Asia Africa Festival 2026 Tegaskan Kolaborasi Global dan Keberlanjutan
Bandung — Gelaran Asia Africa Festival 2026 secara resmi dibuka di Gedung Merdeka, Kota Bandung, Jawa Barat, pada Senin (6/4/2026). Festival tahunan yang memasuki edisi ke-10 ini menegaskan kembali ...
Bandung — Gelaran Asia Africa Festival 2026 secara resmi dibuka di Gedung Merdeka, Kota Bandung, Jawa Barat, pada Senin (6/4/2026). Festival tahunan yang memasuki edisi ke-10 ini menegaskan kembali Semangat Bandung sebagai fondasi strategis dalam memperkuat kolaborasi global lintas benua, dengan penekanan khusus pada agenda keberlanjutan dan solidaritas negara-negara Selatan.
Pembukaan festival dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Rianti Wulandari, serta 47 delegasi dari negara-negara Asia dan Afrika. Dalam sambutannya, Rianti Wulandari menekankan bahwa Semangat Bandung yang lahir dari Konferensi Asia Afrika 1955 tetap relevan sebagai kompas moral dalam tata hubungan internasional kontemporer.
“Semangat Bandung bukan sekadar warisan historis. Ia adalah imperatif strategis bagi negara-negara Asia dan Afrika untuk bersatu menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari ketimpangan ekonomi, krisis iklim, hingga disrupsi teknologi,”
tegas Rianti di hadapan peserta festival.
Agenda Strategis dan Pilar Keberlanjutan
Asia Africa Festival 2026 mengusung tema besar "Reimagining Solidarity: Sustainability and Inclusive Growth" yang dijabarkan dalam tiga pilar utama. Pilar pertama adalah keberlanjutan lingkungan melalui transisi energi berkeadilan. Pilar kedua adalah ekonomi inklusif berbasis digitalisasi dan UMKM lintas negara. Pilar ketiga adalah diplomasi budaya dan people-to-people connectivity.
Sekretaris Jenderal Panitia Pengarah, Dr. Andi Mappanyukki, menyatakan bahwa festival tahun ini menghadirkan 120 program yang tersebar di 15 lokasi di Bandung Raya. Program-program tersebut meliputi forum bisnis, pameran inovasi teknologi ramah lingkungan, pertunjukan seni, konferensi pemuda, serta sesi dialog antarperadaban.
“Kami menargetkan partisipasi lebih dari 50.000 pengunjung selama tujuh hari penyelenggaraan. Festival ini dirancang sebagai ruang konkret untuk menghasilkan kesepakatan kerja sama, bukan sekadar seremoni,”
ujar Andi dalam konferensi pers di Balai Kota Bandung, Minggu (5/4/2026).
Forum Bisnis dan Komitmen Investasi
Salah satu agenda utama festival adalah Asia Africa Business Summit yang mempertemukan lebih dari 300 pelaku usaha dari 33 negara. Forum ini difokuskan pada sektor energi terbarukan, agrikultur berkelanjutan, dan infrastruktur digital. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Darmawan Hadi Susilo, mengonfirmasi bahwa sedikitnya 12 nota kesepahaman (MoU) bernilai total 2,8 miliar dolar AS ditargetkan diteken selama forum berlangsung.
“Ini menunjukkan bahwa kolaborasi Asia Afrika bukan lagi sekadar solidaritas politik, melainkan telah bertransformasi menjadi kemitraan ekonomi strategis yang saling menguntungkan,”
kata Darmawan saat mendampingi Menteri Luar Negeri meninjau paviliun bisnis di lokasi festival.
Delegasi dari Kenya, Nigeria, India, Vietnam, dan Arab Saudi disebut sebagai pihak yang paling aktif menjajaki peluang investasi di Indonesia, khususnya dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan pengolahan mineral kritis. Sementara itu, delegasi Indonesia menawarkan proyek kerja sama transfer teknologi pengolahan nikel berkelanjutan dan pengembangan baterai kendaraan listrik kepada negara-negara Afrika yang memiliki cadangan mineral melimpah.
Diplomasi Pemuda dan Warisan Semangat Bandung
Asia Africa Youth Conference yang menjadi bagian integral festival mempertemukan 500 pemuda dari 40 negara Asia dan Afrika. Konferensi yang berlangsung di Universitas Padjadjaran ini menghasilkan Deklarasi Pemuda Asia Afrika 2026 yang berisi 10 poin rekomendasi mengenai aksi iklim, literasi digital, dan kewirausahaan sosial.
Ketua Delegasi Pemuda Indonesia, Fatimah Azzahra (26), membacakan deklarasi tersebut di hadapan para kepala delegasi negara. Dokumen itu secara eksplisit menyebutkan komitmen pemuda untuk mengawal implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui proyek kolaboratif berbasis komunitas.
“Kami tidak ingin Semangat Bandung berhenti sebagai narasi usang. Kami ingin mewujudkannya dalam aksi nyata. Kami mewakili generasi yang siap bertanggung jawab atas masa depan planet ini bersama-sama,”
tegas Fatimah.
Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Rina Indiastuti, M.Si., menyatakan bahwa kampusnya secara resmi meluncurkan Asia Africa Scholarship Program senilai Rp 75 miliar untuk mendukung mobilitas akademik mahasiswa dari kawasan Asia dan Afrika. Program beasiswa ini akan mendanai 200 mahasiswa per tahun untuk program magister dan doktoral di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) serta ilmu sosial.
Pameran Inovasi dan Diplomasi Budaya
Pameran Asia Africa Innovation Expo yang digelar di Sasana Budaya Ganesha menampilkan lebih dari 100 stan dari perusahaan rintisan (startup), lembaga riset, dan komunitas inovator. Teknologi penyulingan air tenaga surya dari Kenya, platform fintech inklusif dari Bangladesh, serta drone pertanian buatan Institut Teknologi Bandung menjadi sorotan utama pameran.
Di sisi lain, pertunjukan seni dan budaya melibatkan 1.200 seniman dari 28 negara. Kolaborasi antara gamelan Sunda dan ansambel perkusi Ethiopia menjadi salah satu penampilan yang paling dinantikan. Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Hilmar Farid, Ph.D., menekankan bahwa diplomasi budaya merupakan pilar fundamental dalam memperkuat solidaritas Asia Afrika.
“Budaya adalah jembatan terdalam yang menghubungkan bangsa-bangsa. Melalui pertukaran budaya yang autentik, kita membangun rasa saling percaya yang menjadi modalitas kerja sama di sektor lain,”
ujarnya saat membuka pameran seni rupa kontemporer Asia Afrika di Galeri Soemardja.
Penutupan dan Langkah Ke Depan
Asia Africa Festival 2026 dijadwalkan berakhir pada Minggu (12/4/2026) dengan upacara penutupan di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Rangkaian penutupan akan dimeriahkan dengan konser kolaborasi musisi Asia Afrika serta penanaman 1.955 pohon sebagai simbol tahun kelahiran Konferensi Asia Afrika.
Menteri Luar Negeri Rianti Wulandari menegaskan bahwa Indonesia akan terus memainkan peran sebagai poros strategis yang menjembatani kepentingan negara-negara Asia dan Afrika di forum multilateral seperti G20, ASEAN, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia juga mengumumkan bahwa Asia Africa Festival 2027 akan diselenggarakan di Yogyakarta dengan fokus tema transformasi digital inklusif.
“Semangat Bandung adalah komitmen abadi. Ia tidak lekang oleh waktu. Ia adalah janji kolektif kita untuk membangun dunia yang lebih adil, setara, dan berkelanjutan,”
pungkas Rianti menutup wawancara eksklusif di sela-sela festival.
Dengan berakhirnya Asia Africa Festival 2026, optimisme mengenai kebangkitan solidaritas Selatan-Selatan kian menguat. Festival ini bukan hanya perayaan seremonial, melainkan platform strategis yang menerjemahkan nilai-nilai Dasasila Bandung ke dalam kerja sama konkret di abad ke-21.
Comments (0)