Remaja Buenos Aires Mengaku Hewan, Fenomena Therianthropy Mengkhawatirkan Orang Tua

Di sudut-sudut taman kota Buenos Aires yang rimbun, sebuah pemandangan tak biasa kerap menyita perhatian pejalan kaki sore itu. Sekelompok remaja berkumpul

Jul 14, 2026 - 16:58
0 0
Remaja Buenos Aires Mengaku Hewan, Fenomena Therianthropy Mengkhawatirkan Orang Tua

Di sudut-sudut taman kota Buenos Aires yang rimbun, sebuah pemandangan tak biasa kerap menyita perhatian pejalan kaki sore itu. Sekelompok remaja berkumpul, beberapa di antaranya berjalan merangkak, sebagian lain mengenakan topeng serigala, telinga kucing buatan, atau ekor sintetis yang terikat di pinggang. Mereka adalah bagian dari subkultur therian — sekelompok anak muda yang meyakini diri mereka memiliki jiwa atau identitas spiritual sebagai hewan. Fenomena yang bermula dari komunitas daring ini kini merambah ruang publik ibu kota Argentina, menimbulkan gelombang kekhawatiran di kalangan orang tua dan pendidik setempat.

Apa Itu Therianthropy?

Istilah therianthropy berasal dari bahasa Yunani, gabungan kata therion (binatang liar) dan anthropos (manusia). Dalam konteks modern, therian mengacu pada individu yang mengidentifikasi dirinya — baik secara spiritual, psikologis, maupun simbolis — sebagai hewan tertentu. Berbeda dengan furry fandom yang lebih bersifat hobi dan ekspresi artistik, para therian meyakini adanya koneksi mendalam dan permanen dengan identitas hewani yang mereka emban. Di Buenos Aires, seorang remaja berusia 16 tahun yang enggan disebutkan namanya mengaku kepada AP, "Aku tahu tubuhku manusia, tapi jiwaku serigala abu-abu. Saat bulan purnama, aku merasakan dorongan untuk melolong."

Komunitas yang Tumbuh di Bawah Radar

Kehadiran komunitas therian di Buenos Aires bukanlah fenomena yang tiba-tiba muncul. Berdasarkan data yang dihimpun dari grup Facebook dan server Discord berbahasa Spanyol, terdapat sedikitnya 1.200 remaja di wilayah metropolitan Buenos Aires yang aktif mengidentifikasi diri sebagai therian. Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan dua tahun sebelumnya yang hanya mencatat sekitar 300 anggota aktif. Para sosiolog mencatat, pandemi COVID-19 menjadi katalisator utama pertumbuhan ini — isolasi berkepanjangan mendorong remaja mencari pelarian identitas di dunia maya. Kini, setelah pembatasan dicabut, mereka membawa identitas daring tersebut ke interaksi tatap muka.

"Kami tidak mengganggu siapa pun. Ini tentang menemukan siapa dirimu sebenarnya. Masyarakat selalu takut pada hal yang tidak mereka pahami," ujar Lucia (17), yang mengidentifikasi dirinya sebagai rubah merah, saat ditemui di Parque Tres de Febrero.

Antara Pencarian Jati Diri dan Gejala Disforia

Psikolog remaja di Buenos Aires, Dr. Valeria Mendoza, menjelaskan bahwa fenomena ini harus dipahami dalam konteks perkembangan psikososial yang kompleks. "Masa remaja adalah periode eksplorasi identitas yang intens," katanya dalam wawancara dengan tim Apaberita. "Namun, ketika identifikasi sebagai hewan disertai penolakan terhadap tubuh manusia dan fungsi sosial dasar, kita perlu menilai apakah ini bagian dari disforia spesies — kondisi yang masih diperdebatkan dalam komunitas psikiatri global."

Dr. Mendoza menekankan, tidak semua remaja therian memerlukan intervensi klinis. "Banyak dari mereka tetap berprestasi di sekolah, memiliki pertemanan sehat, dan menggunakan identitas ini sebagai mekanisme koping. Yang menjadi tanda bahaya adalah isolasi total, melukai diri sendiri untuk 'melepaskan diri dari kulit manusia,' atau keinginan ekstrem untuk hidup sepenuhnya sebagai hewan liar."

Respon Orang Tua dan Sekolah

Kekhawatiran terbesar datang dari para orang tua yang merasa kebingungan menghadapi perubahan perilaku anak-anak mereka. Seorang ibu di kawasan Palermo menuturkan, "Anak saya menolak makan dengan sendok karena katanya serigala makan dengan mulut langsung. Saya tidak tahu harus bereaksi bagaimana."

Sementara itu, beberapa sekolah di Buenos Aires mulai memasukkan sesi literasi digital dan kesehatan mental dalam kurikulum untuk membantu siswa menavigasi pengaruh komunitas daring. Kementerian Pendidikan Argentina belum mengeluarkan pedoman resmi terkait fenomena ini, namun juru bicara mereka menyatakan bahwa "pemantauan dilakukan bersama psikolog sekolah dan dinas perlindungan anak."

Media Sosial: Panggung dan Pasar Identitas

Platform seperti TikTok dan Instagram memainkan peran sentral dalam penyebaran subkultur therian di Argentina. Tagar #therianargentina telah ditonton lebih dari 45 juta kali di TikTok per Juni 2025. Video-video yang menampilkan remaja mengenakan perlengkapan hewani, berjalan merangkak, atau mendemonstrasikan suara hewan meraih ribuan likes. Tren ini menciptakan ekosistem di mana validasi sosial diperoleh melalui seberapa meyakinkan seseorang menampilkan identitas hewaninya — sebuah dinamika yang oleh kritikus disebut mendorong eskalasi perilaku agar tetap relevan dalam algoritma.

Fenomena Global dengan Warna Lokal

Argentina bukanlah kasus unik. Komunitas therian juga tercatat berkembang di Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan beberapa negara Skandinavia. Namun, konteks Argentina membawa nuansa tersendiri. Negara yang dikenal dengan tradisi psikoanalisis yang kuat ini cenderung mendekati fenomena ini dari sudut pandang eksplorasi jiwa daripada kriminalisasi. Di sisi lain, masyarakat Argentina yang relatif konservatif secara budaya tetap menunjukkan resistensi terhadap ekspresi identitas non-konvensional ini. "Ini seperti benturan antara generasi digital yang cair dan struktur sosial yang masih kaku," jelas sosiolog Martin Rivas dari Universitas Buenos Aires.

Para remaja therian di Buenos Aires terus menjalani keseharian mereka. Beberapa mengenakan identitas hewani hanya di akhir pekan, sebagian lain mengintegrasikannya sepanjang waktu. Di antara mereka, ada yang berencana kuliah dan berkarir seperti remaja pada umumnya, membuktikan bahwa identitas ganda — manusia dan hewan — tidak selalu berarti kegagalan fungsi sosial. Namun, pertanyaan yang tersisa adalah sejauh mana masyarakat siap menerima, dan di titik mana penerimaan berubah menjadi pembiaran terhadap potensi masalah kesehatan mental yang mendasarinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User