Sebuah tradisi lisan yang lahir dari denyut kehidupan nelayan migran Madura di pesisir Panarukan, Situbondo, Jawa Timur, kini berada di ujung tanduk kepunahan. Tabbhuwn colo—yang secara harfiah berarti tabuhan mulut—adalah bentuk musik gamelan yang tidak dimainkan dengan alat musik apa pun, melainkan disuarakan sepenuhnya oleh mulut manusia. Tidak ada gong, tidak ada saron, tidak ada bonang. Hanya suara manusia yang saling bertaut menirukan bunyi perangkat gamelan.
Warisan budaya takbenda ini kini hanya dimainkan oleh delapan orang pemain yang rata-rata berusia lanjut. Jumlah itu menjadi bukti getir bahwa pengetahuan yang diwariskan lintas generasi selama puluhan tahun ini berdiri di tepi jurang kepunahan. Jika tidak ada upaya penyelamatan sistematis, tabbhuwn colo berpotensi hanya tersisa sebagai catatan arsip dalam beberapa tahun ke depan.
Perhatian terhadap tradisi ini datang dari dunia akademik. Seorang dosen Universitas Jember (UNEJ) melakukan riset dan dokumentasi mendalam terhadap praktik tabbhuwn colo yang masih bertahan di komunitas nelayan Panarukan. Langkah tersebut menjadi upaya penting untuk merekam jejak budaya yang kian terpinggirkan oleh arus modernisasi.
Ketika Mulut Menjadi Gamelan
Tabbhuwn colo bukan sekadar permainan suara. Ia adalah bentuk ekspresi kolektif yang menuntut kekompakan luar biasa dari para pemainnya. Setiap orang bertanggung jawab atas satu "instrumen" yang disuarakan lewat mulut, mulai dari bunyi gong yang berat dan menggelombang, hingga nada saron yang lebih ringan dan cepat.
Harmoni terbentuk bukan dari alat, melainkan dari kesepakatan rasa dan pendengaran satu sama lain. Dalam praktiknya, tidak ada konduktor seperti pada orkestra modern. Semua pemain saling mendengar, saling menyesuaikan tempo, dan saling menjaga intensitas suara agar menghasilkan kesatuan bunyi yang menyerupai gamelan sesungguhnya.
“Tabbhuwn colo ini sepenuhnya bergantung pada ingatan kolektif dan kesepakatan rasa antar pemain. Tidak ada partitur tertulis, semua diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi,” ujar sang dosen UNEJ dalam keterangannya.
Ketiadaan dokumentasi tertulis inilah yang membuat tradisi ini sangat rentan. Ketika seorang pemain meninggal atau berhenti, satu suara bisa hilang selamanya dan tidak bisa digantikan dengan mudah. Pengetahuan yang tidak tercatat juga menyulitkan regenerasi karena proses belajar hanya bisa dilakukan dengan bergabung langsung dalam kelompok yang masih aktif.
Di Ambang Kepunahan
Data yang dihimpun menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Dari puluhan pemain yang dulu aktif pada masa kejayaan tradisi ini, kini hanya tersisa segelintir orang. Berikut gambaran perbandingan kondisi ideal dengan situasi saat ini:
| Aspek | Kondisi Ideal | Kondisi Saat Ini |
|---|---|---|
| Jumlah Pemain | 15–20 orang | 8 orang |
| Rata-rata Usia | Produktif (25–45 tahun) | Lanjut usia |
| Regenerasi | Berjalan aktif | Minim, nyaris terhenti |
| Dokumentasi | Terekam rapi | Baru mulai dilakukan |
Beberapa faktor menjadi penyebab kemundurannya. Pertama, arus modernisasi yang menawarkan hiburan instan membuat generasi muda kurang tertarik pada seni tradisi. Kedua, migrasi ekonomi nelayan Madura yang berpindah-pindah membuat komunitas penjaga tradisi sulit bertahan dalam satu tempat. Ketiga, minimnya panggung dan apresiasi membuat tradisi ini jarang terdengar di ruang publik.
Dokumentasi yang dilakukan dosen UNEJ menjadi langkah awal yang krusial. Rekaman audio, video, dan catatan etnografis akan menjadi "bank memori" agar tabbhuwn colo tidak lenyap tanpa jejak. Namun dokumentasi saja tidak cukup. Diperlukan pula upaya hidup seperti pelatihan lintas generasi, festival budaya, dan dukungan kebijakan dari pemerintah daerah.
Nasib tabbhuwn colo kini berada di tangan kesadaran kolektif. Ia bukan sekadar hiburan masa lalu, melainkan identitas nelayan migran Madura yang mengandung nilai kebersamaan, ketelitian, dan penghormatan pada leluhur. Menjaganya berarti menjaga satu babak sejarah peradaban pesisir Indonesia agar tidak hilang ditelan zaman.
Comments (0)