Argentina, Juara Bertahan, Hadapi Kejutan Swiss di Perempat Final
Los Angeles, 10 Juli 2026 – Argentina akan menjalani ujian krusial dalam upaya mempertahankan gelar juara dunia saat berhadapan dengan Swiss pada babak perempat final Piala Dunia 2026. Pertandingan ...
Los Angeles, 10 Juli 2026 – Argentina akan menjalani ujian krusial dalam upaya mempertahankan gelar juara dunia saat berhadapan dengan Swiss pada babak perempat final Piala Dunia 2026. Pertandingan yang mempertemukan sang juara bertahan dan tim kuda hitam ini dijadwalkan berlangsung di Stadion SoFi, Los Angeles, Amerika Serikat, pukul 19.00 waktu setempat.
Perjalanan Argentina Menuju Perempat Final
Tim asuhan Lionel Scaloni melaju ke fase delapan besar dengan catatan impresif. Di babak grup, Argentina menyapu bersih tiga kemenangan atas Kanada, Maroko, dan Selandia Baru, mencetak total sembilan gol dan hanya kebobolan satu. Pada babak 16 besar, pasukan Albiceleste menundukkan Uruguay dengan skor 2-0 lewat gol Lautaro Martínez dan eksekusi penalti Lionel Messi. Kapten berusia 39 tahun itu tetap menjadi motor serangan, dengan kontribusi empat gol dan dua assist sepanjang turnamen.
Kedalaman skuad Argentina menjadi kekuatan utama. Nama-nama seperti Enzo Fernández, Alexis Mac Allister, dan Julián Álvarez tampil konsisten di lini tengah dan depan. Sementara itu, duet Cristian Romero dan Lisandro Martínez di jantung pertahanan hanya kebobolan satu gol dari permainan terbuka. Argentina menjadi satu dari tiga tim dengan pertahanan terbaik di turnamen sejauh ini bersama Prancis dan Inggris.
Swiss, Kuda Hitam yang Mengejutkan
Di sisi lain, Swiss melangkah ke perempat final dengan status sebagai kejutan terbesar Piala Dunia 2026. Di bawah arahan Murat Yakin, tim berjuluk Nati itu lolos dari fase grup sebagai runner-up di bawah Brasil setelah menahan imbang sang raksasa 1-1, serta mengalahkan Serbia dan Jamaika. Puncaknya terjadi di babak 16 besar ketika Swiss menyingkirkan Brasil melalui adu penalti 4-3 setelah bermain imbang 0-0 selama 120 menit. Kiper Gregor Kobel menjadi pahlawan dengan dua penyelamatan penalti.
Swiss dikenal dengan disiplin taktis tinggi dan organisasi pertahanan yang solid. Mereka baru kebobolan dua gol dalam empat laga. Granit Xhaka, kapten tim, menjadi jenderal lapangan tengah yang mengatur ritme sekaligus memutus serangan lawan. Di lini depan, Breel Embolo dan Zeki Amdouni menjadi andalan dengan kecepatan dan penyelesaian akhir yang klinis. Swiss bukan sekadar tim defensif, mereka juga menunjukkan transisi serangan balik cepat yang mematikan, terutama lewat sayap yang diisi Ruben Vargas dan Renato Steffen.
Duel Taktik dan Pemain Kunci
Pertandingan ini diprediksi menjadi bentrokan antara dominasi penguasaan bola Argentina dan struktur pertahanan rapat Swiss. Scaloni kemungkinan akan kembali mengandalkan formasi 4-3-3 fleksibel dengan Messi sebagai false nine atau penyerang sayap kanan yang bebas bergerak. Di kubu lawan, Yakin diperkirakan memasang formasi 3-4-2-1 yang bisa bertransformasi menjadi 5-4-1 saat kehilangan bola.
Perhatian khusus tertuju pada duel antara Messi dan Xhaka di lini tengah. Kemampuan Messi menemukan ruang di antara garis pertahanan akan diuji oleh kedisiplinan gelandang bertahan Swiss. Sementara itu, kecepatan Embolo bisa menjadi ancaman serius bagi bek tengah Argentina yang kerap bermain dengan garis pertahanan tinggi. Pertarungan di sektor sayap antara Nahuel Molina melawan Ruben Vargas juga diprediksi bakal sengit.
Pernyataan Kedua Kubu
Menjelang laga, Lionel Scaloni menegaskan timnya tidak akan terlena oleh status favorit. “Kami menghormati Swiss sebagai tim yang sangat terorganisasi. Mereka sudah menyingkirkan Brasil, itu bukti kualitas mereka. Kami harus sabar, disiplin, dan memanfaatkan setiap peluang sekecil apa pun,” ujarnya dalam konferensi pers di Los Angeles, Rabu (9/7).
Di pihak Swiss, Murat Yakin mengakui laga ini adalah ujian terberat bagi anak asuhnya. “Argentina adalah juara dunia dan memiliki pemain terbaik sepanjang masa. Namun kami datang ke sini bukan sekadar untuk berpartisipasi. Kami punya keyakinan dan strategi untuk menyulitkan mereka,” katanya. Granit Xhaka menambahkan, “Kami sudah menulis sejarah dengan mencapai perempat final. Sekarang kami ingin menulis babak baru.”
Laga Penuh Gengsi dan Sejarah
Pertemuan ini menjadi ulangan babak 16 besar Piala Dunia 2014 di Brasil, ketika Argentina susah payah menyingkirkan Swiss 1-0 lewat gol Ángel Di María di menit ke-118. Kenangan itu masih membekas, dan Swiss bertekad membalaskan dendam. Di sisi lain, Argentina membidik tiket semifinal untuk menjaga asa menjadi tim pertama yang mempertahankan gelar sejak Brasil pada 1962.
Dengan tiket semifinal menghadang, atmosfer di Los Angeles diperkirakan akan dipenuhi puluhan ribu pendukung kedua tim. Laga ini bukan sekadar pertarungan teknis, melainkan adu mental dan ambisi antara raksasa tradisional dan penantang pemberani.
Comments (0)