Sep 16, 2026
Hukum

DENPASAR — Umat Hindu Bali Gelar Piodalan Serentak Hari Ini

Aroma harum dupa membubung tinggi di udara pagi Pulau Dewata, berpadu harmonis dengan alunan lembut gamelan beleganjur dan petikan kidung suci yang menggem

DENPASAR — Umat Hindu Bali Gelar Piodalan Serentak Hari Ini

Aroma harum dupa membubung tinggi di udara pagi Pulau Dewata, berpadu harmonis dengan alunan lembut gamelan beleganjur dan petikan kidung suci yang menggema dari penjuru desa. Pada hari Rabu (16/9), ribuan umat Hindu di Bali kembali menyambut hari suci dengan melangsungkan rangkaian upacara Piodalan secara serentak. Berdasarkan perhitungan kalender tradisional Bali, hari ini tepat jatuh pada rahina Buda Umanis Prangbakat, sebuah momentum spiritual yang sangat penting untuk menyucikan tempat pemujaan dan mempererat hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.

Sejak fajar menyingsing, warga tampak berbondong-bondong mendatangi berbagai Pura, mulai dari Pura Kahyangan Tiga di tingkat desa adat hingga Pura Swagina dan Pura Paibon milik keluarga besar. Para pria mengenakan busana adat didominasi warna putih-kuning lengkap dengan udeng di kepala, sementara para wanita tampil anggun menjunjung gebogan—susunan buah, bunga, dan janur—di atas kepala mereka. Pemandangan ini menghiasi jalan-jalan utama mulai dari Denpasar, Badung, Gianyar, hingga kawasan pelosok Bali.

Makna Filosofis Buda Umanis Prangbakat

Dalam kosmologi Hindu Bali, Piodalan—yang juga kerap disebut sebagai Pujawali—merupakan perayaan hari lahir atau peresmian sebuah Pura. Berbeda dengan penanggalan masehi, pelaksanaan piodalan dihitung berdasarkan sistem wuku yang berulang setiap 210 hari sekali. Pertemuan antara hari Buda (Rabu), Umanis (Pancaswara), dan wuku Prangbakat diyakini memancarkan energi penyucian untuk mengembalikan keharmonisan alam semesta beserta isinya.

Tokoh adat dan agama Bali menekankan bahwa Piodalan bukan sekadar rutinitas seremoni belaka, melainkan momen penting untuk pembaharuan janji ikatan batin dengan Sang Hyang Widhi Wasa. "Piodalan adalah wujud rasa syukur yang mendalam atas kelimpahan rahmat Tuhan, sekaligus pengingat bagi setiap individu untuk senantiasa menjaga keseimbangan Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari," ujar salah seorang akademisi kebudayaan Bali.

Sebaran Lokasi dan Rangkaian Upacara Piodalan

Sejumlah Pura besar di berbagai wilayah Bali menyelenggarakan upacara Piodalan dengan tingkatan yang beragam, mulai dari skala nista, madya, hingga utama. Persiapan untuk momen suci ini bahkan telah dilakukan warga sejak beberapa hari sebelumnya melalui tradisi ngayah atau gotong royong tanpa pamrih di banjar setempat.

Wilayah Utama Lokasi / Peruntukan Pura Tingkatan Ritual
Denpasar Pura Kahyangan Jagat & Pura Desa Madya hingga Utama
Badung Pura Swagina & Pura Paibon Madya
Gianyar Pura Samuantiga & Pura Punggawa Utama

Rangkaian persembahyangan diawali dengan prosesi ngalantang dan masucian, di mana benda-benda sakral atau pratima disucikan ke sumber air suci (*beji*). Setelah itu, persembahyangan puncak dipimpin langsung oleh seorang Rsi, Pandita, atau Pemangku Pura.

"Melalui piodalan pada Buda Umanis Prangbakat ini, kami memohon agar kedamaian senantiasa menaungi Pulau Bali. Semoga masyarakat terus konsisten menjaga toleransi dan melestarikan tradisi luhur ini di tengah gelombang modernisasi," ungkap Ida Pedanda Nabe saat memimpin prosesi pemujaan di lokasi.

Pelestarian Budaya dan Nilai Gotong Royong

Selain memiliki nilai religius yang dalam, Piodalan memiliki dampak sosial yang sangat kuat bagi masyarakat Bali. Tradisi ini menjadi wadah silaturahmi yang efektif antarwarga banjar yang dalam kesehariannya disibukkan oleh rutinitas pekerjaan modern. Keterlibatan generasi muda yang tergabung dalam Sekaa Truna Truni (STT)—mulai dari membuat penjor, menyiapkan perlengkapan upacara, hingga membawakan tarian sakral seperti Tari Rejang dan Tari Baris—membuktikan bahwa regenerasi budaya berjalan secara alami dan berkelanjutan.

Sementara itu, aparat keamanan desa adat (*Pecalang*) bekerja sama dengan kepolisian setempat mengimbau para pengguna jalan untuk mengantisipasi potensi kepadatan di sekitar area Pura utama. Ritual piodalan hari ini menegaskan kembali identitas Bali sebagai pusat spiritualitas dan kebudayaan yang terus lestari dari generasi ke generasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User