironis mengingat pemerintah setiap tahun mengucurkan dana miliaran peso untuk program perbaikan gizi dan peningkatan kapasitas kerja melalui lembaga kejuruan tersebut.

Analisis Efisiensi Anggaran dan Dampak Sosial

Kasus pembiaran gedung TESDA di Bukidnon menjadi preseden buruk dalam tata kelola anggaran publik di sektor pendidikan kejuruan. Ketika ribuan pemuda di kawasan perdesaan membutuhkan sertifikasi dan keahlian khusus untuk menembus pasar kerja, aset fisik bernilai tinggi justru menganggur tanpa manfaat nyata.

Pengamat kebijakan publik setempat menilai keterbengkalaian ini dipicu oleh lemahnya perencanaan berkelanjutan. "Pembangunan fisik gedung tanpa disertai kesiapan dana operasional, kurikulum yang relevan, dan ketersediaan tenaga pengajar yang kompeten hanya akan menghasilkan proyek infrastruktur yang sia-sia," ujar seorang pakar pendidikan vokasi di Manila.

Untuk memberikan gambaran jelas mengenai ketimpangan antara perencanaan awal dan kondisi riil di lapangan, berikut tabel perbandingan fungsi fasilitas TESDA di Bukidnon:

Indikator Evaluasi Rencana & Target Awal Kondisi Riil di Lapangan
Fungsi Utama Bangunan Pusat pelatihan kejuruan & sertifikasi vokasi Dimanfaatkan sebagai kandang ternak / pemukiman serbaguna
Target Penerima Manfaat Ribuan pemuda & pencari kerja di Bukidnon Hampir tidak ada kegiatan belajar mengajar aktif
Pengawasan & Manajerial Tersentralisasi dan terpantau berkala oleh TESDA Terputus pasca-konstruksi, minim integrasi instrumen lokal
Penggunaan Anggaran Efektif meningkatkan angka penyerapan tenaga kerja Berpotensi menjadi inefisiensi dan pemborosan uang negara

Tuntutan Evaluasi dan Pembenahan Manajemen TESDA

Menanggapi kondisi tersebut, Senat mendesak pimpinan TESDA untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh pusat pelatihan di wilayah Filipina Selatan, khususnya di Provinsi Bukidnon. Zubiri meminta otoritas terkait tidak hanya fokus pada pembangunan gedung baru, tetapi juga menjamin keberlanjutan operasional fasilitas yang sudah ada.

Legislator menegaskan bahwa alokasi anggaran mendatang bagi TESDA akan dikaji ulang secara ketat. Anggota parlemen menuntut jaminan bahwa setiap peso yang dikeluarkan dapat dipertanggungjawabkan serta memberikan dampak langsung pada pengurangan angka kemiskinan. Jika manajemen TESDA tidak segera membenahi dan mengaktifkan kembali fasilitas yang mangkrak tersebut, pihak senat mengancam akan memotong alokasi dana pengembangan infrastruktur lembaga tersebut pada tahun anggaran berikutnya.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi seluruh instansi pemerintah agar menjaga integritas proyek pembangunan, memastikan aset negara digunakan sesuai peruntukannya, dan memberikan pelayanan maksimal bagi masyarakat yang membutuhkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User