Detik-Detik Sutrimo Meregang Nyawa di Depan Klinik Mordent
JAKARTA — Seorang pria paruh baya bernama Sutrimo ditemukan tidak bernyawa di pelataran Klinik Mordent, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Senin malam, 27 Juli 2026. Jasad Sutrimo pertama...
JAKARTA — Seorang pria paruh baya bernama Sutrimo ditemukan tidak bernyawa di pelataran Klinik Mordent, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Senin malam, 27 Juli 2026. Jasad Sutrimo pertama kali ditemukan oleh seorang petugas keamanan yang tengah berpatroli di sekitar lokasi kejadian.
Kepolisian Sektor Kebayoran Baru yang tiba di lokasi tak lama setelah menerima laporan segera memasang garis polisi dan meminta keterangan sejumlah saksi. Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri pun dikerahkan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) guna mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan.
Kesaksian di Balik Kematian Sutrimo
Seorang saksi mata, Rian (42), yang bertugas sebagai satpam di salah satu gedung perkantoran di seberang klinik, menceritakan detik-detik sebelum Sutrimo ditemukan tergeletak. Menurut Rian, ia sempat melihat seorang pria berjalan dengan langkah gontai di depan Klinik Mordent sekitar pukul 20.30 WIB.
“Saya lihat bapak itu berjalan pelan, lalu tiba-tiba dia terduduk, seperti merasa tidak enak badan. Tidak lama kemudian dia ambruk dan tidak bergerak lagi,”
ujar Rian saat ditemui di lokasi. Rian mengaku langsung menghubungi pihak klinik dan melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi terdekat.
Petugas klinik yang keluar setelah mendengar teriakan saksi langsung memeriksa kondisi Sutrimo. Namun, nyawa pria tersebut tidak tertolong. Berdasarkan pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Identitas korban kemudian diketahui dari kartu identitas yang tersimpan di dalam dompetnya.
Respons Aparat dan Pemeriksaan TKP
Kapolsek Kebayoran Baru, Komisaris Polisi Andri Setiawan, yang memimpin langsung proses penyelidikan menyatakan bahwa pihaknya masih mendalami penyebab kematian korban. “Kami masih menunggu hasil autopsi dari rumah sakit untuk memastikan penyebab pasti kematian. Tim Inafis sudah mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk pakaian korban dan benda-benda di sekitar TKP,” kata Andri kepada awak media di lokasi, Senin malam.
Andri menambahkan, olah TKP yang dilakukan Puslabfor meliputi pengambilan sampel cairan, sidik jari, serta pemindaian lokasi. Hasil analisis sementara diharapkan dapat mengarahkan penyidik pada kesimpulan apakah kematian Sutrimo murni karena gangguan kesehatan atau terdapat unsur pidana.
Kematian Sutrimo juga menjadi perhatian publik menyusul maraknya kasus kematian mendadak di tempat umum. Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Patria Sandi, menyatakan akan memantau perkembangan penyelidikan. “Kami mendorong agar kepolisian bekerja cepat dan transparan. Jika terbukti ada kelalaian dari pengelola klinik atau pihak lain, tentu harus diusut tuntas,” ujar Patria di Gedung DPR, Selasa (28/7).
Profil Klinik Mordent dan Riwayat Operasional
Klinik Mordent diketahui merupakan fasilitas kesehatan swasta yang beroperasi di wilayah Kebayoran Baru sejak tahun 2018. Klinik ini menyediakan layanan rawat jalan, pemeriksaan laboratorium, dan konsultasi dokter umum. Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen klinik belum memberikan pernyataan resmi terkait kejadian yang menimpa Sutrimo. Seorang resepsionis yang ditemui di lokasi hanya menyampaikan bahwa pihak klinik akan bersikap kooperatif dalam proses penyelidikan kepolisian.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, lokasi jatuhnya korban tepat berada di trotoar depan klinik yang terpisah dari pintu masuk utama. Beberapa warga sekitar mengaku tidak mendengar suara mencurigakan sebelum Sutrimo ditemukan. “Suasana memang sepi karena jam malam. Tiba-tiba saja ada kerumunan petugas,” kata Maryati, pemilik warung kelontong di dekat klinik.
Menunggu Hasil Forensik
Sementara itu, jenazah Sutrimo telah dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk menjalani autopsi. Kepala Instalasi Kedokteran Forensik RSCM, dr. Agus Poniman, menyatakan bahwa hasil visum lengkap diperkirakan keluar dalam waktu tiga hari kerja. “Kami akan mengirimkan laporan tertulis beserta kesimpulan medis kepada penyidik. Untuk sementara, tim kami belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut,” ucapnya melalui sambungan telepon.
Informasi yang dihimpun dari rekan-rekan korban, Sutrimo dikenal sebagai wiraswasta yang tinggal di kawasan Pasar Minggu. Tidak ada catatan penyakit serius yang diketahui keluarganya. Isteri korban, Siti Nurjanah, mengaku terakhir kali berkomunikasi dengan suaminya pada sore hari sebelum kejadian. “Dia bilang mau ke daerah Kebayoran ada urusan, biasa saja tidak mengeluh sakit,” tutur Siti sambil menahan tangis di rumah duka.
Hingga kini, Polsek Kebayoran Baru masih mengumpulkan rekaman kamera pengawas (CCTV) dari sejumlah titik di sekitar klinik. Langkah ini diambil guna merekonstruksi pergerakan Sutrimo sebelum ia tewas. Masyarakat diimbau untuk tidak berspekulasi dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian.
Comments (0)