320 Taruna dan 30 Taruni Akpol 2026 Lolos Seleksi Berbasis Komputer

Jakarta — Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui Staf Sumber Daya Manusia (SSDM) Polri resmi menetapkan hasil akhir seleksi penerimaan calon taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Tahu...

320 Taruna dan 30 Taruni Akpol 2026 Lolos Seleksi Berbasis Komputer

Jakarta — Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui Staf Sumber Daya Manusia (SSDM) Polri resmi menetapkan hasil akhir seleksi penerimaan calon taruna Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun Anggaran 2026. Keputusan yang tertuang dalam Surat Keputusan Kepala SSDM Polri Nomor: Kep/125/VII/2026 itu menyatakan bahwa sejumlah 350 orang dinyatakan lolos sebagai peserta didik Akpol. Dari jumlah tersebut, 320 kuota dialokasikan bagi calon taruna pria dan 30 kuota untuk calon taruni. Pengumuman disampaikan secara terbuka melalui laman resmi SSDM Polri pada Sabtu, 27 Juli 2026, menandai berakhirnya seluruh tahapan seleksi yang berlangsung ketat.

Seleksi tahun ini mencatatkan sejarah baru dengan penerapan sistem ujian berbasis komputer yang mengadopsi standar soal bertaraf olimpiade. Inovasi ini diyakini mampu mengukur kemampuan kognitif, penalaran logis, dan analitis para pendaftar secara lebih akurat dan objektif. Kepala SSDM Polri, Komisaris Jenderal Polisi Drs. Andri Santoso, M.Si., menekankan bahwa perubahan metode seleksi merupakan jawaban atas tuntutan Polri yang semakin modern.

"Kami tidak lagi sekadar menguji hafalan, tetapi menggali potensi intelektual calon perwira melalui instrumen yang standar internasional," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (28/7/2026).

Transformasi Metode Seleksi Berbasis Komputer

Penerapan Computer Assisted Test (CAT) berlevel olimpiade menjadi lompatan besar dalam sejarah rekrutmen Akpol. Tes ini dirancang oleh tim ahli dari SSDM Polri bersama akademisi perguruan tinggi ternama dengan mengacu pada model soal yang biasa digunakan dalam Olimpiade Sains Nasional maupun kompetisi internasional. Materi ujian mencakup penalaran matematika, pemahaman bacaan, logika deduktif, dan analisis situasi kompleks yang disajikan dalam format digital interaktif.

"Standar olimpiade bukan sekadar label, melainkan jaminan bahwa kami menyaring individu dengan daya pikir level tinggi. Tuntutan tugas kepolisian ke depan sangat dinamis, mulai dari kejahatan siber, terorisme, hingga penegakan hukum berbasis digital," jelas Kepala Biro Perencanaan dan Administrasi SSDM Polri, Brigadir Jenderal Polisi Dr. Dewi Anggraini, S.I.K., M.H.

"Kami ingin mencetak perwira yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga tajam secara intelektual. Kesiapan mental dan akademis menjadi fondasi utama."

Proses seleksi berlangsung dalam beberapa tahap gugur yang ketat. Setelah pendaftaran daring yang dibuka pada April hingga Mei 2026, ribuan pendaftar mengikuti pemeriksaan administrasi, tes kesehatan tahap I, tes psikologi, tes akademik konvensional, dan puncaknya adalah tes komputer berstandar olimpiade tersebut. Mereka yang lolos lalu menjalani tes kesehatan tahap II, uji kesamaptaan jasmani, wawancara akhir, dan sidang penetapan terbuka. Setiap tahap diumumkan secara transparan melalui portal rekrutmen Polri. Transparansi ini merupakan implementasi dari Peraturan Kapolri Nomor 10 Tahun 2022 tentang Penerimaan Peserta Didik Polri.

Distribusi Kuota Berbasis Analisis Kebutuhan

Penetapan kuota 320 taruna dan 30 taruni bukanlah angka sembarang. Asisten Kapolri Bidang Sumber Daya Manusia (As SDM), Inspektur Jenderal Polisi Drs. H. Bambang Sugeng, M.Hum., mengungkapkan bahwa proporsi tersebut diambil berdasarkan hasil Analisis Beban Kerja (ABK) Polri untuk rentang 2026—2030.

"Kami telah memetakan kebutuhan personel di seluruh satuan kerja dan wilayah. Angka ini merupakan kebutuhan riil untuk menjaga keseimbangan organisasi sekaligus mengoptimalkan peran Polwan di masa depan," terangnya.

Lebih lanjut, As SDM Polri menambahkan bahwa kuota bagi taruni ditingkatkan secara bertahap dibanding tahun sebelumnya sebagai wujud komitmen Polri terhadap pengarusutamaan gender di institusi keamanan.

"Tiga puluh kuota ini merupakan afirmasi yang terukur, berdasarkan potensi dan kemampuan nyata para pendaftar perempuan yang mendaftar," imbuhnya.

Komitmen Transparansi dan Akuntabilitas Publik

Seleksi Akpol 2026 didesain dengan pengawasan berlapis untuk menjamin akuntabilitas publik. Tim pengawas internal dari Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri ditempatkan di setiap tahap, sementara pengawas eksternal melibatkan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) serta organisasi masyarakat sipil pemantau rekrutmen. Kepala Biro Pengendalian Personel SSDM Polri, Komisaris Besar Polisi Sri Mulyani, S.I.K., menegaskan bahwa seluruh hasil tes langsung tersimpan dalam sistem terenkripsi yang tidak dapat dimanipulasi.

"Kami pastikan tidak ada intervensi dalam bentuk apa pun. Setiap peserta bisa melihat skor mereka secara real-time setelah ujian. Inilah wujud Polri yang transparan dan akuntabel," tegasnya.

Sebagai informasi, pendaftaran daring Akpol 2026 diikuti oleh lebih dari 12.000 pendaftar dari seluruh provinsi di Indonesia. Hanya mereka yang memenuhi syarat administrasi dan lulus seleksi berkas yang dapat melanjutkan ke tahap berikutnya. Rasio penerimaan terhadap pendaftar menunjukkan tingkat selektivitas yang sangat tinggi dan sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Harapan Pimpinan Polri kepada Generasi Baru

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., menyampaikan pesan khusus kepada 350 calon taruna yang dinyatakan lolos. Dalam amanatnya yang dibacakan oleh As SDM Polri pada acara penutupan seleksi akhir pekan lalu, Kapolri menekankan pentingnya integritas dan semangat pantang menyerah.

"Kalian adalah bibit unggul yang akan mengawal perjalanan Polri menuju institusi yang semakin Presisi—Prediktif, Responsibilitas, Transparansi, dan Berkeadilan. Jaga kepercayaan masyarakat mulai dari sekarang," pesan Kapolri.

Para calon taruna dan taruni akan mengikuti pendidikan dasar kepolisian selama empat tahun di Akademi Kepolisian Semarang, Jawa Tengah. Pendidikan tersebut mencakup tiga semester pembentukan dasar, enam semester pendidikan akademik, dan dua semester masa magang serta pengabdian masyarakat. Mereka dijadwalkan melapor pada awal September 2026 untuk memulai integrasi awal sebelum upacara pembukaan pendidikan resmi. Dengan komposisi baru ini, Polri optimistis mampu memperkuat kapasitas sumber daya manusia di tengah tantangan keamanan nasional dan global yang kian kompleks.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User