BRIN Ungkap Penyebab Kebakaran TPA Terus Berulang saat Kemarau
Jatiwaringin, Tangerang — Asap hitam pekat masih mengepul dari perut Gunung Sampah Jatiwaringin. Sudah tiga hari, kobaran api di Tempat Pemrosesan Akhir (T
Jatiwaringin, Tangerang — Asap hitam pekat masih mengepul dari perut Gunung Sampah Jatiwaringin. Sudah tiga hari, kobaran api di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) terbesar di Tangerang ini tak kunjung padam. Petugas pemadam kebakaran bergantian menyiramkan air dan tanah, namun lidah api seolah enggan menyerah. Di kejauhan, warga Desa Jatiwaringin menutup hidung dengan kain basah, mengeluhkan sesak napas dan mata perih. Pemandangan yang sama bukan kali ini saja terjadi; setiap kali musim kemarau datang, TPA-TPA di berbagai wilayah Indonesia seakan bergiliran mengeluarkan amarahnya dalam bentuk api.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membantah anggapan bahwa kebakaran ini semata fenomena alam yang tiba-tiba. Sebaliknya, peristiwa ini adalah puncak dari akumulasi pengelolaan sampah yang buruk selama bertahun-tahun, dan musim kemarau hanyalah pemicu yang menyulut bom waktu tersebut. “Kebakaran TPA bukanlah kejutan. Ini adalah alarm darurat dari sistem pengelolaan sampah kita yang gagal,” tegas seorang peneliti BRIN yang telah lama mengkaji risiko lingkungan di TPA.
Kebakaran TPA: Siklus yang Tak Kunjung Putus
Fenomena kebakaran TPA saat musim kemarau terus berulang hampir setiap tahun. Tidak hanya Jatiwaringin, TPA Sarimukti di Bandung, TPA Piyungan di Yogyakarta, hingga TPA Suwung di Bali pernah mengalami kejadian serupa. Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat bahwa lebih dari 60% TPA di Indonesia masih dioperasikan dengan metode open dumping—penumpukan sampah secara terbuka tanpa pengolahan yang memadai. Metode inilah yang menjadi biang keladi utama. Sampah organik yang membusuk di dalam timbunan secara alami menghasilkan gas metana (CH4) melalui proses dekomposisi anaerobik. Gas ini, bersama dengan karbon dioksida, terakumulasi di dalam pori-pori tumpukan. Layaknya sebuah bom waktu biologis, konsentrasi metana yang tinggi hanya menunggu percikan api untuk meledak. Sayangnya, percikan itu bisa muncul dari mana saja: reaksi panas internal, gesekan alat berat, hingga pantulan sinar matahari yang difokuskan oleh pecahan kaca di antara sampah.Mengapa Musim Kemarau Menjadi Pemicu?
Musim kemarau memainkan peran krusial dengan dua mekanisme. Pertama, penurunan kadar air membuat material sampah—terutama kertas, plastik, dan kayu—menjadi sangat kering dan mudah terbakar. Kedua, suhu udara tinggi memanaskan bagian atas timbunan sampah dan menciptakan gradien panas vertikal. Panas ini dapat menurunkan titik nyala gas metana yang sudah terbentuk. Pada suhu tumpukan sampah di atas 70 derajat Celsius, risiko self-ignition—nyala spontan—meningkat drastis. Peneliti BRIN menemukan bahwa di kedalaman 3–5 meter, suhu di dalam TPA yang tidak dikelola dengan baik bisa melampaui angka kritis tersebut saat puncak kemarau.“Ketika kadar air turun di bawah 40%, dan tekanan gas metana mencapai 5–15% volume udara di dalam pori-pori sampah, percikan sekecil apa pun akan memicu kebakaran yang sulit dikendalikan. Air tidak efektif karena api justru ter-subsitusi oleh gas yang terus keluar dari lapisan bawah,” jelas Dr. Lestari Widodo, peneliti pengelolaan sampah BRIN, saat diwawancarai di laboratoriumnya.
Kegagalan Tata Kelola yang Terakumulasi
Kondisi TPA Jatiwaringin mencerminkan masalah sistemik. Tidak ada sistem penangkapan gas metana (gas capture) yang memadai, bahkan penutupan tanah harian (daily cover) kerap terlewat karena keterbatasan alat berat. Akibatnya, gas metana bebas menguap ke atmosfer dan terakumulasi di permukaan. Ironisnya, praktik pengelolaan yang seharusnya menjadi standar justru menjadi pengecualian di banyak TPA Indonesia. BRIN menekankan bahwa desain TPA yang tidak memiliki lapisan kedap air dan ventilasi horizontal mempersulit pembuangan panas dan gas secara pasif. Warga setempat sudah sejak lama resah. Setiap kali kebakaran terjadi, kabut asap membawa partikulat halus (PM2.5) dan senyawa beracun seperti dioksin dan furan yang dilepaskan dari pembakaran plastik. “Anak saya selalu batuk-batuk. Kalau malam, bau asap masuk ke rumah. Kami sudah bosan, tapi mau bagaimana lagi, ini tempat tinggal kami,” ujar Rohani, seorang ibu rumah tangga yang tinggal hanya 500 meter dari pagar TPA.Dari Pengawasan Hingga Teknologi: Jalan Keluar yang Mendesak
BRIN mendorong penerapan sistem deteksi dini berbasis sensor suhu dan gas di seluruh TPA rawan kebakaran. Dengan memonitor secara real-time, lonjakan suhu atau konsentrasi metana dapat terdeteksi sebelum mencapai ambang bahaya. Penutupan tanah rutin setebal 15–20 cm setiap hari terbukti mampu menurunkan suhu permukaan hingga 20 derajat dan menghambat pelepasan gas. Solusi jangka panjang menuntut adanya investasi pada teknologi sanitary landfill yang dilengkapi dengan pipa penangkapan metana dan pengubahnya menjadi energi listrik. TPA Gampong Jawa di Banda Aceh dan TPA Manggar di Balikpapan telah menjadi contoh sukses konversi gas metana menjadi listrik untuk masyarakat sekitar. Namun, langkah paling fundamental adalah mengurangi timbunan sampah dari hulu: memilah sampah dari rumah tangga, memperluas program kompos, dan mendorong ekonomi sirkular berbasis daur ulang.“Kebakaran TPA adalah cermin dari kegagalan kita memandang sampah sebagai sumber daya. Jika kita terus membiarkan sampah organik tercampur dan menumpuk, kebakaran akan terus menjadi ritual tahunan,” kata Dr. Lestari.Peran pemerintah daerah dalam penegakan aturan, pengadaan fasilitas, dan edukasi publik menjadi kunci. Tanpa intervensi yang serius, siklus berulang ini akan terus mengancam kesehatan masyarakat dan lingkungan, serta menghamburkan anggaran pemadaman yang bisa dialokasikan untuk perbaikan infrastruktur. Musim kemarau tahun depan sudah pasti datang; saatnya kita memastikan TPA kita tidak lagi menjadi lumbung api. [SOCIAL_FB]: Asap hitam di TPA Jatiwaringin baru padam setelah tiga hari, tapi persoalannya tak akan selesai di situ. BRIN mengingatkan bahwa kebakaran TPA yang berulang setiap musim kemarau adalah alarm kegagalan pengelolaan sampah kita. Dari gas metana yang terperangkap hingga tumpukan sampah kering, semuanya adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Simak penjelasan dan solusi mendesak dari para peneliti agar kita tidak lagi terjebak dalam siklus ini. [SOCIAL_THREADS]: Kebakaran TPA Jatiwaringin sudah tiga hari tak padam. Setiap kemarau, kejadian ini selalu berulang. Kenapa? Karena tumpukan sampah kita adalah bom waktu. Gas metana yang terkumpul, suhu panas, dan tak adanya pengelolaan memadai adalah kombinasi maut. BRIN sebut ini bukan fenomena alam, tapi akibat ulah kita sendiri. Saatnya serius benahi pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. 🌍🔥
Comments (0)