JAKARTA — Aktris Acha Septriasa menyatakan pemahamannya terhadap tekanan sosial yang kerap dialami pasangan suami istri di Indonesia, khususnya terkait pertanyaan kapan memiliki anak. Pernyataan tersebut disampaikan Acha dalam kapasitasnya sebagai pemeran utama film orisinal produksi Vidio berjudul Kapan Punya Anak, yang turut dibintangi Andri Mashadi dan disutradarai Dyan Sunu Prastowo.
Dalam film tersebut, Acha memerankan tokoh bernama Alma. Ia menegaskan bahwa kedalaman karakter yang dibangunnya bukan semata hasil pendalaman naskah, melainkan bersumber dari pengalaman pribadinya sendiri. Acha mengungkapkan bahwa ia pernah menanti kehadiran anak kedua selama kurang lebih empat tahun, dan pada masa penantian itu ia sempat mengalami keguguran di usia kehamilan trimester pertama.
"Aku memang pengin banget punya anak setelah punya anak yang pertama dulu. Jadi aku nunggu juga 4 tahun untuk dapat anak kedua. Dan waktu itu di antara nunggu itu dapat, hamil, terus di umur 13 minggu, ternyata harus dilepas karena keguguran," kata Acha Septriasa.
Pengalaman Pribadi Jadi Inspirasi Pendalaman Karakter
Acha menyatakan bahwa perjalanan emosional tersebut kemudian ditariknya menjadi bahan utama untuk menghidupkan tokoh Alma. Menurutnya, rasa kesepian dan ketidakpastian yang menyertai proses penantian menjadi dimensi penting yang ingin ia tampilkan secara jujur di layar lebar.
"Experience yang seperti itu yang akhirnya aku tarik menjadi inspirasi aku untuk membangun karakter Alma ini. Lonely-nya kami berusaha, terus bagaimana kita nungguin kepastian untuk dapat apa enggak," tutur Acha.
Ia menambahkan, pengalaman kehilangan pada usia kandungan 13 minggu merupakan momentum yang membekas secara mendalam. Hal itu, menurut Acha, membuatnya memiliki kepekaan tersendiri ketika harus memerankan perempuan yang berada dalam situasi serupa.
Perbandingan Budaya Indonesia dan Luar Negeri
Menanggapi fenomena pertanyaan kapan punya anak yang lazim muncul dalam momentum silaturahmi keluarga di Indonesia, Acha memberikan perbandingan antara budaya masyarakat Indonesia dan budaya Barat di negara tempatnya kini menetap, Australia. Ia menegaskan bahwa kedua konteks budaya tersebut tidak dapat disamakan begitu saja karena masing-masing memiliki tata krama dan cara pandang hidup tersendiri.
"Indonesia dan di luar negeri itu sebenarnya enggak bisa disamain ya. Mereka punya way of life-nya sendiri, tata kramanya sendiri, dan culture-nya sendiri. Di Indonesia budayanya gotong royong, dan sesama keluarga itu merasa harus saling kenal serta mengetahui apa yang terjadi," ucap Acha.
Menurut Acha, tingginya intensitas pertanyaan semacam itu di Indonesia berangkat dari kedekatan hubungan antarkeluarga. Ia menilai masyarakat Indonesia memiliki tradisi saling mengetahui persoalan yang terjadi di lingkungan keluarga besar, sehingga pertanyaan mengenai momongan sering kali muncul sebagai bentuk perhatian, meski pada praktiknya dapat menimbulkan tekanan bagi pihak yang ditanya.
Film Kapan Punya Anak Angkat Realitas Sosial
Film Kapan Punya Anak diproduksi sebagai karya orisinal Vidio dan mengangkat realitas sosial yang akrab di tengah masyarakat Indonesia. Pertanyaan kapan punya anak disebut-sebut telah menjadi semacam santapan wajib bagi pasangan yang telah menikah, terutama ketika berlangsung pertemuan keluarga besar.
Melalui film tersebut, Acha berharap penonton dapat memahami bahwa di balik pertanyaan yang tampak sederhana terdapat pergulatan batin yang tidak selalu terlihat. Ia menegaskan bahwa setiap pasangan memiliki perjalanan dan waktu tersendiri, sehingga empati menjadi sikap yang perlu dikedepankan.
Film ini turut menampilkan Andri Mashadi sebagai pemeran pendamping. Keduanya diketahui aktif melakukan promosi menjelang penayangan karya tersebut. Acha Septriasa sendiri kini menetap di Australia bersama keluarganya dan tetap aktif dalam sejumlah proyek akting di industri perfilman nasional.
Dengan mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, film Kapan Punya Anak diharapkan mampu membuka ruang dialog mengenai batas-batas kepantasan dalam bertanya, sekaligus mengingatkan pentingnya menghormati privasi dan proses yang tengah dijalani setiap pasangan.
Comments (0)