BRIN Kembangkan Satelit Mikro untuk Pemantauan Bencana Alam

JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus menggenjot pengembangan satelit mikro sebagai bagian dari program eksplorasi ruang angkasa Indonesia. Langkah ini bertujuan memperkuat sistem pe

Jul 23, 2026 - 06:25
0 0
BRIN Kembangkan Satelit Mikro untuk Pemantauan Bencana Alam

JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus menggenjot pengembangan satelit mikro sebagai bagian dari program eksplorasi ruang angkasa Indonesia. Langkah ini bertujuan memperkuat sistem peringatan dini bencana alam serta mendukung konektivitas digital di daerah terpencil. Hingga awal 2025, BRIN menargetkan peluncuran dua satelit mikro baru yang mampu memantau aktivitas vulkanik, gempa bumi, dan perubahan cuaca ekstrem.

Dorong Kemandirian Teknologi Antariksa

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Dr. Erna Sri Adiningsih, menegaskan bahwa pengembangan satelit ini merupakan wujud kemandirian teknologi antariksa Indonesia. “Kami tidak hanya membeli satelit dari luar negeri, tetapi juga merancang dan merakit komponen utama di dalam negeri. Ini melibatkan lebih dari 50 peneliti dan insinyur lokal,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (12/3).

Satelit yang diberi nama LAPAN-A5 dan LAPAN-A6 itu memiliki bobot sekitar 50 kilogram masing-masing. Keduanya akan mengorbit pada ketinggian 500 kilometer dari permukaan bumi dengan misi utama pemantauan bencana. Selain itu, satelit ini juga dilengkapi sensor optik untuk memotret permukaan bumi dalam resolusi sedang, yang berguna bagi sektor pertanian dan kehutanan.

Manfaat Nyata bagi Masyarakat

Pengembangan satelit mikro ini diharapkan mampu memberikan data real-time saat terjadi bencana. Misalnya, saat letusan Gunung Semeru atau gempa di Cianjur, satelit dapat mengirimkan citra termal dan perubahan topografi secara cepat. Data tersebut kemudian diolah oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mempercepat evakuasi dan distribusi bantuan.

“Dengan satelit sendiri, kita tidak perlu lagi bergantung pada data dari negara lain yang sering terlambat. Kecepatan informasi sangat krusial dalam penanggulangan bencana,” tambah Erna. BRIN mencatat bahwa Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik, sehingga risiko gempa dan tsunami sangat tinggi. Oleh karena itu, investasi di bidang antariksa menjadi prioritas.

Target Peluncuran dan Kerja Sama Internasional

BRIN menargetkan peluncuran LAPAN-A5 pada kuartal ketiga 2025 menggunakan roket buatan dalam negeri. Saat ini, tim peneliti tengah menyelesaikan uji termal dan getaran di laboratorium. Sementara itu, LAPAN-A6 dijadwalkan meluncur setahun kemudian dengan dukungan roket dari India melalui skema kerja sama internasional.

Selain pemantauan bencana, satelit-satelit ini juga akan berkontribusi pada program Internet of Things (IoT) di sektor kemaritiman. Kapal-kapal nelayan di Indonesia Timur dapat menerima sinyal cuaca dan posisi ikan secara langsung. BRIN juga menggandeng Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mengoptimalkan fitur ini.

Investasi Jangka Panjang

Anggaran pengembangan satelit mikro ini mencapai Rp150 miliar per unit, termasuk biaya peluncuran. Meski terbilang besar, pemerintah menilai investasi ini sebanding dengan manfaat yang diperoleh. Erna menjelaskan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan untuk antariksa akan kembali melalui penghematan biaya impor data satelit dan peningkatan efektivitas penanganan bencana.

“Ke depan, kami ingin Indonesia menjadi pemain utama di kawasan Asia Tenggara dalam teknologi antariksa. Program ini juga membuka lapangan kerja bagi generasi muda di bidang sains dan teknik,” pungkasnya. Dengan semangat eksplorasi ruang angkasa, Indonesia optimistis dapat memanfaatkan satelit untuk ketahanan nasional dan kesejahteraan rakyat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User