Brian Yuliarto Luncurkan Skema Riset Rp1,5 Triliun

Jakarta – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto resmi meluncurkan program pendanaan riset strategis bertajuk “Riset Inovatif untuk Indonesia Maju” (RII...

Brian Yuliarto Luncurkan Skema Riset Rp1,5 Triliun

Jakarta – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto resmi meluncurkan program pendanaan riset strategis bertajuk “Riset Inovatif untuk Indonesia Maju” (RIIM) 2025 di Gedung Dikti, Jakarta, Selasa (1/7/2025). Inisiatif ini mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,5 triliun yang akan disalurkan kepada sedikitnya 500 perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh Indonesia dalam kurun waktu dua tahun mendatang.

Dalam pidato peluncurannya, Brian menegaskan bahwa program ini menjadi tonggak baru transformasi riset nasional yang terintegrasi dengan kebutuhan industri dan pasar global. “Kami tidak ingin riset berhenti di laboratorium. Skema ini dirancang agar setiap temuan langsung terhubung dengan hilirisasi, baik melalui kemitraan dengan Badan Usaha Milik Negara, industri swasta, maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah,” ujarnya. Ia juga menekankan penguatan peran perguruan tinggi sebagai motor inovasi bangsa.

Fokus pada Enam Bidang Prioritas

Program RIIM 2025 mengerucut pada enam bidang prioritas yang sejalan dengan Rencana Induk Riset Nasional 2025–2045. Enam bidang tersebut meliputi ketahanan pangan dan pertanian presisi, energi terbarukan dan konversi, teknologi kesehatan dan alat kesehatan, kecerdasan buatan, material maju, serta kemaritiman dan lingkungan. Setiap proposal akan diseleksi secara ketat melalui tim panel independen yang terdiri dari akademisi, praktisi industri, dan perwakilan kementerian terkait.

Brian menjelaskan, proses seleksi tidak lagi berbasis luaran konvensional semata. “Kami ubah paradigma dari sekadar publikasi jurnal menjadi produk inovasi nyata yang dapat diukur dampak ekonominya. Proposal harus mencantumkan mitra industri atau calon pengguna sejak tahap pengajuan,” katanya. Kementerian menargetkan sedikitnya 30 persen dari total proposal yang lolos sudah memiliki perjanjian kerja sama dengan mitra industri pada hari pertama pendanaan.

Untuk mendukung percepatan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi membentuk unit fasilitasi komersialisasi yang akan mendampingi setiap peneliti dalam proses pengurusan paten, uji pasar, hingga perizinan. Brian merinci, unit ini akan beroperasi di enam kota besar, yaitu Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar, dengan target operasional penuh pada November 2025.

Penguatan Infrastruktur dan Kolaborasi Internasional

Selain pendanaan riset, sebesar Rp400 miliar dari total anggaran akan dialokasikan untuk pengadaan dan revitalisasi peralatan laboratorium di 200 kampus yang tersebar di seluruh provinsi. Brian menyatakan, pemerataan infrastruktur menjadi kunci agar kampus di daerah tidak tertinggal dalam ekosistem riset nasional. “Kami mengidentifikasi 78 kampus di wilayah 3T yang akan diprioritaskan menerima perangkat riset dasar. Tidak ada lagi alasan infrastruktur menghambat lahirnya inovasi dari daerah,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Brian mengumumkan peluncuran skema beasiswa pascasarjana terapan yang bekerja sama dengan lima perguruan tinggi mitra di Jerman, Jepang, dan Korea Selatan. Skema ini akan mengirimkan 150 dosen dan peneliti muda per tahun untuk mendalami riset di bidang transisi energi dan semikonduktor. Seleksi tahap pertama telah dibuka sejak 15 Juni 2025 dan akan ditutup pada 15 Agustus 2025. Brian menambahkan, “Kita ingin membangun jembatan pengetahuan dua arah. Setelah kembali, para penerima beasiswa diwajibkan membentuk pusat riset kolaboratif di kampus asal masing-masing.”

Respons Positif dan Target Konkret

Peluncuran ini disambut baik oleh Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., yang hadir secara daring. “Skema kolaborasi multipihak ini menjawab keluhan kami selama ini akan minimnya jembatan antara kampus dan dunia usaha. Kami sudah menyiapkan 14 proposal riset di bidang kemaritiman yang melibatkan mitra industri pelayaran,” ujarnya. Senada, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Teknologi, Andi Widjajanto, menyatakan bahwa program ini memberi kepastian bagi sektor swasta untuk berinvestasi pada riset bersama perguruan tinggi.

Mendiktisaintek Brian Yuliarto menetapkan target terukur: pada akhir 2026, program RIIM diharapkan menghasilkan 100 produk inovasi siap komersial, 50 paten terdaftar internasional, dan 20 perusahaan rintisan berbasis riset yang didirikan oleh mahasiswa dan dosen. “Angka ini ambisius, tetapi dengan tata kelola yang transparan dan pendampingan intensif, saya optimistis ekosistem riset Indonesia akan bergerak ke tingkat yang sama sekali baru,” tutupnya. Untuk menjamin akuntabilitas, kementerian akan menerbitkan laporan kemajuan triwulanan yang dapat diakses publik melalui portal resmi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User