Apaberita.com - Pernyataan ekonom senior Chatib Basri bahwa Indonesia pada tahun 2026 tidak sedang meluncur ke jurang kr
Namun, di balik optimisme itu, terselip sebuah pengakuan yang justru lebih penting daripada sekadar perdebatan soal kurs rupiah, defisit fiskal, atau ancaman resesi. Chatib Basri dengan jujur mengaku
Namun, di balik optimisme itu, terselip sebuah pengakuan yang justru lebih penting daripada sekadar perdebatan soal kurs rupiah, defisit fiskal, atau ancaman resesi. Chatib Basri dengan jujur mengakui bahwa kelompok yang paling tertekan selama tujuh tahun terakhir adalah masyarakat berpendapatan menengah, terutama mereka yang berada di desil 5 hingga desil 8. Pengakuan ini bukan sekadar catatan kaki, melainkan sebuah tamparan keras bagi para perumus kebijakan ekonomi di negeri ini.
Pengakuan yang Mengguncang Kesadaran
Dalam perspektif pemerhati ekonomi, penjelasan Chatib Basri adalah sebuah pengakuan bahwa selama ini kebijakan ekonomi Indonesia lebih berpihak pada dua kutub: kelompok atas dan teratas, serta kelompok bawah dan terbawah. Sementara itu, kelas menengah seolah diabaikan—EGP (emang gue pikirin) menjadi ungkapan yang pedas namun tepat menggambarkan realitas sikap pembuat kebijakan. "Pengakuan" semacam ini seharusnya mengguncang kesadaran para perumus kebijakan ekonomi. Sebab, jika pertumbuhan ekonomi masih tercatat, inflasi relatif terkendali, sistem keuangan stabil, bantuan sosial terus diperluas, dan investasi terus didorong, mengapa justru kelas menengah yang mengalami pertumbuhan negatif?
Pengakuan Chatib Basri bahwa desil 5 hingga desil 8 paling tertekan adalah alarm bahwa ada yang keliru dalam arah kebijakan ekonomi yang selama ini dianggap berhasil.
Efek domino dari tekanan ini sangat mengkhawatirkan. Daya beli kelas menengah secara agregat merosot, dan ini bukan hanya soal penurunan konsumsi sekelompok orang. Kelas menengah adalah tulang punggung permintaan domestik, motor penggerak sektor riil, dan fondasi stabilitas sosial-politik. Ketika mereka tertekan, ketahanan ekonomi Indonesia secara mikro pun goyah. Warung, UMKM, sektor jasa, hingga properti merasakan dampaknya secara langsung. Padahal, kelas menengah tidak terdaftar sebagai penerima bantuan sosial dalam jumlah signifikan, namun juga tidak memiliki bantalan kekayaan seperti kelas atas yang bisa bertahan di tengah gejolak.
Teori Ekonomi yang Miskin Empati
Fenomena ini menunjukkan adanya kemiskinan dalam teori ekonomi yang diterapkan di Indonesia. Model kebijakan yang bertumpu pada pertumbuhan agregat dan stabilitas makro ternyata mengabaikan distribusi tekanan di lapisan tengah. Inilah "kemiskinan teori ekonomi Indonesia" yang sesungguhnya: teori yang hanya bekerja di atas kertas, namun gagal membaca denyut penderitaan kelas menengah. Tanpa keberpihakan yang tegas, pertumbuhan positif di level makro tidak akan mampu menutupi luka ekonomi di level mikro yang kian menganga. Pernyataan Chatib Basri, jika benar-benar diserap oleh para pengambil keputusan, bisa menjadi titik balik untuk menyelamatkan kelas menengah sebelum benar-benar tumbang.
Comments (0)