Burung Blue-fronted Lorikeet Muncul Kembali di Pulau Buru Setelah 100 Tahun

Ambon, Maluku — Dalam sebuah peristiwa yang mengguncang dunia konservasi, seekor burung nuri kecil berwarna biru-hijau yang telah dinyatakan punah sejak 19

Burung Blue-fronted Lorikeet Muncul Kembali di Pulau Buru Setelah 100 Tahun

Ambon, Maluku — Dalam sebuah peristiwa yang mengguncang dunia konservasi, seekor burung nuri kecil berwarna biru-hijau yang telah dinyatakan punah sejak 1920-an tiba-tiba tertangkap kamera di pedalaman Pulau Buru. Blue-fronted Lorikeet (Charmosyna toxopei), spesies endemik yang terakhir kali didokumentasikan pada 1927, kini kembali menjadi bukti bahwa alam masih menyimpan kejutan di tengah krisis keanekaragaman hayati.

Tim peneliti dari LIPI dan Burung Indonesia yang melakukan survei di kawasan hutan lindung Waeapo berhasil merekam keberadaan burung tersebut pada awal Juni 2026. Penemuan ini sontak menjadi perbincangan hangat di kalangan ornitolog dunia setelah foto-foto hasil jepretan camera trap dipublikasikan di jurnal internasional.

Hilangnya Sang Hantu Hutan

Blue-fronted lorikeet selalu menjadi misteri. Spesimen pertama dan satu-satunya yang pernah tercatat dikoleksi oleh naturalis Belanda, H. J. Toxopeus, di Pulau Buru hampir seabad lalu. Setelah itu, burung ini lenyap tanpa jejak, membuat banyak ilmuwan menduga bahwa deforestasi dan perburuan liar telah memusnahkannya. “Burung ini adalah hantu hutan—selalu dirindukan tapi tak pernah terlihat,” ujar Dr. Dewi Prawiradilaga, pakar burung dari LIPI, dalam wawancara eksklusif.

Misi Yang Hampir Dibatalkan

Ekspedisi yang dipimpin oleh konservasionis muda, Rizky Hidayat, awalnya dijadwalkan untuk memetakan populasi kakatua Maluku. Namun, saat peralatan bioacoustic menangkap suara parau yang tidak dikenal pada ketinggian 900 mdpl, fokus misi berubah.

“Kami langsung memasang puluhan kamera tersembunyi di sekitar pohon eukaliptus tempat suara itu berasal. Setelah tiga malam, akhirnya kami melihatnya: seekor nuri mungil dengan dahi biru mencolok sedang mengisap nektar,”

kata Rizky, yang tidak bisa menyembunyikan keterharuannya saat menceritakan momen bersejarah itu.

Harapan Baru Bagi Konservasi

Penemuan ini memiliki makna lebih dari sekadar sensasi ilmiah. Pulau Buru sendiri telah kehilangan lebih dari 40% tutupan hutannya dalam 30 tahun terakhir akibat konversi lahan untuk perkebunan dan tambang. Kembalinya si nuri biru menjadi sinyal bahwa ekosistem pulau masih mampu menjadi rumah bagi spesies langka. Pemerintah Kabupaten Buru kini dikabarkan akan mempercepat penetapan kawasan konservasi baru di Pegunungan Kapalat Mada.

Organisasi konservasi internasional seperti BirdLife International pun menyatakan siap memberikan dukungan dana untuk pemantauan lebih lanjut. “Ini adalah momen krusial. Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan kedua yang diberikan alam,” tegas Tony Whitten, ahli biologi dari Fauna & Flora International.

Meski demikian, tantangan besar masih menghadang—mulai dari ancaman pembalakan liar hingga keterbatasan akses ke lokasi yang berada di jantung hutan primer. Tim peneliti berencana melakukan ekspedisi lanjutan pada musim kemarau tahun depan untuk memperkirakan ukuran populasi dan menentukan status konservasi yang lebih akurat.

[SOCIAL_TWEET]: Setelah 100 tahun dinyatakan punah, burung blue-fronted lorikeet muncul lagi di hutan Pulau Buru! #Konservasi #PulauBuru #BurungLangka #KeanekaragamanHayati[SOCIAL_TG]: 🐦✨ Misteri hutan terpecahkan! Blue-fronted lorikeet—nuri legendaris yang lenyap sejak 1927—muncul kembali di pedalaman Pulau Buru. Penemuan ini bisa mengubah peta konservasi nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User