Washington D.C./Teheran — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memerintahkan gelombang serangan
Kronologi Perintah Serangan Menurut keterangan resmi Gedung Putih, Trump menginstruksikan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) untuk melancarkan operas
Kronologi Perintah Serangan
Menurut keterangan resmi Gedung Putih, Trump menginstruksikan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) untuk melancarkan operasi ofensif terbaru menyusul laporan intelijen yang menyebutkan adanya peningkatan aktivitas angkatan laut Iran di sekitar Selat Hormuz. Presiden ke-47 AS itu menegaskan bahwa serangan ini merupakan respons langsung terhadap apa yang ia sebut sebagai "tindakan agresif dan melanggar hukum internasional" yang dilakukan oleh pasukan Iran terhadap kapal-kapal komersial dan militer di jalur pelayaran strategis tersebut.
"Saya telah memerintahkan militer kita untuk melancarkan serangan presisi terhadap infrastruktur militer Iran di sepanjang pantai selatan mereka. Ini adalah konsekuensi langsung dari serangan mereka terhadap kapal-kapal kita di Selat Hormuz. Dan biarkan saya perjelas — jika mereka terus melanjutkan aksinya, akan ada sesuatu yang jauh lebih buruk menanti,"
Pernyataan Trump tersebut disampaikan dalam konferensi pers darurat di Ruang Oval, dengan nada bicara yang tegas dan tanpa memberi ruang bagi pertanyaan lanjutan dari awak media yang hadir.
Ledakan Guncang Pesisir Selatan Iran
Media pemerintah Iran, dalam laporan yang dipantau oleh AFP pada Kamis (9/7/2026), mengonfirmasi terjadinya serangkaian ledakan di beberapa titik di sepanjang pantai selatan negara itu. Lokasi-lokasi yang terdampak dilaporkan berada di sekitar fasilitas pelabuhan dan instalasi militer di Provinsi Hormozgan dan Bushehr — dua wilayah yang memiliki nilai strategis tinggi karena berbatasan langsung dengan Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Berdasarkan data awal yang dihimpun, sedikitnya enam titik ledakan terpisah terdeteksi dalam rentang waktu kurang dari dua jam. Sistem pertahanan udara Iran dilaporkan aktif merespons, namun belum ada pernyataan resmi dari otoritas militer Iran mengenai tingkat kerusakan atau jumlah korban jiwa akibat serangan tersebut.
Seorang saksi mata di kota pelabuhan Bandar Abbas menggambarkan situasi kepada media lokal sebagai "menakutkan dan kacau." Ia menuturkan bahwa suara ledakan terdengar sangat keras, diikuti oleh getaran yang terasa hingga radius beberapa kilometer dari pusat kota. Langit malam berubah menjadi jingga selama beberapa menit, ujarnya dengan nada suara bergetar saat diwawancarai melalui sambungan telepon.
Konteks Eskalasi: Akhir dari Gencatan Senjata
Serangan terbaru ini menandai babak baru eskalasi konflik antara Washington dan Teheran yang sebelumnya sempat mereda setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara pada awal tahun 2026. Gencatan senjata tersebut, yang dimediasi oleh Oman dan Uni Eropa, telah berhasil menurunkan tensi militer di kawasan Teluk selama hampir empat bulan. Namun, Trump secara sepihak menyatakan bahwa perjanjian itu "telah mati" pada awal pekan ini, dengan alasan bahwa Iran "gagal mematuhi komitmennya untuk menghentikan pengayaan uranium tingkat tinggi."
Keputusan Trump untuk mengakhiri gencatan senjata dan langsung melanjutkannya dengan serangan militer menuai reaksi keras dari berbagai negara. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan keprihatinan mendalam dan menyerukan kedua belah pihak untuk menahan diri. Sementara itu, harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak 7,2 persen dalam perdagangan pagi hari di pasar Asia, mencapai level tertinggi dalam 18 bulan terakhir.
Respons Iran dan Dinamika Selat Hormuz
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi yang mendetail. Namun, seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran, yang berbicara dengan syarat anonim, menyatakan bahwa "respons yang setimpal dan menghancurkan" sedang dipersiapkan. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui oleh sekitar 21 persen dari total konsumsi minyak global, sehingga setiap gangguan di wilayah ini memiliki implikasi ekonomi dan geopolitik yang sangat luas.
Situasi di lapangan masih sangat cair. CENTCOM mengonfirmasi bahwa operasi militer masih berlangsung dan akan terus dievaluasi berdasarkan perkembangan di medan tempur. Sementara dunia internasional menahan napas, pertanyaan besarnya kini adalah sejauh mana kedua negara bersedia mempertaruhkan stabilitas kawasan dalam konfrontasi yang semakin tidak terprediksi ini.
Comments (0)