Kera Ekor Panjang Serang Permukiman Tembilahan, 18 Warga Terluka

APABERITA, TEMBILAHAN — Sebanyak 18 warga dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan gerombolan kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang memasuki kawasan permukiman di Kecamatan Tembilahan, ...

Kera Ekor Panjang Serang Permukiman Tembilahan, 18 Warga Terluka

APABERITA, TEMBILAHAN — Sebanyak 18 warga dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan gerombolan kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang memasuki kawasan permukiman di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah daerah setempat menyatakan telah meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan sejumlah langkah penanganan guna mencegah jatuhnya korban tambahan.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lapangan, kawanan satwa liar tersebut turun dari kawasan hutan di sekitar wilayah pesisir dan memasuki rumah-rumah warga pada pagi hingga sore hari. Kera-kera itu dilaporkan bergerak dalam kelompok berjumlah belasan hingga puluhan ekor, memanjat atap, merusak ventilasi, serta merebut bahan makanan yang tersimpan di dapur warga.

Kronologi Serangan yang Meresahkan Permukiman

Sejumlah warga menuturkan, gangguan kawanan kera ekor panjang sebenarnya telah berlangsung sejak beberapa waktu lalu. Namun, intensitasnya meningkat tajam dalam sepekan terakhir hingga berujung pada serangan fisik terhadap penghuni rumah. Satwa tersebut disebut menjadi agresif ketika diusir atau ketika akses makanannya dihalangi.

"Kawanan kera itu datang bergerombol dan tidak takut lagi kepada manusia. Ketika kami berusaha mengusir, mereka justru balik menyerang. Anak-anak sekarang tidak berani bermain di luar rumah," ujar seorang warga Tembilahan yang rumahnya menjadi sasaran.

Warga lain menyebutkan bahwa satwa tersebut kerap berkeliaran di permukiman menjelang waktu makan siang dan sore hari. Kondisi itu membuat aktivitas masyarakat, khususnya ibu-ibu dan anak-anak, terganggu secara signifikan.

Belasan Korban Luka, Fasilitas Kesehatan Siaga

Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir mencatat 18 orang telah mendapatkan perawatan medis akibat gigitan dan cakaran kera ekor panjang. Sebagian besar korban ditangani di puskesmas setempat, sementara korban dengan luka yang lebih serius dirujuk ke rumah sakit umum daerah untuk mendapatkan penanganan lanjutan.

Seluruh korban, menurut keterangan tenaga kesehatan, menerima perawatan luka sekaligus pemeriksaan risiko penularan penyakit, termasuk rabies. Pemberian vaksin antirabies disiapkan bagi korban yang memenuhi indikasi medis sesuai prosedur penanganan kasus gigitan hewan penular rabies.

"Kami telah menginstruksikan seluruh fasilitas kesehatan di wilayah terdampak agar siaga menerima pasien korban gigitan. Setiap kasus dicatat dan dipantau perkembangannya. Masyarakat diminta segera berobat apabila tergigit atau tercakar, jangan menunda," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir.

Pemerintah Daerah Koordinasi dengan BKSDA Riau

Menindaklanjuti peristiwa tersebut, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir melalui perangkat kecamatan dan kelurahan telah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau serta instansi terkait. Langkah awal yang ditempuh antara lain pemasangan kandang jebakan di titik-titik yang kerap dilalui kawanan kera, patroli bersama aparat, serta sosialisasi kepada masyarakat.

"Kami menegaskan bahwa penanganan dilakukan secara terpadu bersama BKSDA. Prioritas utama adalah keselamatan warga, namun penanganan satwa tetap mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku," ujar Camat Tembilahan dalam keterangannya.

Camat juga menyatakan telah mengimbau lurah dan ketua rukun tetangga untuk mendata warga yang menjadi korban serta melaporkan setiap kemunculan kawanan kera agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas di lapangan.

Dugaan Penyebab dan Imbauan Pencegahan

Sejumlah pihak menilai, meningkatnya konflik antara manusia dan kera ekor panjang di wilayah Tembilahan tidak terlepas dari berkurangnya habitat alami satwa tersebut. Alih fungsi lahan, menyempitnya kawasan hutan bakau, serta menurunnya ketersediaan pakan alami diduga mendorong kawanan kera merambah permukiman untuk mencari makan.

Kebiasaan sebagian warga memberi makan satwa liar juga dinilai memperparah keadaan karena membuat kera kehilangan rasa takut terhadap manusia dan menganggap permukiman sebagai sumber pakan. Pemerintah daerah mengimbau masyarakat menghentikan praktik tersebut, menutup rapat tempat sampah, menyimpan bahan makanan di tempat aman, serta tidak memelihara satwa liar di rumah.

Hingga berita ini disusun, pemantauan terhadap pergerakan kawanan kera ekor panjang masih berlangsung. Pemerintah daerah menyatakan data jumlah korban dan tingkat kerugian material akan terus diperbarui, sementara upaya penanganan jangka panjang tengah dibahas bersama instansi berwenang agar konflik serupa tidak terulang di kemudian hari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User