SAMARINDA — Langkah Indonesia untuk mempererat integrasi dan bergabung ke dalam blok ekonomi BRICS dinilai menjadi manuver strategis yang mampu memperkokoh stabilitas serta ketahanan ekonomi nasional. Keberadaan Indonesia di tengah kelompok negara-negara berkembang utama tersebut diyakini membuka akses pasar nontradisional yang jauh lebih luas bagi komoditas unggulan dalam negeri.
Ekonom dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Aji Sofyan Efendi, mengungkapkan bahwa keanggotaan dalam BRICS bukan sekadar langkah diplomasi politik luar negeri, melainkan instrumen nyata dalam mendorong diversifikasi perdagangan dan investasi internasional.
"Bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS memberikan posisi tawar yang jauh lebih kuat dalam tatanan ekonomi global. Langkah ini membuka koridor perdagangan baru, mengurangi risiko ketergantungan pada pasar tradisional Barat, serta memperluas peluang investasi langsung," ujar Aji Sofyan Efendi.
Peluang Akses Pasar dan Diversifikasi Perdagangan
Kemitraan strategis dalam BRICS memposisikan Indonesia sejajar dengan negara-negara berkekuatan ekonomi masif seperti Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, serta anggota baru lainnya. Sinergi ini membuka ruang ekspansi bagi produk ekspor nasional, mulai dari sektor energi, kelapa sawit, manufaktur, hingga produk hilirisasi tambang.
Aji mencatat sejumlah keuntungan ekonomi konkret yang dapat diraih Indonesia melalui keterlibatan aktif di BRICS:
- Perluasan Pasar Ekspor: Penetrasi produk lokal ke negara-negara anggota BRICS yang memiliki populasi gabungan lebih dari 40 persen penduduk dunia.
- Akses Pendanaan Pembangunan: Peluang pembiayaan infrastruktur melalui New Development Bank (NDB) dengan skema yang lebih fleksibel dan kompetitif.
- Diversifikasi Mata Uang: Pemanfaatan skema transaksi mata uang lokal (Local Currency Settlement/LCS) guna menekan ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi volatilitas nilai tukar.
Menjaga Keseimbangan Diplomasi Ekonomi Bebas Aktif
Lebih lanjut, keterlibatan Indonesia dalam BRICS dinilai tetap selaras dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Bergabungnya Indonesia ke aliansi ini tidak berarti menutup pintu kerja sama dengan negara-negara Barat atau organisasi ekonomi multilateral lainnya seperti OECD.
Menurut Aji, diplomasi ekonomi yang fleksibel justru menjadi kunci dalam menjaga ketahanan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global. Indonesia dapat bertindak sebagai jembatan strategis antara kekuatan ekonomi Global South dan negara-negara maju, sembari memaksimalkan masuknya arus investasi langsung (FDI) untuk proyek-proyek strategis domestik.
Tantangan Penguatan Daya Saing Industri Domestik
Kendati menawarkan potensi ekonomi yang sangat besar, pemerintah diingatkan agar segera membenahi kesiapan sektor industri dalam negeri. Tanpa peningkatan produktivitas, efisiensi logistik, dan daya saing komoditas olahan, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar konsumsi bagi produk-produk impor dari anggota BRICS lainnya.
Pemerintah diharapkan merumuskan peta jalan integrasi perdagangan yang jelas, memperkuat standardisasi produk ekspor, serta mendorong transfer teknologi dari negara-negara mitra agar keanggotaan ini memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Comments (0)