Dani dan Juwita Penyandang Tunanetra Diwisuda Sarjana di UI

Dani Pratama (24) dan Juwita Lestari (23), mahasiswa penyandang tunanetra, resmi menyandang gelar sarjana dalam upacara wisuda yang ditetapkan pada Jumat, 23 Agustus 2024, di Balairung Universitas Ind...

Dani dan Juwita Penyandang Tunanetra Diwisuda Sarjana di UI

Dani Pratama (24) dan Juwita Lestari (23), mahasiswa penyandang tunanetra, resmi menyandang gelar sarjana dalam upacara wisuda yang ditetapkan pada Jumat, 23 Agustus 2024, di Balairung Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat. Keduanya menyelesaikan studi strata satu setelah menempuh pendidikan selama empat tahun dan sembilan bulan di dua fakultas berbeda dengan predikat memuaskan, sebuah pencapaian yang menegaskan komitmen kampus terhadap pendidikan inklusif berdasarkan prinsip kesetaraan akses akademik.

Proses Akademik yang Disahkan dalam Rapat Pleno

Dani menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI dengan konsentrasi Hubungan Internasional, sementara Juwita lulus dari Fakultas Hukum UI pada bidang studi Hukum Tata Negara. Kelulusan keduanya disahkan oleh Senat Akademik UI dalam rapat Pleno Terbuka yang berlangsung pada 20 Agustus 2024, setelah melalui serangkaian evaluasi komprehensif terhadap tugas akhir, ujian sarjana, dan karya ilmiah yang dikerjakan menggunakan perangkat lunak pembaca layar serta alat bantu Braille.

Dekan FISIP UI, Prof. Dr. Ari Dwipayana, menyatakan bahwa kelulusan Dani menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang bagi ekselensi intelektual. Dalam keterangannya di Balairung UI, Dekan menegaskan bahwa pihak fakultas telah menindaklanjuti kebijakan inklusi yang diwajibkan berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dengan menyediakan kurikulum aksesibel, jadwal ujian fleksibel, dan asisten pembaca selama masa perkuliahan.

"Kami berkomitmen memastikan setiap mahasiswa, tanpa terkecuali, memperoleh hak pendidikan yang sama. Kelulusan Dani dan Juwita adalah keberhasilan sistem, bukan sekadar individu," ujar Prof. Ari.

Di sisi lain, Dekan Fakultas Hukum UI, Prof. Dr. Edy Lisdiyono, menyampaikan bahwa Juwita berhasil mempertahankan skripsi mengenai perlindungan hukum penyandang disabilitas dalam akses informasi publik di hadapan dewan penguji. Skripsi tersebut dinilai memberikan kontribusi substantif terhadap kajian kebijakan inklusi di Indonesia.

Dukungan Infrastruktur dan Peran Senat Mahasiswa

Keberhasilan Dani dan Juwita tidak terlepas dari dukungan infrastruktur dan kebijakan yang disusun melalui Rapat Koordinasi berkala antara Direktorat Kemahasiswaan UI, Unit Layanan Difabel, dan perwakilan ormawa. UI telah menyediakan perangkat keras berupa komputer dengan software JAWS dan NVDA, buku elektronik format DAISY, serta jalur navigasi taktil di sejumlah gedung perkuliahan sejak 2019 lalu.

Ketua Unit Layanan Difabel UI, Dr. Bambang Suryono, menjelaskan bahwa pihaknya menyusun keputusan operasional teknis setiap semester guna mengakomodasi kebutuhan mahasiswa tunanetra. Menurutnya, tim yang menangani Dani dan Juwita terdiri dari delapan relawan pembaca, dua staf teknisi assistive technology, dan koordinator akademik dari masing-masing fakultas.

"Setiap ujian, kami siapkan versi Braille atau audio recording. Untuk Juwita yang aktif di moot court, kami sediakan transkrip kasus dalam format digital agar ia bisa mengikuti simulasi persidangan dengan setara," tutur Dr. Bambang.

Tak hanya dari pihak kampus, Fraksi Mahasiswa Difabel dalam Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) UI juga berperan aktif mengawal alokasi anggaran aksesibilitas. Ketua Fraksi tersebut, Rian Saputra, menyatakan bahwa kelulusan dua mahasiswa ini menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali kebijakan beasiswa dan tunjangan teknologi bagi penyandang disabilitas di perguruan tinggi negeri.

Pesan Wisudawan untuk Pendidikan Inklusif

Dalam sambutan singkat usai prosesi wisuda, Dani yang berasal dari Surabaya menyampaikan bahwa perjalanannya selama empat tahun terakhir dipenuhi tantangan teknis, mulai dari akses literatur internasional hingga partisipasi dalam konferensi模拟联合国. Ia berharap institusi pendidikan tinggi lainnya dapat meniru model UI dalam menyediakan ekosistem yang ramah difabel.

"Kami tidak meminta perlakuan khusus, kami hanya meminta kesetaraan proses. Jika fasilitas dan kebijakan disiapkan dengan serius, penyandang tunanetra bisa berkontribusi penuh bagi bangsa," ujar Dani.

Juwita yang menyelesaikan studinya dalam waktu empat tahun menambahkan bahwa dukungan keluarga dan sistem kampus menjadi pilar utama kelulusannya. Perempuan asal Bandung itu berencana melanjutkan studi magister di bidang kebijakan publik dan berencana mengabdi di lembaga advokasi hak penyandang disabilitas.

Rektor UI, Prof. Dr. Heri Hermansyah, dalam pidato pengukuhan wisudawan menyatakan bahwa UI akan terus memperluas program inklusi tidak hanya pada aspek fisik, tetapi juga pada kurikulum dan metode pembelajaran. Ia menambahkan bahwa pihaknya tengah menindaklanjuti rekomendasi hasil evaluasi akreditasi layanan difabel guna meningkatkan kualitas pendampingan di tahun akademik mendatang.

Hingga semester genap 2023/2024, UI mencatat terdapat 127 mahasiswa aktif penyandang disabilitas yang tersebar di berbagai fakultas, dengan 34 di antaranya merupakan mahasiswa tunanetra. Angka tersebut meningkat 18 persen dibandingkan lima tahun silam, menunjukkan tren positif partisipasi kelompok difabel dalam pendidikan tinggi di Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User