DK PBB Tuntaskan Dialog Informal Tiga Calon Sekretaris Jenderal
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) telah menyelesaikan serangkaian dialog informal dengan tiga kandidat yang akan bertarung memperebutkan kursi Sekretaris Jenderal PBB periode 2027–2...
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) telah menyelesaikan serangkaian dialog informal dengan tiga kandidat yang akan bertarung memperebutkan kursi Sekretaris Jenderal PBB periode 2027–2031. Proses yang berlangsung di Markas Besar PBB, New York, pada Kamis (12/9) ini menandai babak baru dalam mekanisme seleksi pemimpin organisasi internasional itu yang kian menuntut transparansi dan akuntabilitas publik.
Ketiga kandidat yang diundang dalam sesi tertutup tersebut adalah Duta Besar Maria Fernanda Espinosa (Ekuador), mantan Presiden Majelis Umum PBB ke-73; Miroslav Lajčák (Slowakia), Presiden Majelis Umum PBB ke-72 dan mantan Utusan Khusus Uni Eropa; serta Amina Mohammed (Nigeria), Wakil Sekretaris Jenderal PBB yang kini masih menjabat. Mereka dinominasikan oleh pemerintah masing-masing setelah melalui proses seleksi nasional yang ketat, sesuai dengan Resolusi Majelis Umum 69/321 yang mendorong keterwakilan geografis dan gender.
Dialog Terstruktur dengan Standar Baru
Presiden DK PBB untuk bulan September, Duta Besar Pascale Baeriswyl dari Swiss, menegaskan bahwa forum informal ini bukan sekadar wawancara, melainkan dialog interaktif yang memungkinkan anggota Dewan menggali visi, integritas, dan kompetensi setiap kandidat secara mendalam. "Kami telah mengajukan pertanyaan yang menyangkut tiga pilar utama PBB: perdamaian dan keamanan internasional, pembangunan berkelanjutan, serta reformasi internal organisasi. Setiap kandidat diberi waktu 15 menit untuk memaparkan platform mereka dan langsung merespons kekhawatiran anggota Dewan," ujar Baeriswyl dalam keterangan pers usai sesi.
Menurut diplomat senior yang hadir, masing-masing kandidat menampilkan pendekatan berbeda. Espinosa menyoroti perlunya PBB mereformasi Dewan Keamanan agar lebih representatif dan menangani krisis iklim sebagai ancaman keamanan kolektif. Lajčák menekankan pengalamannya dalam mediasi konflik di Balkan dan menyerukan penguatan mekanisme pencegahan konflik, sementara Mohammed memaparkan cetak biru percepatan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) serta keterkaitannya dengan agenda perdamaian.
Proses informal ini tidak menghasilkan pemungutan suara atau rekomendasi formal, melainkan menjadi bahan evaluasi awal sebelum DK PBB menggelar pemungutan suara pendahuluan (straw poll) secara rahasia dalam pekan-pekan mendatang. Berdasarkan Piagam PBB Pasal 97, Sekretaris Jenderal diangkat oleh Majelis Umum atas rekomendasi Dewan Keamanan, sehingga dukungan dari sedikitnya sembilan anggota DK tanpa veto dari anggota tetap menjadi prasyarat mutlak.
Jejak Transparansi dan Dinamika Politik
Inovasi prosedural yang dimulai sejak Pemilihan Sekjen 2016 terus diperkuat. Kala itu, untuk pertama kalinya Majelis Umum menggelar dengar pendapat publik dengan seluruh kandidat. Kini, DK PBB mengadopsi elemen dialog informal yang lebih terstruktur, meski masih tertutup, guna meminimalkan politisasi dan spekulasi media. "Kami ingin memastikan bahwa kriteria utama adalah kapasitas, bukan sekadar kompromi politik antarnegara besar," ujar seorang diplomat senior dari negara anggota tidak tetap yang enggan disebut namanya.
Namun, sumber di lingkungan DK PBB menyebutkan bahwa dinamika geopolitik tetap mempengaruhi tahapan awal. Beberapa anggota tetap dilaporkan mempertanyakan rekam jejak Espinosa dan Lajčák terkait isu hak asasi manusia dan sanksi ekonomi, sementara kubu lain menyoroti kedekatan Mohammed dengan Sekjen António Guterres yang dianggap dapat menghambat regenerasi kepemimpinan. Ketegangan semacam ini wajar dan akan teruji pada putaran straw poll yang penuh perhitungan.
Menindaklanjuti hasil dialog informal, setiap delegasi anggota DK diminta mengirimkan catatan tertulis kepada Presidensi Swiss paling lambat Selasa pekan depan. Catatan itu akan dikompilasi dan digunakan untuk mempersempit daftar kandidat pada Rapat Koordinasi tingkat Duta Besar yang dijadwalkan pada 20 September. Jika terdapat konsensus awal, DK dapat menggelar pleno tertutup untuk menyusun rekomendasi kepada Majelis Umum sebelum akhir Oktober.
Prospek dan Persaingan
Pengamat PBB menilai bahwa pencalonan Amina Mohammed membawa keunggulan karena pengalamannya mengelola birokrasi PBB selama dua periode, namun juga memicu perdebatan tentang prinsip rotasi regional. Sejak didirikan, belum pernah ada Sekretaris Jenderal dari Afrika Sub-Sahara, meskipun Boutros Boutros-Ghali (Mesir) mewakili Afrika Utara. Sementara itu, Espinosa berpotensi menjadi perempuan pertama yang menduduki posisi tersebut jika terpilih, selaras dengan dorongan kesetaraan gender yang digaungkan oleh berbagai negara anggota.
Di sisi lain, Lajčák datang dari Kelompok Eropa Timur yang secara tradisional merasa belum mendapat giliran memadai. Dukungan dari negara-negara Uni Eropa dan mitra di kawasan dapat menjadi modal politik signifikan. Keputusan final tetap akan bergantung pada sejauh mana kandidat mampu menavigasi kepentingan lima pemegang hak veto: Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Prancis, dan Inggris.
Sekretariat PBB telah mengonfirmasi bahwa Ketua Majelis Umum akan mengirimkan surat undangan resmi kepada negara-negara anggota untuk mengajukan kandidat tambahan sebelum batas akhir pada 31 Desember 2024. Dengan demikian, daftar calon masih mungkin bertambah. Proses yang kian transparan ini diharapkan menghasilkan pemimpin yang memiliki legitimasi kuat menghadapi krisis global yang kian kompleks, mulai dari perang di Ukraina dan Gaza, hingga darurat iklim dan disrupsi teknologi.
"PBB membutuhkan seorang Sekretaris Jenderal yang bukan hanya diplomat ulung, tetapi juga negarawan visioner yang berani mendobrak status quo," ujar Richard Gowan, Direktur UN Program di International Crisis Group, dalam wawancara terpisah. "Dialog informal ini adalah ujian awal untuk membaca siapa yang paling siap menghadapi kancah brutal diplomasi tingkat tinggi."
Sementara itu, di koridor DK PBB, para diplomat terus merapatkan barisan dan menghitung suara. Putaran straw poll yang akan digelar secara rahasia dalam dua pekan ke depan akan menjadi indikator paling awal arah peta politik di tubuh Dewan. Hasilnya—meski tidak mengikat—dapat memicu mundurnya kandidat yang minim dukungan dan memperjelas konstelasi menuju pemilihan final yang ditetapkan melalui Sidang Umum PBB tahun depan.
Baca juga:
Comments (0)