Zendaya Dikecam Usai Kenakan Anting Artefak Kuno Iran di Tur The Odyssey
Aktris peraih dua kali Primetime Emmy Award, Zendaya, menjadi pusat kontroversi usai menghadiri pemutaran perdana film garapan sutradara kondang Christopher Nolan, The Odyssey, di Odeon Luxe Leicester...
Aktris peraih dua kali Primetime Emmy Award, Zendaya, menjadi pusat kontroversi usai menghadiri pemutaran perdana film garapan sutradara kondang Christopher Nolan, The Odyssey, di Odeon Luxe Leicester Square, London, pada Minggu malam (5/7/2026). Kritik bermunculan dari para arkeolog, sejarawan, hingga pejabat pemerintah Iran setelah publik mengetahui bahwa anting-anting emas yang dikenakan bintang berusia 29 tahun itu ternyata dibuat menggunakan medali emas kuno dari Iran yang berusia sekitar 3.000 tahun.
Kilau Gaun Dewi dan Strategi Method Dressing
Seperti lazimnya dalam setiap rangkaian tur promosi film, Zendaya kembali bekerja sama dengan penata gaya langganannya, Law Roach. Keduanya dikenal sebagai pelopor tren method dressing di Hollywood—memilih busana yang secara naratif terhubung dengan karakter yang diperankan sang aktris. Di hadapan ratusan lensa kamera, Zendaya tampil memesona dalam balutan gaun putih berpotongan asimetris rancangan rumah mode Jacquemus, dipadukan dengan sepasang sandal bertali halus dari Christian Louboutin. Totalitas penampilannya seketika mengingatkan publik pada figur dewi dalam mitologi Yunani, selaras dengan epik klasik karya Homeros yang diadaptasi Nolan ke layar lebar. Namun, di balik gemerlap karpet merah, sebuah elemen aksesori justru memantik polemik berkepanjangan.
Medali Emas Berusia Tiga Milenium yang Disulap Menjadi Aksesori
Sepasang anting yang dikenakan Zendaya bukan sekadar perhiasan mewah bernilai fantastis. Berdasarkan penelusuran Apaberita, anting tersebut merupakan hasil rancangan desainer perhiasan asal London, Glenn Spiro, yang menggabungkan dua keping medali emas kuno ke dalam tatanan perhiasan modern menggunakan teknik claw setting. Teknik ini memungkinkan artefak tetap utuh tanpa perlu dibor atau dimodifikasi strukturnya. Medali itu sendiri diyakini berasal dari Ziwiye Hoard—sekumpulan temuan bersejarah yang ditemukan di sekitar wilayah Kurdistan, Iran barat, pada pertengahan abad ke-20, dan diperkirakan dibuat antara abad ke-7 hingga awal milenium pertama sebelum Masehi. Kini, perhiasan tersebut menjadi bagian dari koleksi rumah perhiasan butik Barron London yang memang dikenal mengkurasi benda-benda purbakala menjadi aksesori bagi kalangan jet set.
Kecaman dari Arkeolog dan Pemerintah Iran
Begitu gambar penampilan Zendaya beredar di media sosial, gelombang protes langsung mengemuka. Berbagai organisasi nonpemerintah yang bergerak di bidang perlindungan warisan budaya, serta individu-individu dari komunitas akademik, menyuarakan ketidaksetujuan mereka. Dr. Leila Taghizadeh, arkeolog senior dari Departemen Arkeologi Universitas Teheran, dalam wawancara eksklusif dengan Apaberita, menegaskan, "Sangat disayangkan, artefak bernilai sejarah tinggi yang seharusnya menjadi objek studi dan dilestarikan di institusi resmi malah berakhir sebagai pemanis penampilan di atas karpet merah. Ini adalah bentuk dekontekstualisasi warisan budaya yang memprihatinkan."
Tak hanya kalangan akademisi, reaksi keras juga datang dari otoritas resmi Republik Islam Iran. Juru bicara Kementerian Warisan Budaya, Pariwisata, dan Kerajinan Tangan Iran, Hossein Mousavi, menyampaikan pernyataan tertulis yang diterima Apaberita pada Selasa (7/7). "Kami tengah menelusuri jalur hukum yang memungkinkan artefak tersebut keluar dari Iran dan berpindah ke Inggris. Jika terbukti melanggar konvensi internasional terkait perdagangan benda cagar budaya, kami akan menuntut pengembalian segera ke tanah airnya," tegasnya. Iran merupakan negara pihak dalam Konvensi UNESCO 1970 tentang cara-cara pelarangan dan pencegahan impor, ekspor, dan perpindahan kepemilikan gelap benda budaya.
Pembelaan dari Glenn Spiro dan Barron London
Menghadapi kritik yang kian meluas, Glenn Spiro memberikan klarifikasi melalui akun Instagram resminya. Ia menjelaskan bahwa medali emas yang digunakannya berasal dari kolektor pribadi Eropa yang telah mendokumentasikan asal-usul kepemilikan sejak era 1970-an. "Saya hanya seorang perajin yang mencintai sejarah. Dengan teknik claw setting, saya justru melestarikan kondisi asli artefak tanpa mengubah strukturnya sedikit pun. Ini adalah upaya kami menghidupkan kembali keindahan masa lalu agar dapat dinikmati dengan cara yang bertanggung jawab," tulisnya.
Senada dengan Spiro, Direktur Komunikasi Barron London, Victoria Ashford, menegaskan bahwa seluruh koleksi benda kuno milik rumah perhiasan tersebut telah melalui proses uji tuntas (due diligence) yang ketat, termasuk verifikasi legalitas ekspor dan kepemilikan. "Kami bekerja sama dengan firma hukum spesialis warisan budaya untuk memastikan setiap benda memenuhi standar internasional. Tidak ada satu pun artefak dalam koleksi kami yang terdaftar sebagai barang curian atau hilang menurut basis data INTERPOL maupun Art Loss Register," ujarnya kepada Apaberita melalui surat elektronik.
Etika versus Estetika di Panggung Mode Global
Insiden ini kembali memantik wacana yang lebih luas soal batas antara apresiasi seni dan eksploitasi warisan budaya di kancah mode internasional. Pengamat fesyen dan kurator museum Victoria & Albert Museum, Dr. Sarah Cheang, mengingatkan bahwa penggunaan artefak asli dalam penampilan selebritas dapat menormalisasi komodifikasi benda suci dan historis. "Ketika sebuah medali ritual dari milenium pertama Sebelum Masehi diperlakukan setara dengan berlian tambang modern, ada disonansi etis yang mendalam. Publik perlu kritis: siapa yang diuntungkan, dan siapa yang kehilangan hak atas narasi budayanya?" katanya dalam sebuah simposium daring yang diikuti Apaberita, Rabu (8/7).
Hingga berita ini diturunkan, pihak Zendaya dan Law Roach belum memberikan tanggapan resmi. Namun, agenda tur promosi The Odyssey yang akan berlanjut ke New York, Tokyo, dan Athena dalam dua pekan mendatang dipastikan akan tetap dilaksanakan. Publik kini menanti apakah sang aktris akan mengubah strategi berbusananya, atau tetap pada pilihan eksentrik yang mengundang kontroversi.
Comments (0)