WASHINGTON — Tingkat persetujuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertahan di angka rekor terendah 32 persen, berdasarkan hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis Senin (8/10/2018). Angka tersebut identik dengan hasil survei bulan sebelumnya dan menempatkan Trump sebagai presiden dengan elektabilitas paling rendah pada titik yang setara dalam masa jabatannya dibanding pendahulunya.
Temuan ini muncul di tengah manuver politik Partai Republik yang semakin agresif membangun dukungan menjelang pemilihan tengah periode (midterms) yang tinggal sekitar empat minggu lagi. Partai Republik berusaha mempertahankan kendali mayoritas di Kongres, sementara Demokrat berharap gelombang ketidakpuasan terhadap Trump menjadi modal untuk merebut kembali Dewan Perwakilan Rakyat.
Timeline Penurunan Dukungan
- Awal pemerintahan: Trump memulai masa jabatan dengan angka persetujuan di kisaran 45–48 persen, salah satu yang terendah bagi presiden baru AS modern.
- Pertengahan 2017: Dukungan tergerus ke kisaran 36–40 persen seiring kritik terhadap kebijakan imigrasi dan reformasi pajak.
- Akhir 2017: Skandal penyelidikan kampanye 2016 dan pergolakan di Gedung Putih menekan angka ke kisaran 35 persen.
- Oktober 2018: Persetujuan mentok di 32 persen, level terendah yang pernah tercatat dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos.
Para analis menilai angka 32 persen tersebut mencerminkan polarisasi politik yang semakin dalam di Amerika Serikat. Basis dukungan Trump memang terbukti loyal, tetapi jumlah pemilih yang menolak kepemimpinannya konsisten lebih besar. "Presiden ini memiliki dukungan yang sangat keras dan sangat keras pula penolakannya, tetapi yang menolak selalu lebih banyak," kata seorang pengamat politik yang mengikuti survei tersebut.
Implikasi Bagi Pemilihan Tengah Periode
Secara historis, presiden dengan persetujuan di bawah 40 persen menghadapi risiko besar kehilangan kursi di Kongres. Partai Republik kini menghadapi tekanan ganda: menjaga basis pemilih konservatif tetap antusias, sekaligus meredam kekhawatiran calon mereka di daerah-daerah ayunan (swing states) yang mulai ragu.
| Indikator | Angka | Dampak Politik |
|---|---|---|
| Approval rating Trump | 32% | Rekor terendah, mengancam mayoritas Republik |
| Sisa waktu pemilihan | ~4 minggu | Kampanye memanas di semua negara bagian kunci |
| Selisih dukungan vs penolakan | Penolakan lebih tinggi | Demokrat berpeluang merebut DPR |
Di kubu Demokrat, angka ini dijadikan senjata kampanye. Mereka berulang kali menekankan bahwa kebijakan ekonomi, perubahan iklim, serta reformasi peradilan yang digagas Trump tidak mewakili kepentingan mayoritas warga. Sebaliknya, tim kampanye Republik mengalihkan fokus ke isu ekonomi yang relatif stabil, pengangguran rendah, dan pencapaian penunjukan hakim konservatif di Mahkamah Agung.
"Angka persetujuan yang rendah bukan berarti kalah otomatis, tetapi membuat setiap kursi menjadi jauh lebih sulit dipertahankan."
Survei dan Metodologi
Jajak pendapat Reuters/Ipsos dilakukan secara daring kepada ribuan wajib pemilih terdaftar di seluruh Amerika Serikat, dengan tingkat kesalahan margin sekitar 2–3 persen. Survei semacam ini menjadi rujukan utama bagi kedua partai untuk mengatur strategi alokasi dana kampanye dan jadwal kunjungan kandidat ke wilayah-wilayah yang dinilai rawan.
Ke depan, para pemburu suara memantau sejumlah isu yang diprediksi menentukan arah dukungan: penurunan pajak, perang dagang dengan Tiongkok, kebijakan perawatan kesehatan, serta sentimen terhadap demonstrasi mahasiswa menuntut reformasi senjata. Jika angka persetujuan terus stagnan di 32 persen hingga hari pemilihan, tekanan politik terhadap Trump diperkirakan akan meningkat drastis, terlepas dari hasil akhir pemilihan tengah periode.
Bagi Trump sendiri, rekam jejak menunjukkan ia jarang terpengaruh oleh fluktuasi survei. Namun bagi para kandidat Republik di lapangan, angka tersebut adalah peringatan keras bahwa waktu untuk membalikkan persepsi publik semakin sempit.
Comments (0)