Dua Kontroversi The Sounds Project, Aldi Taher Minta Maaf ke Vokalis JET

Dua peristiwa berbeda yang terjadi dalam satu gelaran festival musik The Sounds Project di kawasan Pademangan, Jakarta Utara, pada Selasa (11/8) menyita perhatian publik dan menimbulkan reaksi luas di...

Dua Kontroversi The Sounds Project, Aldi Taher Minta Maaf ke Vokalis JET

Dua peristiwa berbeda yang terjadi dalam satu gelaran festival musik The Sounds Project di kawasan Pademangan, Jakarta Utara, pada Selasa (11/8) menyita perhatian publik dan menimbulkan reaksi luas di jagat maya. Pertama, aksi panggung artis Aldi Taher yang secara spontan memeluk vokalis grup band asal Australia, JET, Nic Cester, hingga memicu perdebatan etika di media sosial. Kedua, viralnya video tantangan hafalan Alquran yang menawarkan hadiah minuman keras dalam area festival, yang kini tengah dalam penyelidikan intensif aparat kepolisian setempat. Keduanya terjadi dalam rentang waktu yang bersamaan dan berimbas pada reputasi penyelenggaraan acara musik tersebut.

Aksi Panggung Aldi Taher dan Permintaan Maaf

Artis peran dan musisi Aldi Taher kembali menjadi sorotan setelah unggahan video yang memperlihatkan dirinya memeluk erat vokalis JET, Nic Cester, di atas panggung The Sounds Project beredar luas di platform digital. Peristiwa tersebut berlangsung pada hari yang sama, Selasa (11/8), ketika Aldi Taher tampil sebagai bagian dari rangkaian pertunjukan dalam festival musik tersebut. Menyadari dampak dari gestur yang ia lakukan, Aldi Taher menyatakan permohonan maaf secara pribadi melalui fitur pesan langsung direct message Instagram kepada Nic Cester.

Dalam keterangan yang ia sampaikan melalui akun media sosialnya, Aldi Taher menegaskan bahwa tindakan memeluk vokalis band legendaris tersebut murni didorong oleh rasa hormat dan kekaguman yang telah ia miliki sejak masa sekolah menengah atas. Ia menyatakan bahwa karya-karya musik grup JET menjadi bagian dari perjuangannya saat menjalani masa pengobatan sebagai penyintas kanker. Selain itu, permintaan maaf juga disampaikan Aldi Taher kepada seluruh jajaran tim panitia penyelenggara, kru backstage, serta pihak manajemen artis yang merasa terganggu dengan kehebohan yang ditimbulkan. Ia menyatakan akan menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran untuk tampil lebih terukur di depan publik ke depannya.

Penyelidikan Polisi terhadap Tantangan Alquran Berhadiah Miras

Di sisi lain, gelaran yang sama juga dilanda kontroversi serius setelah sebuah video yang merekam adegan tantangan membaca Alquran dengan hadiah berupa minuman keras viral di media sosial. Video tersebut diperkirakan direkam di dalam area The Sounds Project dan langsung memicu gelombang kecaman dari netizen yang menganggap aksi tersebut sebagai bentuk pelecehan terhadap kitab suci umat Islam. Menindaklanjuti viralnya video dan meningkatnya tekanan publik, aparat kepolisian dari Polsek Pademangan bersama Polres Metro Jakarta Utara langsung membuka penyelidikan.

Kepala Kepolisian Sektor Pademangan Kompol Sujarwo, yang ditunjuk sebagai penanggung jawab operasional di lokasi, menyatakan bahwa pihaknya telah memerintahkan tim unit Reskrim untuk mengumpulkan barang bukti digital dan mengidentifikasi pelaku yang terlibat dalam penyelenggaraan tantangan tersebut. Dalam rapat koordinasi yang digelar di Mapolsek Pademangan pada Rabu (12/8), ia menegaskan bahwa setiap bentuk aktivitas yang mengandung unsur penistaan agama akan diproses secara tegas berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Penyidik kini tengah memeriksa keterangan saksi dan menganalisis rekaman kamera pengawas yang terpasang di sekitar lokasi kejadian untuk menentukan status hukum para pihak yang terlibat.

Implikasi Hukum dan Tanggung Jawab Penyelenggara

Kedua peristiwa yang terjadi dalam satu arena festival musik ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai prosedur pengamanan dan kurasi kegiatan sampingan yang diizinkan oleh pihak penyelenggara. Pengamat kebijakan publik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Dr. Bambang Santoso, menyatakan bahwa festival skala besar wajib memiliki mekanisme kontrol internal yang ketat terhadap seluruh aktivitas di dalam kawasan acara. Ia menegaskan bahwa kecolongan dalam pengawasan dapat menimbulkan konsekuensi hukum tidak hanya bagi pelaku individu, tetapi juga bagi badan hukum penyelenggara yang memiliki kewajiban duty of care terhadap seluruh peserta dan masyarakat.

Sementara itu, Kuasa Hukum Masyarakat Peduli Keberagaman, Hotman Paris Hutapea, menyatakan bahwa jika terbukti ada unsur kesengajaan dalam penistaan agama, para pelaku dapat dikenakan sanksi berdasarkan Pasal 156 dan Pasal 156 a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Ia juga menambahkan bahwa pihak penyelenggara dapat dimintai pertanggungjawaban administratif apabila terbukti lalai dalam memberikan izin atau pengawasan terhadap kegiatan yang berpotensi menimbulkan keresahan sosial. Hingga saat ini, pihak manajemen The Sounds Project belum mengeluarkan keputusan resmi terkait pencabutan izin kegiatan sampingan atau sanksi internal terhadap oknum yang terlibat dalam kontroversi tersebut.

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta menyatakan sedang menunggu hasil penyelidikan resmi dari kepolisian sebelum menetapkan langkah administratif lebih lanjut terhadap izin penyelenggaraan festival di masa mendatang. Pihak kepolisian menegaskan bahwa proses hukum akan dilakukan secara transparan dan proporsional untuk menjaga ketertiban umum serta menghormati nilai-nilai keagamaan yang berlaku dalam masyarakat. Masyarakat diharapkan untuk tidak melakukan tindakan main hakim sendiri dan memberikan ruang bagi aparat penegak hukum untuk menyelesaikan kasus ini sesuai dengan prosedur yang berlaku.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User