British Museum Hapus Kata Palestina Usai Didesak Aktivis Pro-Israel

London - British Museum secara kontroversial menghapus kata "Palestina" dan "orang Palestina" dari berbagai materi pameran setelah mendapatkan tekanan terus-menerus dari aktivis pro-Israel. Berdasark

Jul 06, 2026 - 13:06
0 0
British Museum Hapus Kata Palestina Usai Didesak Aktivis Pro-Israel

London - British Museum secara kontroversial menghapus kata "Palestina" dan "orang Palestina" dari berbagai materi pameran setelah mendapatkan tekanan terus-menerus dari aktivis pro-Israel. Berdasarkan laporan yang dihimpun Apaberita.com, penghapusan ini juga mencakup frasa "pendudukan Israel" yang selama ini menjadi bagian integral dari narasi pameran sejarah Timur Tengah di museum ternama tersebut.

Duta Besar Palestina untuk Inggris, Husam Zomlot, langsung bereaksi keras atas langkah itu. Ia mengungkapkan kekecewaan mendalam dan mengingatkan implikasi serius dari penghapusan konten sejarah yang otentik.

"Menghapus sejarah adalah langkah awal untuk menghapus masa depan," tegas Zomlot.

Lobi Berbulan-bulan Aktivis Pro-Israel

Keputusan British Museum itu bukan terjadi secara tiba-tiba. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa langkah tersebut merupakan respons langsung terhadap lobi panjang yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pendukung Israel sepanjang tahun 2024 lalu. UK Lawyers for Israel (UKLFI), sebuah organisasi kampanye pro-Israel, diyakini menjadi motor utama di balik desakan tersebut. Menurut informasi yang diperoleh Apaberita.com, organisasi ini secara konsisten menekan pihak museum untuk menghilangkan referensi yang mereka anggap "politis" dan "bias" terhadap narasi sejarah Palestina.

Penghapusan ini menuai kontroversi karena British Museum selama ini dikenal sebagai lembaga yang menjunjung tinggi akurasi sejarah dan memiliki komitmen untuk menyajikan fakta apa adanya tanpa intervensi politik. Namun, dengan adanya tekanan dari komunitas pro-Israel, museum itu akhirnya menyerah dan merevisi materi pamerannya, menghilangkan jejak-jejak identitas serta narasi perjuangan bangsa Palestina.

Sejarah dan Masa Depan yang Terancam

Kritik tajam terhadap keputusan ini juga datang dari kalangan akademisi dan sejarawan yang menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk "penghilangan sejarah" (historical erasure). Mereka menekankan bahwa keberadaan kata "Palestina" dalam pameran bukanlah sekadar label politik, melainkan pengakuan atas hak eksistensi sebuah bangsa dan budaya yang telah ada selama ribuan tahun.

Zomlot kembali menekankan bahwa tindakan semacam ini bukan hanya merugikan narasi Palestina, tetapi juga mengancam kebebasan akademik dan integritas museum.

"Jika kita hari ini menghapus Palestina dari pameran, maka besok kita bisa menghapus masa depan mereka dari kenyataan," ujarnya dalam wawancara yang dikutip Apaberita.com.

Langkah British Museum ini menimbulkan kekhawatiran lebih luas tentang bagaimana tekanan politik dapat memengaruhi institusi budaya dalam menyajikan kebenaran sejarah. Pengamat menilai bahwa keputusan ini bisa menjadi preseden buruk bagi lembaga-lembaga serupa di seluruh dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Editor politik dan dinamika kekuasaan.

Comments (0)

User