Kota Gaza — Di antara reruntuhan bangunan Kota Tua Gaza, sekelompok anak berbaris memasuki halaman sekolah bersejarah Al-Kamaliya al-Othmanya. Suara tawa mereka kembali memecah keheningan yang selama ini menyelimuti kawasan itu. Pada 2 November 2025, para siswa mengikuti kelas perdana dalam program pembelajaran darurat yang diinisiasi para guru pengungsi secara sukarela. Merekalah yang menolak generasi Gaza tumbuh tanpa pendidikan.
Inisiatif ini muncul secara mandiri, tanpa gedung sekolah yang layak, tanpa kurikulum resmi, dan tanpa jaminan keselamatan. Namun, kehadiran anak-anak di ruang kelas sementara menjadi simbol perlawanan paling sunyi terhadap perang: mengenyam ilmu di tengah kiamat.
Lebih dari 650 Ribu Anak Tanpa Sekolah
Konflik bersenjata antara Israel dan Hamas yang memanas sejak Oktober 2023 telah memutus akses pendidikan formal bagi lebih dari 650 ribu anak di Jalur Gaza. Tidak hanya gedung sekolah yang hancur, tetapi juga sistem belajar-mengajar, perpustakaan, laboratorium, hingga ruang guru. Sebagian besar fasilitas pendidikan kini berfungsi sebagai tempat pengungsian bagi warga yang kehilangan rumah.
| Indikator | Kondisi Pasca-Konflik |
|---|---|
| Anak kehilangan akses pendidikan | > 650.000 anak |
| Waktu pendidikan terputus | Sejak Oktober 2023 |
| Penyelenggara kelas darurat | Guru pengungsi (sukarela) |
| Lokasi awal program | Sekolah Al-Kamaliya al-Othmanya, Kota Tua Gaza |
Data tersebut menunjukkan bahwa krisis pendidikan Gaza bukan lagi soal nilai ujian atau kelulusan, melainkan soal keberlangsungan hidup sebuah peradaban. Sebuah generasi yang tidak sekolah adalah generasi yang kehilangan masa depannya sebelum sempat merasakannya.
Guru Pengungsi Jadi Tulang Punggung
Para guru yang mengajar dalam program ini sebagian besar adalah pengungsi sendiri. Mereka kehilangan rumah, harta, bahkan rekan sejawat, namun tetap memilih kembali ke depan papan tulis. Kelas dibuka secara bertahap, dimulai dari kelompok usia sekolah dasar, dengan metode belajar yang disederhanakan agar dapat dilakukan di ruang terbuka maupun bangunan sebagian rusak.
"Kami tidak punya gedung, tidak punya buku lengkap, tidak punya apa pun. Yang kami punya hanyalah tekad agar anak-anak ini tidak kehilangan harapan," ujar seorang guru pengungsi yang terlibat dalam inisiatif tersebut.
Selebihnya, aktivitas belajar bergantung pada donasi seadanya: papan tulis portabel, alat tulis bekas, dan ruang yang dibersihkan dari puing. Meski minim, semangat para pendidik membuat ruang kelas terasa hidup. Mereka memahami bahwa pendidikan di masa perang bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga terapi psikososial bagi anak-anak yang traumatis.
Pendidikan sebagai Fondasi Pemulihan
Organisasi kemanusiaan internasional telah berulang kali menegaskan bahwa pemulihan Gaza mustahil tanpa restorasi sektor pendidikan. Anak-anak yang putus sekolah dalam waktu lama berisiko mengalami kemunduran kognitif, putus sekolah permanen, serta paparan eksploitasi dan rekrutmen kelompok bersenjata. Para ahli menilai kelas darurat semacam ini penting sebagai jembatan transisi.
"Mengembalikan anak-anak ke ruang kelas adalah langkah pertama memulihkan rasa aman. Pendidikan adalah investasi paling cepat mengangkat Gaza dari puing," ujar seorang pengamat isu kemanusiaan.
- Jangka pendek: menjaga kontinuitas belajar dan mengurangi trauma anak.
- Jangka menengah: membangun kembali kapasitas guru dan administrasi sekolah.
- Jangka panjang: menjadi dasar rekonstruksi sistem pendidikan Gaza secara menyeluruh.
Langkah bertahap yang dijalankan para guru sukarelawan ini memang belum menyelesaikan krisis, tetapi menunjukkan satu hal sederhana: selama masih ada guru yang mengajar dan murid yang datang, masa depan Gaza belum sepenuhnya runtuh. Di ruang kelas sederhana itulah harapan dipupuk, pelan-pelan, dari reruntuhan.
Comments (0)