'Air Mata Palsu', Tudingan Trump ke Pelayat yang Banjiri Pemakaman Khamenei
Prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, terus berlangsung dengan dihadiri ribuan pelayat yang membanjiri jalanan Tehran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru
Prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, terus berlangsung dengan dihadiri ribuan pelayat yang membanjiri jalanan Tehran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut air mata yang tumpah di pemakaman tersebut sebagai "air mata palsu". Trump mengaku kaget melihat besarnya jumlah warga Iran yang hadir, namun meragukan ketulusan kesedihan mereka.
Pemakaman Ayatollah Khamenei dimulai sejak Sabtu, 4 Juli 2026, di kompleks Grand Mosalla di pusat kota Tehran. Jenazah pemimpin spiritual tertinggi Iran itu disemayamkan sepanjang siang dan malam selama tiga hari penuh, hingga Senin (7/7). Ribuan warga Iran terlihat memadati area pemakaman, menangis, dan meneriakkan yel-yel anti-Amerika, menunjukkan duka mendalam atas kepergian salah satu tokoh paling berpengaruh di Timur Tengah.
"Saya melihat air mata palsu di sana. Begitu banyak orang yang hadir, saya kaget, tapi air mata itu tidak nyata," ujar Trump dalam sebuah pernyataan yang dikutip media kami dari Gedung Putih.
Pernyataan Trump tersebut segera memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk pejabat Iran dan pendukung Khamenei. Di hari kedua prosesi pemakaman, suasana semakin memanas dengan adanya teriakan tuntutan pembalasan terhadap Presiden Trump. Warga Iran yang berduka menuding kebijakan tekanan maksimum Washington di bawah pemerintahan Trump telah memperburuk penderitaan rakyat Iran selama tahun-tahun terakhir masa kepemimpinan Khamenei.
Berdasarkan laporan langsung tim Apaberita.com di lapangan, prosesi pemakaman berlangsung dengan pengamanan ketat dari pasukan Garda Revolusi Iran. Meski demikian, hal tersebut tidak menyurutkan antusiasme ribuan pelayat untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin yang telah memimpin Iran selama hampir empat dekade. Banyak di antara mereka yang membawa foto Khamenei, bendera Iran, serta spanduk berisi kecaman terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.
Khamenei wafat di usia 87 tahun setelah menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989. Kematiannya menandai akhir dari sebuah era panjang dalam politik Iran, dan kini memunculkan pertanyaan besar tentang siapa yang akan menggantikannya sebagai pemimpin tertinggi berikutnya. Sementara itu, tensi antara Iran dan Amerika Serikat diperkirakan akan terus meningkat di tengah masa transisi kekuasaan di Tehran.
Comments (0)