BMKG: Gempa M 3,5 di Bogor Dipicu Sesar Aktif
JAKARTA, APABERITA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa gempa bumi dangkal dengan magnitudo 3,5 yang mengguncang wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada dini har...
JAKARTA, APABERITA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa gempa bumi dangkal dengan magnitudo 3,5 yang mengguncang wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada dini hari tadi dipicu oleh aktivitas sesar aktif. Kepastian tersebut disampaikan berdasarkan hasil analisis data seismograf dan pemetaan hiposenter yang dilakukan tim geofisika BMKG.
Dalam keterangan resminya, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, menyatakan bahwa episenter gempa terletak pada koordinat 6,62 derajat Lintang Selatan dan 106,68 derajat Bujur Timur, tepatnya di darat pada jarak sekitar 12 kilometer arah tenggara Kota Bogor. Kedalaman hiposenter tercatat hanya 5 kilometer, sehingga gempa diklasifikasikan sebagai gempa dangkal yang getarannya terasa cukup signifikan di permukaan.
"Berdasarkan hasil analisis mekanisme sumber, gempa ini diakibatkan oleh pergerakan sesar aktif yang berada di zona daratan Bogor. Ini merupakan bagian dari jalur sesar yang memanjang dari kawasan selatan Jawa Barat," ujar Daryono dalam konferensi pers virtual, Senin (8/6/2026).
Getaran gempa dirasakan oleh warga di sejumlah kecamatan seperti Cibinong, Citeureup, dan Sukaraja dengan skala intensitas II hingga III MMI (Modified Mercalli Intensity). Pada skala tersebut, getaran dirasakan nyata di dalam rumah dan menyebabkan benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Hingga pukul 06.00 WIB, BMKG mencatat tidak ada laporan kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat kejadian ini.
Analisis Sesar Aktif dan Sejarah Kegempaan
Daryono menjelaskan bahwa wilayah Bogor dan sekitarnya memang dikenal memiliki kompleksitas struktur geologi yang tinggi. Keberadaan sesar aktif di daerah tersebut telah terpetakan dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017 yang disusun oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN). Sesar aktif yang menjadi pemicu gempa kali ini diduga merupakan segmen dari Sesar Cimandiri yang memanjang hingga ke arah timur laut.
"Kami mengidentifikasi bahwa segmen sesar ini memiliki laju pergeseran sekitar 2 hingga 4 milimeter per tahun. Meskipun relatif kecil, akumulasi energi pada kedalaman dangkal dapat memicu gempa kecil hingga menengah yang dirasakan warga," jelasnya.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa kawasan Bogor pernah mengalami gempa merusak pada tahun 1834 dengan perkiraan magnitudo 7,0 yang menyebabkan kerusakan parah di Batavia dan sekitarnya. Namun, untuk kejadian saat ini, BMKG memastikan tidak ada potensi tsunami karena lokasi episenter berada di daratan dan magnitudonya relatif kecil.
Imbauan BMKG dan Langkah Mitigasi
Menindaklanjuti kejadian tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Daryono menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada tanda-tanda gempa susulan yang signifikan, meskipun pihaknya terus memantau aktivitas seismik secara real-time.
"Kami mengimbau warga untuk memastikan bangunan rumah mereka memiliki struktur yang tahan gempa, terutama bagi yang tinggal di daerah lereng atau tanah lunak. Selain itu, penting untuk mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul jika terjadi gempa yang lebih besar," tambahnya.
Dalam rapat koordinasi darurat yang digelar Pemerintah Kabupaten Bogor pagi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah menurunkan tim untuk melakukan asesmen cepat di lokasi-lokasi yang merasakan getaran paling kuat. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bogor, Bambang Surya, menyatakan bahwa timnya berkoordinasi dengan BMKG dan Dinas Pekerjaan Umum untuk memeriksa potensi retakan tanah atau kerusakan infrastruktur.
"Berdasarkan laporan sementara, tidak ada kerusakan berarti. Namun, kami tetap melakukan verifikasi di lapangan untuk memastikan keselamatan masyarakat," ujar Bambang saat ditemui di lokasi.
Rekomendasi Kebijakan dan Kewaspadaan Warga
Menanggapi fenomena ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan agar pemerintah daerah memperketat pengawasan terhadap pembangunan di zona rawan sesar. Hal ini disampaikan dalam rapat koordinasi yang digelar Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada Senin siang.
"Setiap izin mendirikan bangunan di kawasan yang berdekatan dengan jalur sesar aktif harus melalui kajian mikrozonasi. Ini penting untuk mengurangi risiko kerugian di masa depan," kata Sekretaris PVMBG, Ir. Hendra Gunawan, M.T.
Sementara itu, warga di Kecamatan Cibinong mengaku merasakan getaran selama sekitar 3 detik pada pukul 02.14 WIB. "Saya terbangun karena tempat tidur bergetar dan jendela berbunyi. Namun, setelah itu tidak ada apa-apa lagi," tutur Endah, seorang warga Perumahan Bogor Raya, kepada Apaberita.
BMKG mengingatkan bahwa Indonesia berada di wilayah pertemuan tiga lempeng tektonik utama, sehingga aktivitas gempa merupakan hal yang wajar. Masyarakat diimbau untuk selalu mengakses informasi resmi dari BMKG melalui kanal resmi atau aplikasi mobile untuk mendapatkan peringatan dini yang akurat. Hingga berita ini diturunkan, status gempa di Bogor masih dalam kategori normal dan tidak ada peningkatan aktivitas yang mengkhawatirkan.
Comments (0)