BEIJING, Apaberita.com — Pemerintah Republik Rakyat China secara resmi mengumumkan kesiapan penuh untuk memegang tampuk kepemimpinan bergilir blok ekonomi BRICS pada tahun 2027 mendatang. Kesiapan ini ditegaskan langsung oleh Presiden China, Xi Jinping, yang sekaligus mengajukan empat pilar usulan strategis demi mempererat solidaritas serta integrasi ekonomi negara-negara berkembang yang tergabung dalam Global South (Selatan Global).
Langkah Beijing ini dinilai banyak pihak sebagai babak baru penguatan pengaruh aliansi non-Barat di panggung geopolitik dunia, menyusul gelombang ekspansi keanggotaan BRICS dalam beberapa tahun terakhir.
Empat Pilar Utama Usulan Xi Jinping
Dalam forum tingkat tinggi tersebut, Xi Jinping menjabarkan peta jalan komprehensif yang dirancang untuk memperkokoh peran BRICS sebagai motor pertumbuhan ekonomi inklusif. Empat usulan utama tersebut meliputi:
- Penguatan Perdamaian dan Keamanan Bersama: Mendorong resolusi konflik melalui dialog diplomatik multilateral, menolak mentalitas Perang Dingin, serta menjaga stabilitas kawasan berkembang.
- Akselerasi Inovasi dan Pembangunan Hijau: Membangun ekosistem teknologi bersama di bidang kecerdasan buatan (AI), energi terbarukan, dan digitalisasi ekonomi untuk menutup jurang teknologi antarnegara.
- Keadilan Sistem Keuangan dan Perdagangan Global: Meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas batas serta memperkuat peran New Development Bank (NDB) sebagai alternatif pembiayaan infrastruktur.
- Perluasan Pertukaran Budaya dan Tata Kelola Inklusif: Membuka ruang kolaborasi antarmasyarakat, pendidikan, dan reformasi tata kelola global agar lebih mencerminkan keterwakilan negara-negara berkembang.
"Kita harus berdiri bersama di garis depan untuk membela keadilan internasional, mempromosikan multipolaritas yang setara dan tertib, serta memastikan manfaat globalisasi ekonomi dapat dirasakan oleh seluruh bangsa," tegas Presiden Xi Jinping dalam pidatonya.
Peta Jalan Menuju Kepemimpinan BRICS 2027
Keketuaan China pada 2027 diproyeksikan menjadi momentum krusial setelah BRICS resmi merangkul anggota-anggota baru dari kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin. Sejumlah langkah persiapan strategis kini mulai dijalankan:
- Konsolidasi Internal: Menyelaraskan regulasi perdagangan dan mekanisme penyelesaian transaksi keuangan antarnegara anggota baru dan pendiri.
- Penyusunan Agenda Dekarbonisasi: Menyiapkan inisiatif bersama terkait transisi energi berkeadilan yang tidak membebani fiskal negara berkembang.
- Peningkatan Kapasitas Kelembagaan: Memperluas instrumen likuiditas darurat BRICS (Contingent Reserve Arrangement) guna memitigasi volatilitas mata uang global.
Dampak Strategis bagi Negara Selatan Global
Penguatan kepemimpinan China di BRICS dinilai pengamat ekonomi internasional akan membawa angin segar bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Melalui pendekatan multilateralisme praktis, BRICS menawarkan alternatif diversifikasi cadangan devisa serta akses pendanaan proyek strategis tanpa persyaratan politik yang mengikat.
Dengan populasi gabungan yang mencakup lebih dari 40 persen penduduk bumi dan kontribusi ekonomi yang terus melampaui kelompok G7, kepemimpinan China pada 2027 diyakini akan mempercepat pergeseran kutub ekonomi dunia menuju tatanan multipolar yang lebih seimbang.
Comments (0)