WONOGIRI, Apaberita.com — Fenomena unik kembali terjadi di kawasan perairan Waduk Gajah Mungkur (WGM), Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Memasuki puncak musim kemarau, volume air waduk mengalami penurunan drastis hingga memperlihatkan daratan dasar waduk. Surutnya perairan ini memicu kemunculan kembali ratusan nisan dan kijing makam kuno yang selama puluhan tahun berada di bawah permukaan air.
Kawasan makam lawas tersebut salah satunya tampak membentang di wilayah Kelurahan dan Kecamatan Wuryantoro. Pemandangan daratan yang mengering dan dipenuhi bebatuan nisan bercorak lawas menjadi saksi bisu keberadaan permukiman masa lalu sebelum proyek waduk raksasa tersebut dibangun pada era 1970-an.
Kronologi Munculnya Makam dan Jejak Permukiman Lawas
Kondisi dasar waduk yang berubah menjadi daratan luas ini melewati sejumlah tahapan perubahan alamiah seiring dengan pergantian musim di wilayah Wonogiri:
- Penurunan Debit Air Sejak Awal Kemarau: Memasuki periode musim kering, pasokan air dari berbagai hulu sungai menuju Waduk Gajah Mungkur mulai berkurang secara signifikan, memicu penurunan elevasi air bendungan.
- Daratan Mengering pada Puncak Kemarau: Sekitar bulan Agustus hingga September, perairan dangkal di pinggiran waduk menyusut hingga puluhan meter dari bibir air normal.
- Resurfacing Makam dan Fondasi Rumah: Struktur padat seperti batu nisan, bekas sumur tua, hingga puing fondasi rumah kuno mulai terlihat jelas di atas hamparan lumpur yang mengering dan retak.
"Penampakan makam kuno ini merupakan fenomena tahunan yang selalu terjadi setiap kali musim kemarau tiba dan air waduk menyusut. Lokasi tersebut dahulunya adalah permukiman warga sebelum akhirnya ditenggelamkan untuk proyek pembangunan waduk," ungkap aparatur kecamatan setempat.
Saksi Bisu Sejarah Bedol Desa Era 1970-an
Waduk Gajah Mungkur dibangun pada rentang tahun 1976 hingga 1981 dengan menenggelamkan puluhan desa di beberapa kecamatan di Kabupaten Wonogiri. Ribuan kepala keluarga kala itu harus mengikuti program transmigrasi bedol desa ke berbagai daerah di Pulau Sumatra, seperti Sitiung di Sumatra Barat dan Bengkulu.
Saat proyek dimulai, sebagian makam leluhur warga sempat dipindahkan, namun sebagian lainnya tetap tertinggal di lokasi asli karena keterbatasan waktu serta luasnya area pemakaman umum desa masa lampau.
Ketika makam-makam kuno ini kembali muncul ke permukaan, lokasi tersebut kerap dimanfaatkan oleh sejumlah pihak:
- Warga Lokal dan Ahli Waris: Sebagian warga yang masih memiliki garis keturunan memanfaatkan momen ini untuk berziarah serta membersihkan makam leluhur mereka.
- Pemanfaatan Lahan Surut: Para petani musiman kerap memanfaatkan hamparan tanah subur dasar waduk untuk menanam tanaman palawija dan jagung sebelum air kembali naik pada musim penghujan.
- Daya Tarik Dokumentasi: Kondisi daratan eksotis dengan latar belakang sejarah menarik perhatian para fotografer dan masyarakat yang penasaran dengan jejak peradaban masa lampau di dasar bendungan.
Fenomena ini diperkirakan akan terus bertahan hingga awal musim penghujan mendatang, saat limpasan air sungai kembali mengisi tampungan Waduk Gajah Mungkur dan menenggelamkan jejak sejarah tersebut ke dasar air.
Comments (0)